SOP Fraktur Terbuka Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana Awal, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Fraktur Terbuka
Kata Kunci Turunan: SOP open fracture, tata laksana fraktur terbuka, penanganan patah tulang terbuka, pertolongan pertama fraktur terbuka, imobilisasi fraktur, SOP kegawatdaruratan ortopedi, pelayanan gawat darurat Puskesmas.
SOP FRAKTUR TERBUKA
1. Pengertian
Fraktur terbuka (open fracture) adalah patah tulang yang disertai robekan kulit dan jaringan lunak sehingga terdapat hubungan antara lokasi fraktur dengan lingkungan luar. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan ortopedi karena memiliki risiko tinggi terhadap infeksi, perdarahan, kerusakan jaringan lunak, cedera neurovaskular, dan komplikasi lainnya.
Penatalaksanaan awal yang cepat, tepat, dan sesuai prinsip trauma sangat penting untuk meningkatkan luaran klinis pasien.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan penanganan awal fraktur terbuka secara cepat, aman, efektif, dan sesuai standar sebelum pasien mendapatkan penanganan definitif di rumah sakit.
Tujuan Khusus
- Menstabilkan kondisi umum pasien.
- Mengendalikan perdarahan.
- Mencegah kontaminasi luka.
- Mengurangi nyeri.
- Melakukan imobilisasi fraktur.
- Mengidentifikasi cedera penyerta.
- Memfasilitasi rujukan yang cepat dan aman.
3. Kebijakan
Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran bidang Ortopedi.
- Pedoman Penanggulangan Gawat Darurat Trauma.
- Rekomendasi Advanced Trauma Life Support mengenai penatalaksanaan trauma.
- Pedoman tata laksana fraktur terbuka dari American Academy of Orthopaedic Surgeons.
- Standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Perawat
- Tim Instalasi Gawat Darurat
- Petugas Ambulans (untuk proses rujukan)
5. Indikasi
SOP ini diterapkan pada seluruh pasien dengan dugaan atau diagnosis fraktur terbuka akibat:
- Trauma lalu lintas.
- Jatuh.
- Trauma kerja.
- Trauma olahraga.
- Cedera akibat benda tajam atau berat.
- Trauma lainnya yang menyebabkan patah tulang dengan luka terbuka.
6. Alat dan Bahan
Alat
- Tensimeter
- Stetoskop
- Pulse oximeter
- Bidai (splint)
- Gunting perban
- Kasa steril
- Perban elastis
- Tandu
- Peralatan resusitasi
Bahan
- Sarung tangan steril
- Larutan NaCl 0,9%
- Cairan infus
- Antiseptik untuk kulit sekitar luka (bukan pada jaringan yang terbuka secara langsung)
- Balutan steril
- Obat analgetik sesuai indikasi
- Antibiotik dan profilaksis tetanus sesuai pedoman klinis
7. Prosedur Pelaksanaan
A. Penilaian Primer (Primary Survey)
Lakukan pendekatan ABCDE sesuai prinsip penanganan trauma.
Airway (A)
- Pastikan jalan napas terbuka.
- Stabilkan tulang leher bila dicurigai cedera servikal.
Breathing (B)
- Nilai frekuensi dan kualitas pernapasan.
- Berikan oksigen bila diperlukan.
Circulation (C)
- Nilai nadi, tekanan darah, dan tanda syok.
- Kendalikan perdarahan dengan penekanan langsung menggunakan balutan steril.
- Pasang akses intravena bila diindikasikan.
Disability (D)
- Nilai tingkat kesadaran.
- Lakukan pemeriksaan neurologis singkat.
Exposure (E)
- Periksa seluruh tubuh untuk mencari cedera lain.
- Jaga suhu tubuh pasien agar tetap hangat.
B. Penilaian Sekunder
Melakukan anamnesis singkat meliputi:
- Mekanisme trauma.
- Waktu kejadian.
- Riwayat penyakit.
- Riwayat alergi.
- Penggunaan obat.
- Status imunisasi tetanus.
C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Luka
Menilai:
- Lokasi fraktur.
- Ukuran luka.
- Kontaminasi luka.
- Paparan tulang.
- Perdarahan.
Pemeriksaan Neurovaskular
Menilai:
- Nadi distal.
- Warna kulit.
