PELAKSANAAN
SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
BALUASE KABUPATEN SIGI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan
merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah telah
secara bersungguh-sungguh dan terus menerus berupaya untuk meningkatkan
kualitas dan jangkauan pelayanan baik yang bersifat promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI 1999)
Sejak Tahun 2001 yang
merupakan awal dari pelaksanaan otonomi daerah, Departemen Kesehatan mulai
menata kembali Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) yang telah ada
sebelumnya. Namun, hingga saat ini belum dapat berkembang secara maksimal
karena terdapatnya beberapa hambatan-hambatan klasik. Hambatan-hambatan
tersebut seperti kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), Sarana dan Prasarana yang
kurang memadai di banyak daerah, dukungan dari pemerintah daerah yang masih
kurang dan masih banyak lagi masalah teknis lainnya
Beberapa kelemahan
dalam pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional yaitu :
Sistem Informasi
Kesehatan yang masih terfragmentasi,Sebagian besar daerah belum memiliki
kemampuan yang memadai dalam menghadapi implementasi Sistem Informasi
Kesehatan, Pemanfaatan data dan informasi oleh manajemen belum
optimal,Pemanfaatan data dan informasi kesehatan oleh masyarakat kurang
dikembangkan,Pemanfaatan teknologi telematika belum optimal,Dana untuk
pengembangan Sistem Informasi Kesehatan terbatas,Kurangnya tenaga purna waktu
untuk Sistem Informasi Kesehatan.(Depkes RI 1999)
Memperhatikan hal
tersebut, maka Sistem Informasi Kesehatan seharusnya dikembangkan terus menerus
dan secara berkelanjutan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah
menindaklanjuti dengan mengeluarkan Kepmenkes Nomor : 837 tahun 2007 tentang
”Pengembangan Jaringan Komputer Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)
Online”. Siknas Online merupakan salah satu cara untuk mempermudah penerapan
Kebijakan Data Satu Pintu, sehingga Daerah diharapkan dapat memenuhi unsur
kecepatan dan keakuratan data.(Alamsyah 2010)
Seiring dengan
kebutuhan data dan informasi di tingkat puskesmas, Departemen Kesehatan RI
telah melakukan kebijakan melalui Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)
dimana sumber utamanya adalah SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas). Namun dalam pelaksanaannya menurut kajian Depkes RI, data SP2TP
yang dimaksud belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh karena berbagai hal
yang berkaitan dengan rancangan sistem tersebut.(Tiara 2008)
Puskesmas sebagai
pusat pelayanan kesehatan dasar, pusat penggerak, dan pusat pemberdayaan
masyarakat harus dapat didayagunakan seefektif mungkin. Hal ini bertujuan agar
sistem informasi kesehatan dapat berjalan dengan baik. Secara operasional,
puskesmas merupakan unit penghasil data primer tentang kesehatan masyarakat
yang penting. Oleh karena itu, tatanan sistem informasi kesehatan harus
dibangun dari puskesmas sehingga sistem informasi kesehatan tersebut dapat
terintegrasi dengan semua level organisasi pelayanan kesehatan.(Depkes RI 2004)
Di Sulawesi Tengah
masih sering terjadi perbedaan data yang berasal dari Pengelolah SP2TP dan
Pengelolah Program di Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hingga ke Dinas
Kesehatan Provinsi. Sehingga dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
program menggunakan datanya sendiri, praktis data profil yang berasal dari
SP2TP tidak dimanfaatkan oleh Program. Sementara pengguna data lintas sektor
seperti Perguruan Tinggi, LSM dan lain-lain menggunakan data Profil yang
berasal dari SP2TP, Model seperti ini akan menimbulkan masalah di kemudian hari
ketika pengguna akan memanfaatkan data tersebut akan berbenturan dengan data
program yang berbeda. Masalah lain yang timbul ditingkat pengambil kebijakan
atau pimpinan yang menyandarkan keputusannya pada data Profil Kesehatan akan
mengambil kebijakan yang berbeda dengan kebutuhan program (depkes RI 2004)
Dalam pelaksanaannya,
SP2TP masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara
masyarakat dengan fasilitas kesehatan (PUSKESMAS, Puskesmas Pembantu, Puskesmas
Keliling, Bidan di desa dan Posyandu). Hal tersebut belum cukup untuk menggambarkan
keadaan dan masalah kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas/kecamatan.
Seharusnya data atau informasi dari SP2TP harus dikonfirmasi dan dipadukan
dengan data/informasi lainnya di kecamatan, bahkan dengan data yang bersifat
“community based” (misalnya sensus, survey, studi) sehingga dapat dimanfaatkan
untuk pengambilan keputusan pada berbagai jenjang administrasi
kesehatan.(Depkes RI 1999)
Di puskesmas, sistem
pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) telah di berlakukan sejak
tahun 1981, SP2TP secara potensial dapat berperan banyak dalam menunjang
manajemen puskesmas. Namun berbagai data SP2TP yang tersedia untuk menunjang
manajemen puskesmas belum dapat di manfaatkan secara optimal oleh karna
berbagai hal yang berkaitan dengan rancangan sistem tersebut. Disamping itu
kapasitas, sumber daya terbatas di puskesmas baik dari segi manusia maupun
sarana pendukungnya, dengan demikian belum memanfaatkan data SP2TP secara
optimal dan informasi lainnya dalam menunjang manajemen Puskesmas. Untuk
mengatasi masalah ini telah di lakukan berbagai upaya kearah penyederhanaan
SP2TP yang lebih sesuai dengan kebutuhan manajemen di tingkat oprasional.
(Depkes RI 1999)
Secara teknologi alat
pengolah data berkembang maju, mulai dari mesin manual, sampai ke komputer,
maka semua bidang pekerjaan yang ada dalam organisasi berkembang ke arah
pengukuran dengan bantuan alat pengolah data yang canggih. Harga peralatan
pengolah data itupun makin lama makin terjangkau oleh kemampuan organisasi,
sehingga setiap unit kerja suda dapat memiliki alat pengolah itu sendiri.
Pengolahan data yang rumit dan memerlukan kapasitas alat pengolah ( komputer )
yang besar yang tidak dapat di kerjakan oleh suatu unit kerja, dapat di
serahkan pengerjaannya pada unit pengolah data sentral yang umumnya di sebut
EDP ( Electronic Data processing ) yang berfungsi membantu mengolah data unit –
unit kerja atau menyediakan informasi yang di perlukan organisasi secara
keseluruhan. ( Amsyah, 2000)
Dengan di
sederhanakannya sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas ( SP2TP )
mulai tahun 1996, diharapkan data/informasi yang di laporkan oleh Puskesmas
dapat lebih akurat, berkesinambungan dan tepat waktu. Demikian juga dorongan
bagi petugas Puskesmas dan manajemen kesehatan dapat lebih meningkat. Di
samping itu dengan berkurangnya beban kerja dalam pencatatan dan pelaporan
diharapkan para petugas puskesmas dapat lebih mencurahkan perhatiannya dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang lebih luas dan mutu yang
memadai (Depkes RI; pedoman sistem informasi manajemen puskesmas 1997).
Puskesmas Baluase
Kecamatan Dolo Selatan mempunyai luas wilayah 69,7 km, yang secara
adiminstratif terdiri dari 11 desa dan 41 dusun dengan jumlah penduduk 16037
jiwa. Secara Geografis wilayah Puskesmas Baluase terdiri dari daratan sehingga
arus transportasi dan komunikasi relative mudah di jangkau Sistempencatatan dan
pelaporan di Puskesmas Baluase yang di kirim ke kabupaten sebulan sekali dengan
menggunakan sistem manual.
Berdasarkan observasi
yang di lakukan di temukan beberapa masalah yang menyangkut tentang pelaksanaan
Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas antara lain. Masih belum
sempurnanya Pelaksanaan Sistem Pencatatan Dan Pelapora Terpadu Puskesmas (SP2TP)
di Puskesmas Baluase Kab. Sigi
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka perumusan masalah dapat di kemukakan yaitu :
1. Bagaimana
pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas pada Puskesmas
Baluase Kabupaten Sigi.
2. Apa faktor - faktor
yang mempengaruhi (faktor pendukung dan Penghambat) di dalam Pelaksanaan Sistem
Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Puskesmas Baluase.
C. Tujuan Penelitian
Diketahuinya bagaimana
pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas di Puskesmas
Baluase Kabupaten Sigi, Serta faktor Pendukung dan penghambatnya
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas
Kesehatan
Dapat menjadi masukan
bagi para pengelola data dan para pengambil keputusan baik di tingkat puskesmas
dan di Kabupaten Karimun dalam upaya pengembangan dan pelaksanaaan dari sistem
pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas di Kabupaten Karimun.
2. Bagi Puskesmas
Sebagai masukan atau
input bagi Puskesmas Baluase dalam sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas
Baluase
3. Bagi Peneliti
Untuk memperoleh
pengetahuan dan pengalaman dan dapat dijadikan sebagai dasar penelitian
selanjutnya
4. Bagi Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya
Dapat digunakan
sebagai referensi pustaka dan dapat menambah ilmu di bidang sistem informasi
kesehatan, khususnya sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Sistem
Istilah sistem berasal
dari bahasa yunani “systema” yang mempunyai pengertian demikian :
1. Suatu keseluruhan
yang tersusun dari sekian banyak bagian (“whole compounded of several parts”
–Shrode dan Voch, 1974:115).
2. Hubungan yang
berlangsung diantara satuan satuan atau komponen secara teratur (“an organized,
functioning relationsip among units or components”—Awad, 1979:4)
Jadi, dengan kata lain
istilah “systema” itu mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang
saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan (a whole)
Dengan berkembangnya
pemakaian metode pendekatan sistem dalam pengelolahan berbagai kegiatan yang
dimulai di era 1990-an, maka pekerjaan pengolahan informasi diperkantoran dan
di berbagai organisasipun berkembang ke dalam metode pendekatan sistem.
Dalam menyelesaikan
pekerjaannya setiap unit kerja akan bekerja sama dengan unit-unit yang lainnya
dengan menggunakan prosedur tertentu. Prosedur tersebut akan mengatur kerja
sama unit dalam (pendekatan) sistem. Prosedur ini adalah aturan bermain, atura bekerja
sama, sehingga unit-unit dalam system, sub sistem, sub-sistem dapat
berinteraksi satu sama lain secara efisien dan efektif.(Aqil et al. 2009).
Penggunaan pendekatan
sistem dalam pekerjaan informasi atau pekerjaan lainnya adalah untuk memudahkan
pengelolah terhadap objek bersangkutan agar dapat mencapai tujuan secara
efektif dan efisien. Apalagi bila dikaitkan dengan adanya kegiatan analisis dan
desain sehubungan dengan bentuk-bentuk pengolahan yang akan dipergunakan.
Terlihat bahwa di kantor terjadi pekerjaan informasi. Sedang di beberapa unsur
kegiatan lainnya, terjadi pekerjaan fisik bergabung dengan pekerjaan informasi.
Karena itu berkembanglah pekerjaan sistem informasi di setiap unit kerja atau
beberapa unsur kantor atau organisasi. Makin disadari bahwa pekerjaan informasi
itu adalah pekerjaan yang saling berhubungan dan ketergantungan baik dalam
sistemnya sendiri maupun dengan sistem - sistem yang lain. Apa yang terjadi
pada satu unit atau unsur pasti akan mempengaruhi unit lain. Bahkan dalam skala
yang lebih besar, apa yang terjadi pada satu organisasi dapat mempengaruhi
organisasi lain. Itulah konsep dasar dari timbulnya teori pendekatan sistem.
Konsep ini sebagai satu organisasi, agar lalulintas informasi dan penyediaan
informasi dapat berjalan lancar bagi kepentingan organisasi secara
keseluruhan.(fery 2006)
B. Sistem Informasi Kesehatan
Sistem informasi
kesehatan merupakan bagian fungsional sistem kesehatan secara komprehensif,
yang memberikan pelayanan kesehatan secara merata, terpadu, yang meliputi
pelayanan kuratif, rehabilitatif; preventif dan promotif. Sistem informasi
kesehatan harus dapat menghasilkan informasi yang diperlukan untuk pengambilan
keputusan diberbagai tingkatan administrasi pelayanan kesehatan.
Pengembangan sistem
informasi yang diterapkan oleh Pusat Data dan informasi Departemen Kesehatan RI
adalah jaringan yang berbasis online mulai dari pusat sampai kabupaten dengan
harapan muatan data yang dicatat dan dilaporkan dari tingkat Puskesmas dan jaringannya
disesuaikan dengan kebutuhan di tingkat Puskesmas dan kabupaten/kota.
C. Tinjauan Tentang
Pencatatan
Pencatatan adalah
proses dalam mencatat kegiatan pokok puskesmas baik yang di lakukan di dalam
gedung maupun di luar gedung puskesmas, puskesmas tempat tidur, dan puskesmas
pembantu serta bidan di desa harus di catat. Dengan demikian perlu adanya
mekanisme pencatatan yang baik, formulir yang cukup serta cara isian yang benar
dan di teliti.
D. Tinjauan Tentang
Pelaporan
Pelaporan adalah suatu
proses atau cara dalam melaporkan data tentang sistem pencatatan terpadu
puskesmas. Pelaporan terpadu puskesmas ini menggunakan tahun kalender yaitu
dari bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama sesuai dengan
Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat No:590/BM/DJ/V/96
diberlakukan formulir laporan yang baru. Sedangkan untuk kebutuhan Dati I dan
Dati II di berikan kesempatan untuk mengembangkan variabel laporan sesuai
dengan kebutuhan ,dengan memperhatikan kemampuan/ beban kerja petugas
Puskesmas.
E. Tinjauan Tentang
Terpadu
Terpadu adalah sebagai
gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan Kesehatan Puskesmas yang tidak
tumpang tindih, sehingga dapat menghindarkan pencatatan dan pelaporan lain,
yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas.
F. Tinjauan Umum
Tentang SP2TP
1. Definisi
SP2TP adalah tata cara
pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengolahan puskesmas, meliputi
keadaan fisik, tenaga, sarana, kegiatan pokok yang dilakukan, dan hasil yang
dicapai oleh Puskesmas.
Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum,
sarana, tenaga dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang ditetapkan
melalui SK MENKES/SK/II/1981. Data SP2PT berupa Umum dan demografi, Ketenagaan,
Sarana, Kegiatan pokok Puskesmas. Menurut Yusran (2008) Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan
puskesmas secara menyeluruh (terpadu) dengan konsep wilayah kerja puskesmas.
Sistem pelaporan ini ini diharapkan mampu memberikan informasi baik bagi
puskesmas maupun untuk jenjang administrasi yang lebih tinggi, guna mendukung
manajemen kesehatan (Tiara, 2011).
Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas merupakan sumber pengumpulan data dan informasi
ditingkat puskesmas. Segala data dan informasi baik faktor utama dan tenaga
pendukung lain yang menyangkut puskesmas untuk dikirim ke pusat serta sebagai
bahan laporan untuk kebutuhan. Menurut Bukhari Lapau (1989) data yang dikumpul
oleh puskesmas dan dirangkum kelengkapan dan kebenaranya. Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) ialah laporan yang dibuat semua puskesmas
pembantu, posyandu, puskesmas keliling bidan-bidan desa dan lain-lain yang
termasuk dalam wilayah kerja puskesmas (Syaer, 2011).
Berdasarkan keputusan
Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat nomor 590/BM/DJ/lnfoA//1996
tentang Penyederhanaan SP2TP, formulir laporan telah disederhanakan dalam upaya
untuk mengurangi beban kerja bagi petugas Puskesmas, jadi diharapkan tidak adanya
laporan lain dari Puskesmas selain SP2TP, dan data/variabel yang dilaporkan
tersedia dalam formulir pencatatan. Dengan demikian data/variabel yang
dilaporkan diharapkan dapat dipercaya serta dapat diterima tepat waktu (Depkes
Rl 1997). Adapun format pelaporan yang tersedia di dalam SP2TP meliputi:
1. Laporan Puskesmas
bulanan, meliputi jenis pelaporan sebagai berikut:
a) Laporan bulanan
data kesakitan (LB-1).
b) Laporan bulanan
obat-obatan (LB-2) atau LPLPO.
c) Laporan bulanan
gizi, KIA, Imunisasi, dan pengamatan penyakit menular (LB-3).
2. Laporan bulanan
kegiatan Puskesmas meliputi kunjungan Puskesmas, rawat tinggal, perawatan
kesehatan masyarakat, pelayanan medik dasar, kesehatan gigi, pelayanan JPKM,
kesehatan sekolah, kesehatan olahraga, PKM, kesehatan lingkungan dan
laboratorium (LB-4).
Laporan Puskesmas
bulanan sentinel, meliputi jenis pelaporan sebagai berikut:
a) Laporan bulanan
sentinel penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, Ispa dan Diare (LB-1S).
b) Laporan bulanan
sentinel KIA, gizi, dan penyakit akibat kerja (LB-2S), laporan bulanan ini
dibuat oleh Puskesmas dengan rawat tinggal.
Untuk memperoleh data
kegiatan di dalam dan di luar gedung Puskesmas, Puskesmas rawat inap dan
Puskesmas pembantu serta bidan di desa diperlukan mekanisme pencatatan yang
baik, formulir yang memadai disertai petunjuk pengisian yang lengkap.
Pada prinsipnya pasien
yang berkunjung pertama kali atau kunjungan ulang ke Puskesmas harus melalui
loket untuk mendapatkan kartu pengenal. Oleh pelaksana loket, pasien tersebut
disalurkan pada unit pelayanan yang dituju. Apabila pasien mendapat pelayanan
di luar gedung Puskesmas, maka pasien akan dicatat dalam register yang sesuai
dengan jenis yang diterima.
1. Proses SP2TP
Menurut Aqil et al.
(2009) dan Lippeveld et al. (2000) untuk proses yang terdiri dari pengumpulan
data (data collection), pengiriman data (data transmission), pengolahan data
(data processing), analisis data (data analysis), penyajian data (data display),
kualitas pengecekan data (data quality checking) dan umpan balik (feedback).
Menurut Lippeveld et al. (2000) komponen- komponen dalam proses sistem
informasi kesehatan tersebut merupakan suatu siklus yang terus menerus yang
memberntuk suatu aliran. Seperti nampak dalam gambar 2.1 alur siklus dari
komponen sistem informasi kesehatan.
Gambar 2.1 Alur Komponen Sistem Informasi Kesehatan Sumber:
Lippeveldet al. (2000)
Dalam tahapan proses
sistem informasi kesehatan tersebut diperlukan adanya pengawasan terhadap
data-data yang meliputi pengumpulan data, pengiriman data, analisis data,
penyajian data, kualitas pengecekan data. Pengawasan sebagai satu proses untuk
menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengkoreksinya
perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.
Pengawasan sebaiknya dilakukan bertingkat atau tidak langsung dimana pengawasan
hanya dilakukan meneliti kegiatan dari kepala bagian, dan kepala bagian
mengadakan pengawasan terhadap para bawahan. Disamping itu pengawasan secara
langsung diadakan yaitu dengan meneliti pelaksanaan pekerjaan dari bawahan pada
saat ia melakukan pekerjaan (Thoha, 2004).
Pelaksanaan pengawasan
ini pada prakteknya membawa manfaat yang sangat berguna sebab jika
pelaksanaannya yang dilakukan bawahan menyimpang dari apa yang telah ditetapkan
semula dengan segera dapat di atasi dengan mengadakan teguran secara langsung
dan segera dapat diambil perbaikan. Dari pelaksanaan pengawasan yang dilakukan
oleh tingkat pimpinan maka pengawasan yang dilakukan kepala bagian yang paling
efektif dan efisien serta merupakan suatu dasar baik tidaknya suatu pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan dalam organisasi.
G. Landasan Teori
1. Pencatatan
Pencatatan adalah
suatu urutan ketiga klerikal biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu
departemen atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam
terhadap transaksi perusahaan yang terjadi berulang ulang (Mulyadi 2008).
Pencatatan adalah
pembuatan suatu catatan pembukuan, kronologis, kejadian yang terjadi, terukur
melalui suatu cara yang sistematis dan teratur.
2. Pelaporan
merupakan cara
komunikasi petugas kesehaytan yang dapat dilakukan secara tertulis dan lisan
tentang hasil suatu kegiatan yang telah dilaksanakan
3. Pencatatan Dan
Pelaporan
Pencatatan dan
pelaporan adalah mengkomunikasikann secara tertulis kepada tim kesehatan atau
data epidemologi secara teratur (KRON dan GRAY).
Pencatatan dan
pelaporan adalah dokumen formal dan legal yang dibuat secara tertulis tentang
data data kesehatan (KOZIER dan ERB).
a). Pencatatan dan
pelaporan Merupakan :
1) Suatu kegiatan
mencatat dengan berbagai alat/media tentang data kesehatan yang diperlukan
sehingga terwujud tulisan yang bisa dibaca dan dipahami isinya.
2) Salah satu kegiatan
adiminstrasi kesehatan yang harus dikerjakan dan di pertanggung jawabkan oleh
petugas kesehatan.
3) Kumpulan informasi
kegiatan upaya pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai alat/sarana
komunikasi yang penting antar petugas kesehatan.
4. Puskesmas
Puskesmas adalah satu
kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan
masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan
peranan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok (Azwar. 1990;Efendy. 1998).
Pengertian puskesmas
secara umum disini adalah unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan kabupaten
yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar
memperoleh derajat kesehatan yang optimal (KEPMENKES RI, 2004).
Puskesmas dapat
dibangun dari peningkatan Puskesmas Pembantu atau benar benar membentuk
Puskesmas baru. Pembangunan puskesmas ditujukan untuk peningkatan jangkauan
pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. Pembangunan baru
puskesmas tersebutsatu paket termaksud penyediaan alat kesehatan dan non
kesehatan serta rumah dinas petugas Puskesmas (Depkes RI, 2009)
H. Kerangka Pikir
Dalam era pembangunan,
keberadaan data informasi memegang peran yang sangat penting, data benar benar
akurat, terpercaya, teratur, berkesinambungan, tepat waktu dan mutakhir, sangat
di perlukan dalam pengolahan program dan proyek serta kegiatan yang dilakukan
untuk dapat merencanakan dan memantau serta mengevaluasi pelaksanaan program
dengan baik, sangat di perlukan tersedianya seperangkat data informasi yang
baik pula.
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Gambar 2.2 Kerangka konsep penelitian
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini
adalah penelitian Studi kasus dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakan
metode kualitatif, Menurut Utarini (2005), metode deskriptif dapat diartikan
sebagai prosedur pemahaman masalah yang diselidiki dengan cara menggambarkan atau
menyajikan deskripsi lengkap dari suatu fenomena yang diamati dalam konteks
yang nyata.
Selanjutnya Patton
(1991) menyatakan bahwa pemilihan metode kualitatif digunakan dengan
pertimbangan bahwa metode kualitatif mengizinkan evaluator mempelajari isu-
isu, kasus-kasus, atau kejadian-kejadian terpilih secara mendalam dan rinci.
Adapun kelebihan metode kualitatif yaitu mampu menghasilkan data yang lebih
rinci tentang orang dan kasus. Data kualitatif menyediakan kedalaman dan
kerincian melalui pengutipan secara langsung dan deskripsi yang teliti tentang
situasi program, kejadian, orang, interaksi, dan perilaku yang teramati. Dalam
metode kualitatif, terdapat tiga cara yang biasa digunakan untuk pengumpulan
data, yaitu dengan cara wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi (Patton,
1991; Yin, 2006).
B. Waktu Dan Lokasi Penelitian
1. Waktu penelitian
Penelitian tentang
SP2TP ini akan dilaksanakan pada minggu ke 3 di bulan Agustus tahun 2014
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan
dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Baluase Kec. Dolo Selatan Kab. Sigi
C. Variabel dan Konsep Oprasional
Variabel yang akan di
teliti dalam penelitian ini meliputi pelaksanaan Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Puskesmas (SP2TP) di Puskesmas Baluase Dan faktor faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan SP2TP
Konsep Oprasional
1. Petugas SP2TP
adalah Petugas/Tenaga manusia yang tersedia untuk mendukung pelaksanaan SP2TP
di Puskesmas Baluase maupun di Dinas Kabupaten Sigi
2. Bidan Desa adalah
Petugas / Tenaga Kesehatan yang Tersedia Di setiap Desa Untuk Mendukung Dan
melaporkan Setiap kegiatannya Kepada Puskesmas Guna Untuk Kelengkapan Data
SP2TP
3. Pustu adalah suatu
unit yang berada di bawah Puskesmas Induk yang berfungsi untuk membantu
pelaksanaan SP2TP di Puskesmas Induk
4. Ketepatan adalah
waktu pengiriman laporan dari Puskesmas Ke Dinas Kesehata Kabupaten/Kota sesuai
tanggal yang telah ditetapkan yaitu tanggal 10 tiap bulannya.
5. Kelengkapan adalah
jumlah laporan yang di terima oleh puskesmas setiap bulanya dari unit unit
kerja dibawahnya (pustu).
6. Keakuratan adalah
adanya kesamaan data laporan bulanan yang di buat oleh masing masing program.
Dengan kata lain tidak di temukan perbedaan data tertentu yang dibuat oleh
pengelolah program yang berbeda.
7. Faktor pendukung
adalah suatu kondisi dimana sangat membantu dalam pelaksanaan SP2TP
8. Faktor Penghambat
adalah suatu kondisi baik Teknologi ataupun letak geografis suatu tempat sangat
berpengaruh terhadap pelaksanaan SP2TP
9. SP2TP adalah
kegitan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga, dan pelayanan
kesehatan.
D. Jenis dan Instrumen Data
1. Jenis Data
Data primer adalah
data yang di peroleh langsung dari Informan dengan cara menggunakan Panduan
Wawancara, Sedangkan data sekunder adalah data yang di peroleh secara tidak
langsung (data yang bersumber dari Puskesmas Baluase)
2. Instrumen Data
Instrument dalam Studi
ini menggunakan beberapa format pedoman wawancara untuk analisis kualitatif.
Selain itu dalam studi ini akan menggunakan alat perekam berupa tape recorder
untuk setiap wawancara yang dilakukan. Dan Gambar guna mendukung kegiatan wawancara
mendalam dan pengamatan terhadap kegiatan.
Berikut ini adalah
gambar tabel beserta uraian pertanyaan yang akan di gunakan dalam melakukan
wawancara beserta sasaran dan teknik pengumpulan datanya (Terlampir)
E. Analisis Data
Analisis data dalam
studi ini menggunakan analisis kualitatif terhadap hasil wawancara, data
sekunder serta pengamatan dengan membandingkan terhadap teori guna menarik
kesimpulan. Adapun cara analisis data sebagai berikut:
1. Mentranskripsikan
hasil wawancara dan hasil observasi
2. Mensintesiskan data
yaitu mencari hubungan data antara kategori satu dengan kategori lainnya,
kemudian dianalisis dan diberi label kembali hingga membentuk suatu teori baru
(theoretical coding).
3. Merumuskan data
berdasarkan pernyataan yang paling proporsional sebagai kategori utama kemudian
diinterpretasikan dalam laporan penelitian
4. Membandingkan dan
memeriksa ulang data yang diperoleh dari sumber data yang berbeda pada subjek
penelitian.
5. Menyajikan data
secara naratif yaitu menceritakan data yang dihasilkan dari setiap subjek
penelitian kemudian menarik kesimpulan.
F. Penyajian Data
Dalam penelitian
kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,
hubungan antara kategori, flowchart, dan sejenisnya dengan menyajikan data,
maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja
selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami.
G. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam
penelitian ini adalah informan informan kunci yang berhubungan dengan
pelaksanaan SP2TP
2. Sampel
Besar sampel yang akan
di teliti dalam penelitian ini sebanyak 3 informan kunci yang terdiri dari:
a) Petugas SP2TP di
Puskesmas Baluase
b) Petugas SP2TP di
Pustu/ bidan Desa Baluase
c) Petugas SP2TP di
Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
H. Penarikan Kesimpulan
Langkah terakhir dari
penelitian ini adalah penarikan kesimpulan/verifikasi. Kesimpulan awal yang di
kemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah jika tidak di temukan
bukti bukti yang kuat.
