MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Monday, July 27, 2026

SOP Kolesistitis Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, Monitoring, dan Kriteria Rujukan


 

SOP Kolesistitis Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, Monitoring, dan Kriteria Rujukan

Kata Kunci SEO Utama: SOP Kolesistitis
Kata Kunci Turunan: SOP kolesistitis akut, SOP radang kandung empedu, tata laksana kolesistitis, nyeri kuadran kanan atas, batu empedu, pelayanan gawat darurat Puskesmas, SOP penyakit saluran empedu.


SOP KOLESISTITIS

1. Pengertian

Kolesistitis adalah peradangan pada kandung empedu yang paling sering disebabkan oleh sumbatan duktus sistikus akibat batu empedu (kolesistitis kalkulus). Lebih jarang, kolesistitis dapat terjadi tanpa batu empedu (kolesistitis akalkulus), terutama pada pasien dengan kondisi kritis.

Kolesistitis akut merupakan keadaan yang memerlukan penanganan medis segera karena dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti empiema kandung empedu, perforasi, sepsis, atau peritonitis.


2. Tujuan

Tujuan Umum

Memberikan pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan sesuai standar dalam diagnosis, stabilisasi awal, tata laksana, monitoring, serta rujukan pasien dengan kolesistitis.

Tujuan Khusus

  • Mengenali tanda dan gejala kolesistitis secara dini.
  • Menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
  • Mengurangi nyeri dan mengatasi infeksi.
  • Mencegah komplikasi.
  • Melakukan rujukan tepat waktu untuk penanganan definitif.

3. Kebijakan

Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:

  • Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Bedah Digestif.
  • Pedoman Tokyo Guidelines mengenai diagnosis dan tata laksana kolesistitis akut.
  • Pedoman World Society of Emergency Surgery untuk penatalaksanaan penyakit batu empedu dan kolesistitis.
  • Pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai pelayanan kegawatdaruratan dan bedah.
  • Rekomendasi Ikatan Ahli Bedah Indonesia.

4. Petugas Pelaksana

  • Dokter.
  • Perawat.
  • Petugas Laboratorium.
  • Tim Instalasi Gawat Darurat.
  • Dokter Spesialis Bedah (di fasilitas rujukan).

5. Indikasi

SOP diterapkan pada pasien dengan:

  • Nyeri perut kanan atas.
  • Demam disertai nyeri perut.
  • Dugaan batu empedu dengan tanda inflamasi.
  • Tanda Murphy positif.
  • Dugaan kolesistitis akut berdasarkan evaluasi klinis.

6. Alat dan Bahan

Alat

  • Tensimeter.
  • Stetoskop.
  • Termometer.
  • Pulse oximeter.
  • Peralatan akses intravena.
  • Peralatan resusitasi.
  • USG abdomen (bila tersedia).

Bahan

  • Cairan infus kristaloid.
  • Analgesik sesuai indikasi.
  • Antiemetik sesuai indikasi.
  • Antibiotik sesuai pedoman klinis dan indikasi.
  • Formulir rekam medis.
  • Formulir rujukan.

7. Prosedur Pelaksanaan

A. Anamnesis

Menanyakan:

  • Lokasi nyeri (kuadran kanan atas atau epigastrium).
  • Awitan dan lama nyeri.
  • Nyeri setelah makan berlemak.
  • Penjalaran nyeri ke bahu kanan atau punggung.
  • Demam.
  • Mual dan muntah.
  • Riwayat batu empedu.
  • Riwayat operasi abdomen.
  • Riwayat penyakit hati atau pankreas.
  • Penyakit penyerta seperti diabetes melitus.

B. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Umum

  • Keadaan umum.
  • Tingkat kesadaran.
  • Tanda vital.

Pemeriksaan Abdomen

Meliputi:

  • Inspeksi abdomen.
  • Auskultasi bising usus.
  • Palpasi kuadran kanan atas.
  • Nyeri tekan kuadran kanan atas.
  • Tanda Murphy positif.
  • Defans muskular bila terdapat iritasi peritoneum.
  • Pemeriksaan hepatomegali bila diperlukan.

8. Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan sesuai fasilitas yang tersedia:

  • Darah lengkap.
  • C-reactive protein (CRP) bila tersedia.
  • Fungsi hati (AST, ALT, bilirubin, ALP, GGT).
  • Amilase dan/atau lipase bila dicurigai pankreatitis.
  • Elektrolit.
  • Fungsi ginjal.
  • USG abdomen sebagai pemeriksaan pencitraan pilihan pertama untuk mendeteksi batu empedu, penebalan dinding kandung empedu, cairan perikolesistik, atau tanda lain yang mendukung diagnosis.
  • CT scan abdomen bila diperlukan di fasilitas rujukan.

9. Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi:

Anamnesis

  • Nyeri kuadran kanan atas.
  • Demam.
  • Mual atau muntah.

Pemeriksaan Fisik

  • Murphy sign positif.
  • Nyeri tekan kuadran kanan atas.

Pemeriksaan Penunjang

  • Leukositosis dan peningkatan penanda inflamasi bila ada.
  • Temuan USG yang konsisten dengan kolesistitis.

10. Tata Laksana

A. Stabilisasi Awal

  • Lakukan penilaian ABCDE bila kondisi gawat.
  • Pasang akses intravena.
  • Berikan cairan intravena sesuai kondisi klinis.
  • Anjurkan pasien puasa (NPO) sampai evaluasi lebih lanjut.
  • Pantau tanda vital secara berkala.

B. Terapi Farmakologis

Terapi diberikan sesuai indikasi klinis dan pedoman nasional, yang dapat meliputi:

  • Analgesik.
  • Antiemetik bila diperlukan.
  • Antibiotik pada kolesistitis akut yang dicurigai atau terbukti disebabkan oleh infeksi bakteri.

C. Tata Laksana Definitif

Terapi definitif umumnya berupa kolesistektomi, terutama pada kolesistitis akut akibat batu empedu. Jenis dan waktu tindakan ditentukan oleh dokter spesialis bedah berdasarkan kondisi pasien dan rekomendasi pedoman yang berlaku.


11. Monitoring dan Evaluasi

Pantau secara berkala:

  • Tekanan darah.
  • Nadi.
  • Frekuensi napas.
  • Suhu tubuh.
  • Intensitas nyeri.
  • Tanda iritasi peritoneum.
  • Respons terhadap terapi.
  • Hasil laboratorium bila dilakukan.

12. Kriteria Rujukan

Pasien dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan bedah apabila:

  • Diduga mengalami kolesistitis akut.
  • Memerlukan pemeriksaan penunjang lanjutan atau tindakan operasi.
  • Nyeri tidak terkontrol.
  • Terdapat tanda sepsis.
  • Dicurigai perforasi kandung empedu.
  • Terdapat ikterus atau dugaan obstruksi saluran empedu.
  • Terjadi komplikasi lain seperti pankreatitis atau kolangitis.

13. Komplikasi

  • Empiema kandung empedu.
  • Gangren kandung empedu.
  • Perforasi kandung empedu.
  • Peritonitis.
  • Sepsis.
  • Abses intraabdomen.
  • Kolangitis.
  • Pankreatitis bilier.

14. Dokumentasi

Petugas wajib mencatat:

  • Identitas pasien.
  • Keluhan utama.
  • Riwayat penyakit.
  • Hasil anamnesis.
  • Hasil pemeriksaan fisik.
  • Hasil pemeriksaan laboratorium dan pencitraan.
  • Diagnosis.
  • Terapi yang diberikan.
  • Monitoring klinis.
  • Edukasi kepada pasien.
  • Waktu dan tujuan rujukan.

Indikator Mutu Pelayanan

  1. Pemeriksaan abdomen lengkap dilakukan pada 100% pasien dengan nyeri kuadran kanan atas.
  2. Pemberian terapi awal sesuai indikasi pada ≥ 95% pasien.
  3. Pemeriksaan USG abdomen dilakukan atau pasien dirujuk untuk USG sesuai indikasi pada ≥ 95% pasien.
  4. Pasien yang memenuhi indikasi dirujuk tepat waktu pada 100% kasus.
  5. Kelengkapan dokumentasi rekam medis ≥ 100%.

Referensi

  • Tokyo Guidelines. Guidelines for the Management of Acute Cholecystitis and Acute Cholangitis.
  • World Society of Emergency Surgery. Guidelines for Acute Calculous Cholecystitis.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Bedah Digestif.
  • Ikatan Ahli Bedah Indonesia. Pedoman Praktik Klinis Bedah Digestif.
  • American College of Gastroenterology. Rekomendasi tata laksana penyakit batu empedu dan kolesistitis.

Meta Description SEO

SOP Kolesistitis terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, diagnosis, pemeriksaan, tanda Murphy, tata laksana awal, terapi, monitoring, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai pedoman Tokyo Guidelines, WSES, ACG, Ikatan Ahli Bedah Indonesia, dan Kementerian Kesehatan RI.

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER