SOP Delirium Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Delirium
Kata Kunci Turunan: SOP delirium, tata laksana delirium, gangguan kesadaran akut, diagnosis delirium, penanganan delirium di Puskesmas, delirium pada lansia, pelayanan kesehatan jiwa, SOP gangguan mental organik.
SOP DELIRIUM
1. Pengertian
Delirium adalah sindrom neuropsikiatri akut yang ditandai oleh gangguan perhatian, kesadaran, orientasi, kognitif, dan persepsi yang berkembang dalam waktu singkat (jam hingga hari), bersifat fluktuatif, serta umumnya disebabkan oleh kondisi medis, gangguan metabolik, infeksi, efek obat, atau penyebab organik lainnya.
Delirium merupakan keadaan kegawatdaruratan medis yang memerlukan identifikasi dan penanganan penyebab secara cepat untuk mencegah komplikasi dan kematian.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan efektif pada pasien dengan delirium.
Tujuan Khusus
- Mengenali delirium secara dini.
- Mengidentifikasi penyebab yang mendasari.
- Menstabilkan kondisi pasien.
- Mencegah cedera pada pasien maupun orang lain.
- Menentukan kebutuhan rujukan secara tepat.
3. Kebijakan
Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kesehatan Jiwa.
- Pedoman pelayanan kedokteran geriatri.
- Klasifikasi penyakit dan gangguan mental terbaru.
- Standar pelayanan kesehatan primer dan rumah sakit.
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Perawat
- Psikolog Klinis (bila tersedia)
- Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
- Petugas Rekam Medis
5. Alat dan Bahan
- Tensimeter
- Termometer
- Stetoskop
- Pulse oximeter
- Glukometer
- Formulir rekam medis
- Lembar observasi status mental
6. Prosedur Pelaksanaan
A. Anamnesis
Dilakukan kepada pasien dan keluarga bila memungkinkan.
Menanyakan:
- Awitan gejala yang mendadak.
- Perubahan perilaku.
- Kebingungan akut.
- Gangguan tidur.
- Halusinasi.
- Riwayat penyakit sebelumnya.
- Riwayat infeksi.
- Riwayat trauma kepala.
- Riwayat penggunaan obat-obatan.
- Riwayat konsumsi alkohol atau zat tertentu.
B. Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan:
Keadaan Umum
- Kesadaran.
- Tanda vital.
- Status hidrasi.
Pemeriksaan Neurologis
- Orientasi waktu, tempat, dan orang.
- Fungsi motorik.
- Refleks neurologis.
- Tanda fokal neurologis.
Pemeriksaan Status Mental
Menilai:
- Tingkat perhatian.
- Konsentrasi.
- Daya ingat.
- Proses pikir.
- Persepsi.
- Perilaku.
7. Penegakan Diagnosis
Diagnosis delirium ditegakkan apabila ditemukan:
Gangguan Perhatian
- Sulit memusatkan perhatian.
- Mudah teralihkan.
Gangguan Kesadaran
- Penurunan kewaspadaan.
- Disorientasi.
Perubahan Kognitif
- Gangguan memori.
- Gangguan bahasa.
- Gangguan persepsi.
Awitan Akut dan Fluktuatif
- Terjadi dalam jam atau hari.
- Gejala berubah sepanjang hari.
8. Identifikasi Penyebab
Petugas wajib mencari kemungkinan penyebab:
Infeksi
- Pneumonia.
- Infeksi saluran kemih.
- Sepsis.
Gangguan Metabolik
- Hipoglikemia.
- Hiperglikemia.
- Gangguan elektrolit.
Gangguan Neurologis
- Stroke.
- Trauma kepala.
- Kejang.
Obat dan Zat
- Efek samping obat.
- Intoksikasi.
- Putus zat (withdrawal).
Penyebab Lain
- Dehidrasi.
- Hipoksia.
- Nyeri berat.
9. Tata Laksana
A. Stabilisasi Awal
- Menjamin jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.
- Memeriksa kadar glukosa darah bila tersedia.
- Mengoreksi gangguan yang mengancam nyawa.
- Mengatasi penyebab yang ditemukan.
B. Tata Laksana Non Farmakologis
- Menempatkan pasien pada lingkungan yang tenang.
- Memberikan pencahayaan yang cukup.
- Menjaga orientasi pasien terhadap waktu dan tempat.
- Melibatkan keluarga dalam pendampingan.
- Mengurangi rangsangan berlebihan.
- Memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi.
C. Tata Laksana Farmakologis
Pemberian obat hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis dan evaluasi dokter, terutama apabila:
- Pasien sangat gelisah.
- Membahayakan diri sendiri.
- Membahayakan orang lain.
- Mengganggu tindakan medis yang diperlukan.
Pemilihan obat harus mempertimbangkan usia pasien, kondisi medis, dan risiko efek samping.
10. Monitoring dan Evaluasi
Dilakukan pemantauan:
- Tingkat kesadaran.
- Tanda vital.
- Perubahan perilaku.
- Status orientasi.
- Respons terhadap terapi.
- Perkembangan penyebab yang mendasari.
11. Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk ke rumah sakit apabila:
- Penyebab belum diketahui.
- Terdapat gangguan neurologis akut.
- Diduga stroke.
- Diduga sepsis.
- Membutuhkan pemeriksaan penunjang lanjutan.
- Membutuhkan perawatan intensif.
- Delirium berat atau persisten.
- Terjadi komplikasi medis.
12. Komplikasi
- Cedera akibat jatuh.
- Aspirasi.
- Malnutrisi.
- Dehidrasi.
- Perburukan penyakit dasar.
- Penurunan fungsi kognitif.
- Kematian pada kasus berat.
13. Dokumentasi
Petugas wajib mencatat:
- Identitas pasien.
- Keluhan utama.
- Hasil anamnesis.
- Hasil pemeriksaan fisik.
- Status mental.
- Diagnosis.
- Faktor penyebab.
- Terapi yang diberikan.
- Hasil monitoring.
- Keputusan rujukan.
Indikator Mutu Pelayanan
- Ketepatan identifikasi delirium ≥ 90%.
- Skrining penyebab delirium ≥ 95%.
- Kelengkapan dokumentasi rekam medis ≥ 100%.
- Ketepatan rujukan kasus berat ≥ 100%.
- Monitoring pasien sesuai standar ≥ 95%.
Referensi
- World Health Organization Pedoman gangguan mental dan neurologis.
- American Psychiatric Association Pedoman diagnosis dan tata laksana delirium.
- National Institute for Health and Care Excellence Pedoman pencegahan, diagnosis, dan tata laksana delirium.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pedoman pelayanan kesehatan jiwa dan geriatri.
Meta Description SEO:
SOP Delirium terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, diagnosis, identifikasi penyebab, tata laksana, monitoring, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai standar pelayanan kesehatan terkini.

No comments:
Post a Comment