BAB IV
HASIL WAWANCARA DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
Lokasi penelitian
terletak di Desa Baluase Kecamatan Dolo selatan Kabupaten Sigi Provinsi
Sulawesih Tengah. Adapun luas wilayah Desa Baluase 99, 3 km2 dengan jumlah
penduduk 2562 jiwa dan 616 kepala keluarga (KK)
Adapun batas – batas
wilayah Desa Baluase yakni
1) Sebelah timur :
Daerah Aliran Sungai Gumbasa
2) Sebelah Barat :
Kaki Gunung Loki
3) Sebelah Utara :
Desa Rogo
4) Sebelah Selatan :
Desa Bulubete
Puskesmas induk
Kecamatan Dolo Selatan terdapat di Desa Baluase. Jumlah tenaga kesehatan di
Puskesmas Baluase yaitu 33 tenaga kesehatan yang terdiri atas
1) Dokter : 1
2) Perawat : 11
3) Bidan : 16
4) Farmasi : 1
5) Pengelolah Gizi : 1
6) Perawat Gigi : 1
7) Kesling : 1
8) Pengelolah Loket :
1
B. Karakteristik
Responden
Seperti yang di
uraikan sebelumnya, subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang terdiri
dari informan – informan yang berhubungan dengan SP2TP yaitu terdiri dari :
a) Pengelolah SP2TP di
Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
b) Pengelolah SP2TP di
Puskesmas Baluase
c) Bidan Desa Baluase
Berdasarkan Tabel 4.1,
karakteristik Responden menurut umur dalam penilitian ini Berumur 37 sampai 42
tahun yang semua informannya berjenis kelamin wanita. Dengan berlatar belakang
pendidikan DI – S2.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden
No Jabatan Umur Jenis
Kelamin Pendidikan
1 Kasie Yankesdas 42
Perempuan S2
2 Pengelolah SP2TP 38
Perempuan D1
3 Bidan Desa 37
Perempuan DIII
C. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil
wawancara, diperoleh bahwa pelaksanaan SP2TP di Kabupaten Kabupaten Sigi
Khususnya di Puskesmas Baluase dirasakan penting karena SP2TP mencangkup semua
kegiatan-kegiatan puskesmas, namun ada sebagian pendapat yang menganggap bahwa
SP2TP sekarang tidak diperlukan lagi karena ada laporan yang lebih lengkap dari
pada SP2TP. Lebih lajut dijelaskan bahwa hanya LB1 saja yang perlu tapi LB2 dan
LB3 tidak diperlukan karena setiap program sudah mempunyai data lengkap.
1) Komponen komponen
dalam SP2TP
Komponen – komponen
yang terdapat dalam SP2TP yaitu berupa laporan laporan data kesakitan rawat
jalan yang mencakup semua jenis penyakit yang dibagi menurut jumlah kunjungan
serta umur. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang di peroleh dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Sigi. Seperti yang di katakana oleh salah satu Pengelolah
SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten.:
“…Menurut saya
komponen yang terkait dalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas
atau SP2TP itu ya tentang data kesakitan rawat jalan komponennya seperti jenis
penyakit,jumlah kasus, kemudian ada jumlah kunjungan kasus per golongan umum
jadi kalau di formatnya masing masing sudah terbagi, sudah ada di bawah umur 1
tahun,1-4 tahun,5-14 tahun15 – 44 tahun, 45-54 tahun 55-64 tahun dan diatas 65
tahun. kemudian kasusnya baru atau lama dan di bedakan lagi dari jenis kelamin
Sedangkan hasil
wawancara yang di lakukan di Puskesmas Baluase. Seperti yang di katakana oleh
pengelolah SP2TP di Puskesmas Baluase :
“…kalau pelaporannya
kita itu kan ada lagi format baru, hampir semua sudah mencakup semua program
misalanya semua penyakit.terus data kesakitan serta semua program yang ada di
puskesmas seperti KIA,KB dan Lain lain.kemudian ada tambahan seperti sarana dan
prasarana
Adapun manfaat dari
SP2TP itu terutama laporan bulanan bisa digunakan untuk mengetahui data
penyakit. penyakit terbanyak menurut golongan umur, menurut gender,jenis
penyakit menular jadi sekaligus sebagai survailans (pengawasan).
2) Proses SP2TP Di
kabupaten Sigi
Proses pelaksanaan
SP2TP Kabupaten Sigi adalah berfungsinya sistem pencatatan dan pelaporan secara
berkelanjutan, teratur dan sebagai bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan
kegiatan di puskesmas dan jaringannya. Pelaksanaan SP2TP yakni beroperasinya
kegiatan pencatatan dan pelaporan guna didapatkannya semua data hasil
pelaksanaan kegiatan di puskesmas (temasuk didalamnya puskesmas pembantu,
puskesmas keliling, polindes dan pos kesehatan desa) dan data yang berkaitan,
serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi di atasnya sesuai
dengan kebutuhan secara benar, berkala, dan teratur guna menunjang pengololaan
upaya kesehatan masyarakat. Adapun untuk proses SP2TP Kabupaten Sigi tersebut
terdiri dari pengumpulan, pengiriman, analisis, penyajian, kualitas pengecekan
data dan umpan balik. Proses pelaksanaan SP2TP Kabupaten Sigi mulai dari
jaringan pelayanan kesehatan yang terkecil yakni dari polindes/bidan desa
sampai dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi. Seperti yang dikatakn oleh salah
satu Petugas SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten serta Puskesmas:
“…proses kami bekerja
dalam pelaksaanaan SP2TP yaitu dengan cara, setiap data SP2TP yang masuk ke
dinas kami melihat dari segi frekwensi penyakit yang apa yang meningkat dari
puskesmas yang ada di kabupaten sigi,kemudian kami rapatkan bersama setelah itu
menentukan hal-hal apa saja yang akan di lakukan kedepannya.,untuk
menanggulangi penyakit tersebut. Kalau untuk buku panduannya sebenarnya
tersedia (ada) kan itu sesuai formatnya yang kami berikan dari
kabupaten,sebenarnya buku panduan itu suda lama dan suda ada di puskesmas
masing masing, jadi berdasarkan itu mereka kirim setiap kegiatan dalam
SP2TP.(responden 1 DINKES SIGI)
Sedangkan hasil
wawancara yang di lakukan di Puskesmas Baluase. Seperti yang di katakana oleh
pengelolah SP2TP di Puskesmas Baluase :
“…Klo buku panduan
terus terang kalo di bilang dinas itu ada., tapi klo itu buku panduan yang suda
lama yang masih menggunakan format buku panduan dari donggala bukan dari
kabupaten sigi.tapi klo untuk pengisisannya kita mengerti..karna hanya
memasukan angka angka..berapa jumlah penyakitnya.berapa yang di rawat serta
berapa yang di rujuk ke rumah sakit(Informan 3 Pengelolah SP2TP di Puskesmas
Baluase)
Jadi utuk proses
pelaksanaan SP2TP di Dinas kabupaten sudah sesuai dengan alur yang di tentukan
sesuai dengan hasil wawancara yang di kemukakan diatas. Dan untuk buku panduan
SP2TP di setiap puskesmas sudah tersedia akan tetapi buku panduan yang tersedia
masih menggunakan format lama.
3) Pendanaan (financing)
Pendanaan merupakan
salah satu sumber daya yang berpengaruh terhadap kinerja, sebagaimana pendapat
Gogin (1990). Soerjadi (2003) mengartikan finansial sebagai biaya dan anggaran.
Biaya merupakan sejumlah uang yang disediakan dan dipergunakan secara langsung
untuk mencapai tujuan kegiatan.
Kaho (2000) menyatakan
bahwa faktor keuangan yang merupakan tulang punggung bagi terselenggaranya
aktivitas pelayanan publik. Adanya pendanaan dalam suatu organisasi memegang
peranan penting dalam kegiatan organisasi. Tujuan yang telah dirumuskan dengan strategi
dan program sebaik apapun harus diikuti dengan dukungan anggaran yang memadai.
Terkait mengenai
penyediaan dana untuk pelaksanaan SP2TP secara khusus menurut hasil wawancara
sampai saat ini tidak hanya berupa dana insentif atau dana lembur sebagai
pengganti biaya transportasi, Jadi dalam pelaksanaan SP2TP jika ada memerlukan
kebutuhan seperti ATK biasanya ditumpangkan ke anggaran. Terkait dengan hal
tersebut, sesuai hasil wawancara yang disampaikan oleh responden yang beberapa
petikan wawancaranya adalah berikut:
“…Ada untuk dari seksi
atu yandas saya Cuma berikan insentif bukan honor tpi insentif untuk tiap bulan
sebagai tanda biaya pengganti transport.,dan dananya itu di berikan langsung
dari dinas kabupaten kepada saya dan saya lanjutkan ke pengelolah pengelolah
SP2TP.(Informan 1 Dinkes Sigi)
Pernyataan diatas
sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan di Puskesmas Baluase. Seperti
yang di katakana oleh pengelolah SP2TP di Puskesmas Baluase :
“…Kalau untuk dana
oprasionalnya,,dana lemburnya ada dan sumbernya itu berasal dari dinas
(informan 2 dan 3 pengelolah SP2TP di Puskesmas serta bidan desa baluase)
4) Pengumpulan Laporan
SP2TP
Mekanisme pengumpulan
laporan SP2TP yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi itu, dikumpulkan
sebelum tanggaal 10 jadi setiap puskesmas yang ada di kabupaten sigi harus
mengirimkan laporannya ke dinas kesehatan sebelum tanggal 10, karena pada
tanggal 15 laporan yang ada di dinas kesehatan kabupaten akan di kirimkan ke
dinas kesehatan provinsi. Dengan hal tersebut, sesuai hasil wawancara yang
disampaikan oleh responden yang beberapa petikan wawancaranya adalah berikut:
“…Pengumpulannya
setiap bulan,laporannya itu setiap bulan dan ada batas waktu,jadi kami dari
kabupaten memberikan batas wktu tanggal 10 atau sebelum tanggal 10 laporan
harus sda masuk ke dinas karena tanggal 15 itu laporan sda masuk ke propinsi”
(Informan 1 Dinkes Sigi)
5) Teknologi Penunjang
Faktor teknologi di
dalam pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan sangat diperlukan untuk
meningkatkan efisiensi dari berbagai aspek, misalnya ketepatan, akurasi dan
kecepatan. Teknologi atau fasilitas yang tersedia untuk mendukung operasional
pelaksanaan SP2TP di Kabupaten Sigi dapat berupa komputer, dan perangkat lunak
aplikasi atau software yang dapat digunakan untuk mendukung efektivitas
pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas. Teknologi yang ada untuk
melaksanakan SP2TP. Puskesmas Baluase merupakan puskesmas yang mempunyai
fasilitas komputer dan listrik yang memadai, kondisi tersebut karena letak
puskesmas tersebut yang relatif dekat ibukota kabupaten akan tetapi untuk
kondisi teknologinya masih bisa dikatakan belulm sesuai dengan standar yang ada
dengan. seperti terungkap:
“…Menurut saya sangat
perlu karna dengan adanya teknologi seperti komputer kita tidak perlu repot
repot lagi untuk membuat laporannya. jadi saya tinggal menuliskan data datanya
kemudian saya berikan kepada TU dan kemudian TU memasukan datanya ke komputer.klo
untuk listriknya tersedia 24 jam.,tapi kalau untuk kondisi teknologinya seperti
komputer dan printer yang sekarang ada di puskesmas kondisinya kurang bagus
karena komputernya suda lama.” (informan 2 dan 3 pengelolah SP2TP di Puskesmas
serta bidan desa baluase)
6) Pengiriman Laporan
Dari Pustu Ke Puskesmas
Pengiriman laporan
SP2TP dari Pustu ke Puskesmas di laksanakn setiap bulan, setiap tanggal 23
bulan berjaan dalam mekanisme pengiriman laporannya, Puskesmas Menyediakan
format laporannya dengan cara di foto copy perbanyak, kemudian di serahkan ke
masing masing pustu yang ada di wilayah kerja puskesmas Baluase kemudian dari
setiap pustu tersebut mengisi datanya sesuai dengan formatnya. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara yang di lakukan di puskesmas Baluase.:
“..Setiap bulan kita
Menyetor formatnya. kita fotokopi perbanyak baru kita serahkan sama poskesdes
atau pustu dan kemudian mereka isi dan di setor per bulan,klo untuk tanggalnya
setiap tanggal 23 bulan berjalan,mengunakan fasilitas biasa motor”(Responden 2
pengelolah SP2TP di Puskesmas)
Pernyataan diatas
sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan di Pustu. Seperti yang di
katakana oleh Bidan desa Baluase :
“Setiap bulan
puskesmas memberikan format laporan SP2TP ke kami, kemudian kami mengisinya
sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, seperti jumlah kasus
penyakit.bagaimana program KIA dan KB ,itu semua kami isi di format yang di
berikan puskesmas.,kalau untuk penyetorannya biasanya di setor sebelum tanggal
23 bulan berjalan. Dan kalau untuk media transportasi untuk mengantarnya kita
biasa menggunakan motor”(Responden 3 Bidan Desa Baluase)
7) Mekanisme Pengiriman Laporan
Dalam mekanisme
pengiriman laporan dari Pustu ke Puskesmas Bidan desa biasa menggunakan alat
transportasi sepeda motor untuk mengantarkan laporan ke Puskesmas, akan tetapi
jika mereka sibuk biasanya mereka menitipkan laporan ke teman mereka yang
berencana pergi ke kota. Seperti Perkataan dari salah satu pengelolah SP2TP di
Puskesmas Baluase :
“…Itu tadi dorang
titip,,kadang kalau ada motor mereka mengantarnya langsuk ke puskesmas.atau
tidak jika mereka sibuk mereka biasanya menitipkan pada teman mereka yang pergi
ke kota” (Informan 2 pengelolah SP2TP di Puskesmas)
Pernyataan di atas
sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan dengan Bidan desa yang ada di
baluase:
“…kalau untuk
mekanisme pengantarannya kami biasa menggunakan motor, tetapi kadang kadang
jika kami sibuk kami biasanya menitipkan laporan ke teman kami yang hendak
pergi ke kota” (Informan 3 Bidan Desa Baluase)
8) Ketepatan Waktu Pengiriman
Ketepatan waktu dalam
pengiriman laporan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi memberikan waktu sebelum
tanggal 10. Untuk itu puskesmas mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan di bawah
tanggal 10 yakni antara tanggal 5 sampai dengan tanggal 9 setiap bulannya.
Laporan yang masuk
dari pustu dan polindes ke puskesmas selalu tepat waktu yaitu pustu dan
polindes mengirimkan laporan ke puskesmas induk tanggal 23 atau 25 tetapi dari
puskesmas melapor ke Dinas Kesehatan sering terambat karena petugas
pengelolanya memiliki kualitas dan kuantitas yang terbatas serta faktor
geografis yang sulit. Hambatan lain yang menyebabkan laporan SP2TP terlambat
dikirim karena tenaga pengelola SP2TPnya lalai didalam merekap laporan SP2TP
tersebut. Tetapi untuk Puskesmas Baluase pengirimannya selalu tepat waktu Hal
tersebut sesuai hasil wawancara yang disampaikan oleh responden yang beberapa
petikan wawancaranya adalah berikut:
“…Nah ini masih
kendala sebanarnya pengiriman laporan biasa tepat waktu,Cuma teman teman di
puskesmas banyak kegiatan banyak merangkap program jadi sehingga itu yang
biasanya mereka lewat dari batas waktu yang di tentukan sehingga itu tadi kami
memeberikan batas waktu pengiriman laporan agar pengiriman laporan itu tepat
waktu” (Informan 1 Dinkes Sigi)
Pernyataan diatas sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan di
Puskesmas Baluase. Seperti yang di katakana oleh pengelolah SP2TP di Puskesmas
Baluase :
“…Kalau untuk
ketepatannya kadang tepat..makannya kita dari dinkes memberikan batas waktu
kalau memang di atas tanggal 10 akan di berikan sangsi berupa teguran.tapi
kalau untuk puskesmas baluase pengiriman laporannya tepat waktu” (Informan 1
Dinkes Sigi)
Pernyataan di atas sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan
dengan Bidan desa yang ada di baluase:
“…Selama ini
Alhamdulillah tepat waktu karena kita kasih tanggal 23 – 25 bulan berjalan
untuk mengirimkan laporan ke puskesmas.dan dalam pengirimannya tadak ada
hambatan” (Informan 2 pengelolah SP2TP di Puskesmas)
9) Keakuratan Data
Dinas Kesehatan
Kabupaten Sigi selalu mengingatkan para kepala puskesmas agar dalam mengirimkan
laporan sebelum laporan dikirim terlebih dahulu dikoreksi atau dicek ulang di
puskesmas. Kalau sudah semua sesuai baru dikirimkan ke Dinas Kesehatan. Tingkat
akurasi tersebut dapat dibuktikan dengan tidak adanya komplain dari masing
program selama ini tidak pernah terjadi.Seperti Petikan wawancara berikut :
“…Kalau mereka semua
sih dari awal sudah tau karna SP2TP ini pelaksanaannya ini sudah lama.jadi
kalau dikatakan akurat sih akurat karena mereka isi berdasarkan format SP2TP
yang ada, dan dari DINKES juga sudah menghimbau kepada Kepala Puskesmas agar
mengecek kembali laporan- laporan yang di kirim oleh Pustu atau Bidan Desa”
(Informan 1 Dinkes Sigi)
Untuk mengecek keakuratan data laporan SP2TP dilakukan dengan cara
turun langsung ke pustu maupun polindes setiap bulan lalu dibandingkan dengan
data laporan yang ada di pustu maupun polindes dengan data SP2TP yang
dikirimkan ke puskesmas. Hal tersebut sesuai hasil wawancara yang disampaikan
oleh responden yang beberapa petikan wawancaranya adalah berikut:
“…Dengan melihat dan
mengecek 1 per satu setoran laporan yang mereka kirim dengan membandingkan
kunjungan yang ada di pustu dengan laporan yang mereka kirim dengan cara
melihat langsung ke pustunya” (Informan 2 pengelolah SP2TP di Puskesmas)
10) Kelengkapan Data
Masalah kelengkapan
laporan SP2TP secara umum data-data yang di kirim dari puskesmas ke Dinkes
Secara umum sudah lengkap, dari laporan LB1,LB2,LB3 dan LB4. Hal tersebut
sesuai hasil wawancara yang disampaikan oleh responden yang beberapa petikan
wawancaranya adalah berikut:
“…Hmmm..kalau untuk
kelengkapan laporan yang mereka kirim secara umum sudah lenkap,laporan mereka
lengkap ada LB1,LB2, LB3 Dan LB4” (Informan 1 Dinkes Sigi)
Jika laporan SP2TP
tidak lengkap yang dilakukan adalah meminta petugas pustu maupun polindes untuk
melengkapi laporan yang tidak lengkap tersebut. Dengan cara menghubungi petugas
pustu atau polindes tersebut untuk segera melengkapi laporan yang dianggap masih
kurang kemudian segera melaporkan laporannya. Seperti Petikan wawancara berikut
:
“…Begini kalau untuk
melengkapinya seandainya datanya tidak lengkap…misalnya seperti jumlah
kunjungan misalnya jumlah kunjungan KIA dan KIB itu tidak lengkap
datanya..biasanya saya hubungi pengelolahnya melalui Handphone dan biasanya
menanyakan langsung kepada pengelolahnya kenapa datanya tidak lengkap”
(Informan 2 pengelolah SP2TP di Puskesmas)
Hal tersebut sesuai dengan perkataan informan 3 (Bidan desa
Baluase) yang mengatakan bahwa jika data yang mereka kirim ke Puskesmas Tidak
Lengkap, maka Biasanya Petugas Puskesmas dating ke Pustu dan menanyakan
Langsung ke Pustunya mengapa datanya tidak lengkap. Seperti Petikan wawancara
berikut :
“…hmm iya biasanya
jika data yang kami kirim ke Puskesmas tidak lengkap petugas Puskesmas Kadang
kadang datang langsung ke Pustu, dan menanyakan kenapa datanya tidak
lengkap,tapi biasanya juga petugas Puskesmas menghubungi melalui telefon atau
SMS.”(Informan 3 Bidan Desa)
11) Pemanfaatan Data
SP2TP
Pemanfaatan data SP2TP
di Puskesmas Baluase untuk perencanan program yang telah dilakukan masih hanya
sebatas memanfaatkan LB1nya saja. Kalau LB1 dimanfaatkan untuk diolah dan
disajikan dalam bentuk data karena diperlukan untuk mengetahui 10 penyakit terbesar
maka akan mengetahui perencanaan obat untuk penyakit terbanyak.