- Suhu ekstremitas.
- Waktu pengisian kapiler.
- Sensasi.
- Fungsi motorik.
8. Tata Laksana
A. Pengendalian Perdarahan
- Lakukan penekanan langsung dengan kasa steril.
- Hindari penjepitan pembuluh darah secara sembarangan.
- Torniket hanya digunakan bila terdapat indikasi khusus dan sesuai prosedur.
B. Perlindungan Luka
- Tutup luka menggunakan balutan steril yang lembap dengan larutan NaCl 0,9% bila diperlukan.
- Jangan melakukan eksplorasi luka secara rutin di fasilitas pelayanan primer.
- Jangan memasukkan kembali fragmen tulang yang menonjol.
C. Imobilisasi
- Lakukan imobilisasi menggunakan bidai yang sesuai.
- Imobilisasi mencakup sendi di atas dan di bawah lokasi fraktur.
- Hindari manipulasi berlebihan pada ekstremitas yang cedera.
D. Analgesia
Berikan obat pereda nyeri sesuai kondisi klinis dan pedoman yang berlaku.
E. Antibiotik dan Profilaksis Tetanus
Pemberian antibiotik empiris dan profilaksis tetanus dilakukan sesuai indikasi klinis, status imunisasi pasien, derajat kontaminasi luka, serta pedoman nasional yang berlaku.
9. Pemeriksaan Penunjang
Bila tersedia dan tidak menunda rujukan:
- Foto rontgen minimal dua proyeksi yang mencakup sendi di atas dan di bawah lokasi fraktur.
- Pemeriksaan laboratorium sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan penunjang tidak boleh menunda stabilisasi maupun rujukan.
10. Monitoring dan Evaluasi
Lakukan pemantauan terhadap:
- Tanda vital.
- Perdarahan.
- Nyeri.
- Status neurovaskular distal.
- Respons terhadap terapi.
- Tanda syok.
11. Kriteria Rujukan
Seluruh pasien dengan fraktur terbuka harus dirujuk segera ke rumah sakit yang memiliki layanan bedah ortopedi atau bedah trauma setelah kondisi awal stabil.
Rujukan dilakukan setelah:
- Jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi stabil.
- Perdarahan terkendali.
- Luka telah ditutup dengan balutan steril.
- Fraktur telah diimobilisasi.
- Nyeri telah ditangani.
- Dokumentasi lengkap disertakan.
12. Komplikasi
- Infeksi luka.
- Osteomielitis.
- Syok hipovolemik.
- Cedera saraf.
- Cedera pembuluh darah.
- Sindrom kompartemen.
- Delayed union.
- Malunion.
- Nonunion.
- Disabilitas permanen.
- Sepsis.
13. Dokumentasi
Petugas wajib mencatat:
- Identitas pasien.
- Mekanisme trauma.
- Waktu kejadian.
- Lokasi fraktur.
- Hasil pemeriksaan neurovaskular.
- Kondisi luka.
- Tindakan yang dilakukan.
- Imobilisasi yang diberikan.
- Terapi yang diberikan.
- Status imunisasi tetanus (bila diketahui).
- Waktu dan tujuan rujukan.
Indikator Mutu Pelayanan
- Penilaian ABCDE dilakukan pada 100% pasien trauma.
- Imobilisasi fraktur sebelum rujukan pada 100% pasien.
- Balutan steril diberikan pada 100% fraktur terbuka.
- Pemeriksaan status neurovaskular terdokumentasi pada 100% pasien.
- Rujukan dilakukan segera setelah stabilisasi awal pada 100% kasus.
Referensi
- Advanced Trauma Life Support. Advanced Trauma Life Support Student Course Manual. Edisi terbaru.
- American Academy of Orthopaedic Surgeons. Management of Open Fractures.
- British Orthopaedic Association. Open Fracture Management Standards.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Kegawatdaruratan dan Pelayanan Ortopedi.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia. Rekomendasi Penatalaksanaan Fraktur Terbuka.
Meta Description SEO:
SOP Fraktur Terbuka terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, penilaian ABCDE, tata laksana awal, pengendalian perdarahan, imobilisasi, antibiotik, profilaksis tetanus, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai pedoman ATLS dan ortopedi terkini.

No comments:
Post a Comment