Misalnya dalam satu
hari di bulan tersebut ada 2 penderita gejala penyakit DIsentri, maka petugas
atau pengelolah SP2TP di Puskesmas akan langsung pergi ke bagian surveilens dan
menyuruh mereka untuk mencari tau mengapa sampai timbul penyakit tersebut,untuk
selanjutnya di buat tingkat pencegahannya. Seperti Petikan wawancara berikut :
“…Kalau untuk
pemanfaatnnya kita lihat dari laporanya ada peningkatan jumlah kasus apa
tidak,kalau misalnya ada peningkatan konsul lagi sama yang punya program
itu,.dan kemudian mereka turun untuk mencari tau kenapa sampai terjadi
peningkatan tersebut,,seperti kemarin ada kasus dalam 1 hari itu ada 2 orang
yang menderita gejala disentri…,saya langnsung hubungi bagian surveilens
kemudian menyuruh mereka untk turun,,mencari tau apa penyebabnya” (Informan 2
pengelolah SP2TP di Puskesmas)
12) Faktor Penghambat.
Dalam pelaksanaan
SP2TP di Puskesmas Baluase dan DINKES SIGI Jarak bukan merupakan hambatan dalam
pelaksanaan SP2TP karena sebagian besar pengelolahnya suda memiliki kendaraan
untuk mengantar laporan ke DINKES. Adapun masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan
SP2TP adalah pemegang program memegang 2 (dua) program sekaligus. Hal tersebut
nampak jelas dari Pengelolah SP2TP Puskesmas Baluase yang juga merangkap
sebagai Bidan Desa yang ditunjuk oleh kepala puskesmas.di karenakan SDM yang
kurang. Seperti Petikan wawancara berikut :
“…Sebenarnya kalau
untuk faktor penghambatnya..jarak itu tidak jadi masalah karena mungkin sudah
adanya transportasi seperti motor…cuman kalau untuk slama ini faktor
penghambatnya itu karena jumlah SDM yang Kurang.seperti saya ,saya merangkap di
dua jabatan jadi untuk pengerjaannya laporan itu tdk maksimal. mungkin cma itu
untuk hambatanya..jadi untuk menanggulanginya.,kita menggunakan tenaga yang
mengabdi di puskesmas..dan kalau untuk dana oprasionalnya di berikan pada
mereka.” (Informan 2 pengelolah SP2TP di Puskesmas).
Pernyataan diatas sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan di
DINKES Sigi. Seperti yang di katakana oleh pengelolah SP2TP di Puskesmas
Baluase :
“…Kalau untuk faktor
penghambatnya SDM yang kurang sehingga banyak pengelolah SP2TP merangkap
jabatan,serta teknologi yang kurang memadai serta dana”. (Informan 1 Dinkes
Sigi)
13) Faktor Pendukung
Dalam pelaksanaan
SP2TP di Puskesmas Baluase dan DINKES SIGI. Teknologi merupakan salah satu
aspek penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan SP2TP. Misalnya seperti
sistem online, sistem online dapat memudahkan pengelolah dalam mengirimkan
laporan SP2TP. Bukan hanya itu saja, sarana dan prasana seperti Komputer,
Laptop, dan Printer serta dana dan transportasimerupakan salah satu penunjang
dalam pelaksanaan SP2TP. Petikan wawancara berikut :
“…Hmm kalau Faktor
pendukungnya sih salah satunya itu dana dengan format pelaporan, jadi kalau
tidak ada itu biasa jadi kendala dalam pelaksanaanya serta teknologi seperti
sitem online,kan di puskesmas itu sudah ada komputer masing masing.jadi
seandainya jika di setiap puskesmas itu menggunakan sistem online. Mereka tidak
perlu lagi datang ke dinas untuk mengirim laporan tetapi kalau untuk sekarang
baik di dinas dan di puskesmas belum ada tapi untuk sekarang minimal dia punya
soft copy yang di berikan ke kami sehingga gampang untuk mengolahnya..dari pada
mereka mengirimkan hard copy.” (Informan 1 Dinkes Sigi)
Pernyataan diatas sesuai dengan hasil wawancara yang di lakukan di
Puskesmas Baluase. Seperti yang di katakana oleh pengelolah SP2TP di Puskesmas
Baluase :
“…Kalau untuk faktor
pendukung dalam pelaksanaan SP2TP itu seperti dana dan teknologi misalnya
laptop,computer printer dan sarana prasarana seperti transportasi” (Informan 2
pengelolah SP2TP di Puskesmas).
D. Pembahasan
1) Komponen SP2TP
Dari hasil wawancara
yang di lakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten sigi. Dari dua informan yang di
wawancarai komponen – komponen yang ada di dalam SP2TP adalah data LB1 berupa
data Kesakitan rawat jalan,jesnis penyakit, dan jumlah Kunjungan kasus yang di
lihat dari segi umur, kasus, Dan Jenis kelaminya, serta LB2 (obat obatan), LB3
(Laporan bulanan gizi, KIA, Imunisasi, dan pengamatan penyakit menular), LB4
(Laporan bulanan kegiatan Puskesmas meliputi kunjungan Puskesmas, rawat
tinggal, perawatan kesehatan masyarakat, pelayanan medik dasar, kesehatan gigi,
pelayanan JPKM, kesehatan sekolah, kesehatan olahraga, PKM, kesehatan
lingkungan dan laboratorium)
Hal ini sesuai dengan
Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat nomor
590/BM/DJ/lnfoA//1996 tentang Penyederhanaan SP2TP, formulir laporan telah
disederhanakan dalam upaya untuk mengurangi beban kerja bagi petugas Puskesmas,
jadi diharapkan tidak adanya laporan lain dari
Puskesmas selain
SP2TP, dan data/variabel yang dilaporkan tersedia dalam formulir pencatatan.
Dengan demikian data/variabel yang dilaporkan diharapkan dapat dipercaya serta
dapat diterima tepat waktu (Depkes Rl 1997). Adapun format pelaporan yang
tersedia di dalam SP2TP meliputi:
a) Laporan bulanan
data kesakitan (LB-1).
b) Laporan bulanan
obat-obatan (LB-2) atau LPLPO.
c) Laporan bulanan
gizi, KIA, Imunisasi, dan pengamatan penyakit menular (LB-3).
d) Laporan bulanan
kegiatan Puskesmas meliputi kunjungan Puskesmas, rawat tinggal, perawatan
kesehatan masyarakat, pelayanan medik dasar, kesehatan gigi, pelayanan JPKM,
kesehatan sekolah, kesehatan olahraga, PKM, kesehatan lingkungan dan
laboratorium (LB-4).
2. Proses pelaksanaan
SP2TP di Kabupaten Sigi
Dari hasil wawancara
dengan responden dan hasil temuan lapangan, terungkap bahwa proses pelaksanaan
SP2TP di Puskesmas Baluase secara umum sudah dapat dikatakan berjalan dengan
baik sesuai dengan mekanisme dan garis program yang sudah ditentukan. Akan tetapi
proses kerja yang terjadi selama ini, baik itu kabupaten maupun puskesmas,
sudah berjalan walaupun hasilnya belum terlalu optimal, hal ini disebabkan
karena pelaksanaan SP2TP belum sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis, hal
ini dibuktikan dengan sistem pengelolaan data yang belum optimal artinya belum
baik dan masih terdapat beberapa hambatan teknis misalnya, Tenaga SDM yang
kurang, teknologi yang belum memadahi seperti komputer,laptop Printer dan
lain-lain, serta banyaknya pengelolah SP2TP yang merangkap Jabatan dan kadang
kadang pengirimanya dititipkan kepada pihak lain.
Suatu kegiatan dapat
terlaksana dengan baik dan benar apabila diatur dengan suatu pedoman, aturan
atau regulasi yang jelas berupa Surat Keputusan, Petunjuk Pelaksanaan atau
Petunjuk Teknis. Ketersediaan regulasi untuk menuntun pelaksanaan kegiatan
SP2TP hanya tersedia pada tingkat kabupaten berupa SK tim SIK maupun Juknis,
sementara tingkat puskesmas belum ada dan mereka bekerja dengan berpedoman pada
contoh yang sudah ada ataupun karena kebiasaan dari petugas yang satu ke
petugas yang lainnya. Pada hal menurut SK Dir. Binkosmas
No.590/BM/DJ/lnfo/1996, pada hakekatnya petunjuk teknis ini memberikan acuan
atau pedoman dalam pengolahan, penyajian, dan interpretasi data SP2TP di
tingkat puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten, sehingga dapat diperoleh
informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan tindak
lanjut pemecahan masalah guna menunjang tugas pokok dan fungsi (Depkes Rl,
1997).
3. Pendanaan
(financing)
Dari hasil wawancara
yang di lakukan di lakukan di Dinas kesehatan kabupaten sigi serta di
puskesmass baluase di dapatkan hasil bahwa dalam pendanaan pelaksanaan SP2TP
hanya sebatas insentif atau biaya lembur serta dengan biaya pengganti
transportasi, jika memerlukan kebutuhan seperti ATK biasanya di tumpangkan ke
anggaran
Hal tersebut sesuai
hasil penelitian yang dilakukan oleh Aqil et al. (2009) bahwa terdapat keraguan
bahwa di negara-negara berkembang, sistem informasi kesehatan (RHIS) gagal
untuk mendukung sistem kesehatan untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas.
Salah satu kelemahan dalam sistem informasi kesehatan di negara-negara
berkembang adalah tahapan proses. Hal tersebut disebabkan karena minimnya dana
yang dialokasikan serta terbatasnya tenaga yang mengelola laporan tersebut.
4. Pengumpulan Serta
Pengiriman Laporan
Dari hasil wawancara
yang di lakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dan di Puskesmas Baluase
untuk mekanisme pengumpulan dan pengiriman laporannya di Dinas Kesehatan di
lakukan sebelum tanggal 10, karena pada tanggal 15 laporan laporan SP2TP dari
Puskesmas akan di kirim ke Dinas Kesehatan Provinsi, sedangkan untuk Puskesmas
laporan laporan dari Pustu atau Polindes di kumpulkan sebelum tanggal 23 atau
25
Hal ini sesuai dengan
kebijakan yang diambil oleh masig masing kepala dinas ataupu kepala puskesmas
yang ada di kabupaten sigi. Dan hal tersebut sesuai dengan pedoman pelaksanaan
Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Puskesmas yang menyatakan bahwa pengumpulan
laporan dari puskesmas ke dinas selambat lambatnya di kempulkan sebelum tanggal
10 bulan berjalan. Sedangkan dari Pustu ke Puskesmas dilakukan sebelum tanggal
1 bulan berjalan (Pedoman Pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas)
Dalam hal ini
pengumpulan dari Puskesmas ke Dinas sudah sesuai dengan standar yang ada,
sedangkan untuk Pustu ke Puskesmas pengirimannya sudah sesuai standar akan
tetapi pengiriman laporannya terlalu cepat sehingga terdapat interval 1 minggu
yang tidak masuk dalam pelaporan SP2TP yang menyebabkan laporan kadang- kadang
tidak lengkap.
5. Teknologi Penunjang
Ketersediaan sistem
didalam mendukung pelaksanaan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas di
Puskesmas Baluase, sudah ada namun didalam perjalanannya mengalami berbagai
upaya penyempurnaan dan perbaikan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
zaman. Kondisi ini sesuai dengan teori tentang disain sistem, yakni model
sistem informasi sebagai sesuatu yang ditentukan oleh pengguna atau manajer
(Anderson, 1994). Akan tetapi untuk teknologi penunjang yang ada di Puskesmas
Baluase belum dapat di katakana sesuai dengan standar, karna masih banyaknya
teknologi pendukung seperti komputer dan printer yang tidak bekerja secara
optimal. Seperti dapat di lihat pada tabel observasi di bawa ini.
Tabel 4.2 sarana dan
prasarana penunjang SP2TP
No
Obyek Observasi
Puskesmas Baluase
1 Persediaan format
dan kartu √
2 Fasilitas pendukung
:
a. Listrik √
b. Komputer √
c. Mesin tik √
3 Penyimpanan data
(lemari/rak) √
4 Ketersediaan dokumen
protap √
5 Struktur organisasi/dokumen pembagian tugas
√
6 Dokumen uraian
tugas/tupoksi √
7 Dakumen mekanisme
pelaporan √
Keterangan;
√ = Ada
X = Tidak ada
Dari uraian di atas, maka dalam implementasi SP2TP di Kabupaten
Sigi, terutama di Puskesmas Baluase belum sesuai dengan makna pengenalan sistem
secara mendalam terhadap kebutuhan-kebutuhan yang ada. Pengguna informasi belum
mampu mengendalikan perubahaan yang dihasilkan oleh SP2TP, sehingga peranan dan
manfaatnya belum optimal dalam pelaksanaan program. Pelaksanaan SP2TP sebagai
sistem informasi kesehatan rutin (RHIS) ternyata belum mampu untuk mendukung
sistem kesehatan untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas (Aqil et al.,
2009).
6. Mekanisme
Pengiriman Laporan
Dalam tahapan proses
pelaksanaan SP2TP di Puskesmas Baluase masih banyak kendala misalnya pengiriman
laporan dari pustu ke Puskesmas dikarnakan banyaknya petugas disana yag
merangkap jabatan serta masalah kurangnya alat transportasi, sehingga ada
kalanya laporan SP2TP dititipkan kepada masyarakat yang kebetulan akan
berangkat ke kecamatan. Hal ini tentunya tidak tepat karena bisa terjadi
laporan yang dikirimkan tersebut nyasar atau tidak sampai tujuan. Tahapan
proses merupakan tahapan yang penting yang menentukan kualitas laporan, input
yang baik tanpa proses yang memadai akan menghasilkan hasil yang minimal.
Hal ini sesuai dengan
teori yang di kemukakan oleh (Yunarto, 2006) yang mengatakan Pengiriman atau
shipping adalah bagian penting dalam suatu rantai persediaan yang berfungsi
untuk menyiapkan dan mengirimkan barang ke kostumer. Transportasi berhubungan dengan
model transportasi apa yang di pakai agar efektif dan efisien, baik dari sisi
biaya, kecepatan waktu pengiriman dan ketepatan waktu.
7. Ketepatan Waktu
Pengiriman
Dari hasil wawancara
yang di lakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dan di Puskesmas Baluase
untuk ketepatan waktu pengiriman laporannya di Dinas Kesehatan suda sesuai
dengan aturan yang ada yaitu di lakukan sebelum tanggal 10,yaitu antara tanggal
5 sampai dengan tanggal 9 tiap bulannya karena pada tanggal 15 laporan laporan
SP2TP dari Puskesmas akan di kirim ke Dinas Kesehatan Provinsi, sedangkan untuk
Puskesmas laporan laporan dari Pustu atau Polindes di kumpulkan sebelum tanggal
23 atau 25.
Hal ini sesuai dengan
buku pedoman pelaksanaan SP2TP yang menyatakan bahwa Pada Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Puskesmas, Frekwensi dan Periode disesuaikan dengan Jenis Data yang
dikumpulkan :
a) Laporan Bulanan
(LB-1, LB-3, LB-4) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota paling
lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya
b) Laporan Tahunan
(LSD-1, LSD-2, LSD-3) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota paling
lambat pada tanggal 10 Januari tahun berikutnya.
c) Laporan Bulanan
tersebut dikirimkan setiap bulan ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat pada
tanggal 15 bulan berikutnya melalui disket/CD
d) Laporan Tahunan
tersebut dikirmkan setiap tahun ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat
tanggal 15 Januari tahun berikutnya melalui disket/CD atau e-mail.
Sedangkan untuk
pengiriman laporan dari pustu ke puskesmas di lakukan sebelum tanggal 1 bulan
berikutnya dan jga di sesuaikan dengan kebijakn Puskesmas masing masing.
dalam hal ini dari
hasil penelitian dan temuan di lapangan bahwa untuk ketepatan waktu pengiriman
dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten suda sesuai dengan buku panduan
yang ada, begitupun dari Dinas Kesehatan Kabupaten ke Provinsi juga sudah
sesuai dengan buku pedoman yang ada. Akan tetapi untuk pengiriman laporan dari
Pustu ke Puskesmas memang dapat dikatakan sudah sesuai dengan petunjuk yang
ada. Namun untuk pengirimannya dirasakan terlalu cepat, terdapat interval waktu
sekitar satu minggu yang tidak terdata dalam pelaporan setelah data di kirim.
Hal ini dapat menyebabkan ketidak lengkapan data dari Pustu Ke Puskesmas.
8. Keakuratan Serta
Kelengkapan Data
Dari hasil wawancara
yang di lakukan di Dinas Kesehatan Serta Puskesmas Baluase untuk keakuratan
yang terjadi selama ini sudah dapat di katakana sudah akurat atau tepat, karna
para pengelolah SP2TP di Dinas Maupun Puskesmas sudah mengisi laporan sesuai dengan
format yang ada. Sedangakan untuk kelengkapan datannya kebanyakan datanya suda
dapat di katakana lengkap, dari Laporan Bulanan Seperti LB1 – LB4. Hal ini di
buktikan dengan tidak adanya komplain dari masing masing pemegang program.
Hal ini sesuai dengan
buku pedoman pelaksanaan SP2TP tentang format pelaporan SP2TP. Adapun format
pelaporan dalam SP2TP adalah sebagai berikut
a) Laporan LB1 yaitu
Laporan Bulanan mengenai Data Kesakitan
b) Laporan LB2 yaitu
Laporan mengenai obat obatan.
c) Laporan LB3 yaitu
laporan program KIA/KB,Gizi, dan pemberantasan pencegahan penyakit.
d) Laporan LB4 yaitu
Laporan Bulanan Kegiatan Puskesmas
e) Laporan LSD-1 yaitu
Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai data fasilitas dan data kesehatan lainnya
serta data lingkungan kedinasan Puskesmas dan Jejaringnya
f) Laporan LSD-2 yaitu
Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai tenaga di Puskesmas baik dengan perawatan
maupun tanpa perawatan dan Puskesmas Pembantu.
g) Laporan LSD-3 yaitu
Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai Jumlah dan Jenis Peralatan di Puskesmas
baik dengan perawatan maupun tanpa perawatan, Puskesmas Pembantu dan lain-lain.
Adapun upaya upaya
yang di lakukan jika seumpamanya data yang di terima tidak lengkap yaitu antara
lain. Untuk dari tingkatan Dinas Kesehatan Kabupaten. Mereka selalu
memberitahukan kepada kepala puskesmas untuk mengecek kembali keakuratan dan
kelengkapan data sebelum di kirim ke Dinas. Sedangkan upaya yang di lakukan
oleh pihak Puskesmas jika seumpamanya data yang di kirimkan dari Pustu/polindes
tidak akurat. Pengelolah SP2TP di Puskesmas Biasanya menghubungi langsung
kepada Pengelolah SP2TP di Pustu untuk menanyakan bagaimana kelengkapan serta
keakuratan datanya.
9. Pemanfaatan Laporan
SP2TP
pencatatan dan
pelaporan yang berkualitas tentunya dapat dilihat dari faktor ketersediaan data
dan pemanfaatan data untuk perencanaan dan evaluasi secara konsisten dan
berkesinambungan. Dilihat dari kondisi dan situasi yang terjadi saat ini di
lapangan, pemanfaatan SP2TP belum maksimal sebagai database, yang dapat
digunakan untuk perencanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan karena bebagai
permasalahan. Secara umum persoalan yang paling menonjol adalah kemampuan atau
profesionalitas dari para pengguna yang masih lemah, kondisi geografis yang
sulit dan masih terbatasnya jumlah sarana, dana, sistem organisasi serta umpan
balik laporan SP2TP yang belum optimal, sehingga kualitas informasi dan
pemanfatannya tidak maksimal.(Alamsyah 2009)
Untuk pemanfaatan
laporan serta umpan balik yang selama ini terjadi di Puskesmas baluase masih
hanya sebatas memanfaatkan LB1nya saja. Sedangkan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan laporan.data data yang digunakan harus lengkap dan akurat.
Data atau informasi
yang dihasilkan dan dimanfaatkan secara baik dan terus menerus memerlukan suatu
strategi khusus yang difokuskan pada aspek yaitu meningkatkan kualitas kualitas
data SP2TP Kabupaten Sigi yang terdiri dari (1) ketepatan waktu; (2) keakuratan;
(3) kelengkapan dan (4) pemanfaatan untuk perencanan dan evaluasi program (WHO
(2008:20); Aqil et al. (2009).
Dalam hal ini untuk
pemanfaatan laporan SP2TP di tingkat Puskesmas sudah berjalan tetapi dalam
pemanfaatan laporannya masi terbatas pada laporan LB1 saja.
10. Faktor Penghambat
Serta Pendukung
Sebuah organisasi di
dalam kehadirannya tentunya mempunyai bermacam- macam tujuan dan harapan yang
ingin dicapai. Tujuan dan harapan tersebut bisa diraih dengan dukungan dan
pemberdayaan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh organisasi tersebut.
Seluruh sumber daya yang ada pada organisasi yang menunjukkan keunggulan
kompetitif potential adalah sumber daya manusia. Keberhasilan sebuah organisasi
tergantung bagaimana kesiapan sumber daya manusianya. pengelolaannya baik
jumlah dan kualitas yang cukup dan mempunyai visi dan misi jelas (Rachmawati,
2008).
Alokasi sumber daya
dana di dalam pelaksanaan program SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
maupun Puskesmas Baluase. belum mendapatkan perhatian secara proporsional,
artinya belum ada alokasi pembiayaan secara khusus untuk kesinambungan kegiatan
SP2TP. Misalnya saja dalam pengadaan teknologi berupa komputer dan printer, di
Puskesmas Baluase sendiri bisa dikatakan kondisi peralatan penunjang untuk
pelaksanaan SP2TP kondisinya kurang baik, dikarnakan umur dari peralatannya
sudah lama. Agar pelaksanaan program SP2TP itu berhasil, maka sesuai dengan
teorinya mengatakan bahwa kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya
yang dimiliki oleh organisasi dan dimanfaatkan secara efisien dan efektif untuk
mencapai tujuan organisasi (Muninjaya, 2004).
Untuk prosedur tetap
dan tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelaksanaan SP2TP sesuai dengan SK
Dirjen Binkesmas No 590/1996 tersedia, namun keberadaannya hanya tersedia di
dinas kesehatan kabupaten, sementara puskemas Belum tersedia. Pelaksanaan pengolahan
data yang dilakukan selama ini didasarkan pada pengalaman, kebiasaan dan
mengikuti contoh yang sudah ada. Pembinaan dan supervisi terhadap pelaksanaan
SP2TP di Puskesmas Baluase Belum berjalan seperti semestinya, walaupun
pelaksannannya belum maksimal karena keterbatasan dana. Pembinaan dan supervisi
dalam pengawasan pelaksanaan program perlu dilakukan secara terus menerus.
Menurut Wijono (1997)
mengungkapkan pembinaan dan pengawasan dilakukan dengan mengamati pelaksanaan
seluruh aspek program untuk menjamin agar semua kegiatan yang sedang
dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana. Peningkatan pembinaan dan
pengawasan pada hakekatnya akan membawa atau berdampak pada peningkatan
kemampuan pelaksanaan dan pengendalian kegiatan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian
hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
1. Input dalam
pelaksanaan SP2TP di Kabupaten Karimun
a) Kebijakan (policy):
belum berjalan efektif karena salah satunya oleh SK (surat keputusan) maupun
juklak/juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis) untuk mendukung
pelaksanaan SP2TP.
b) Dana: untuk
pelaksanaan SP2TP sudah ada akan tetapi belum maksimal.
c) Sumber daya manusia
(SDM) masih kurang, baik kualitas maupun kuantitas untuk puskesmas Baluase.
d) Pembagian tugas dan
tanggung jawab masing-masing petugas belum berjalan dengan baik sehingga banyak
petugas yang rangkap jabatan.
e) Teknologi:
fasilitas teknologi yang ada belum membawa perubahaan berarti dalam pelaksanaan
SP2TP.
f) Pengiriman laporan:
pengiriman laporan khususnya untuk puskesmas terdapat kendala transportasi
sehingga pengiriman laporan biasanya di titipkan kepada masyarakat
2. Output dalam
pelaksanaan SP2TP di Puskesmas Baluase Sudah berjalan dengan baik yaitu:
a) Ketepatan waktu
laporan: pengiriman laporan sampai ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi Jarang
mengalami keterlambatan.
b) Keakuratan data:
laporan Sudah akurat khususnya untuk puskesmas Baluase
c) kelengkapan
laporan: data yang dikirimkan sudah lengkap,tapi kadang kadang ada data yang
tidak lengkap sehingga data harus disusulkan lewat SMS.
d) pemanfaatan:
pemanfaatan data dan laporan SP2TP untuk perencanan dan evaluasi program sudah
berjalan dengan semestinya walaupun belum optimal.
3. Hambatan-hambatan
dalam pelaksanaan SP2TP di Kabupaten Sigi serta Puskesmas Baluase adalah
transportasi, letak geografis yang sulit, keterbatasan SDM dan pembagian tugas
sehingga banyak pegawai yang rangkap tugas, pemanfaatan teknologi IT masih
sangat terbatas.
B. Saran
Dalam rangka
peningkatan dan perbaikan pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas
pada masa yang akan datang, pada kesempatan ini peneliti menyampaikan
saran-saran sebagai berikut:
1. Untuk Dinas
Kesehatan Kabupaten Karimun:
a) Perlu dilakukan
pelatihan dan magang secara terencana dan berkesinambungan guna mendapatkan SDM
yang terampil dan profesional di dalam pengelolaan data
b) Perlu penguasaan
dan pemahaman secara benar dan mendalam tentang peranan dan manfaat
SP2TP,sehingga mendapat perhatian secara sungguh sungguh serta merencanakan
alokasi sumber daya yang profesional sesuai dengan kebutuhan operasionalnya
c) Menyediakan
anggaran untuk ATK, transportasi, rapat koordinasi atar program dan pengolahan
data untuk daerah sangat terperpencil biasa dan perkotaan sesuai dengan
kebutuhan masing masing puskesmas
d) Diperlukan upaya
penataan secara komprehensif terhadap pengelolaan SP2TP bagi pengembangan dan
penerapan sistem informasi kesehatan di Kabupaten Karimun
2. Untuk Kepala
Puskesmas :
a) Pengelolaan data
yang lebih baik misalnya data yang ada disusun dan dikumpulkan di suatu tempat
yang tertentu sehingga bila diperlukan segera bisa ditemukan;
b) Mengadakan
pelatihan tentang SP2TP serta menambah Jumlah Personil pengelolah SP2TP agar
petugas Puskesmas Tidak Merangkap Jabatan
c) Pertahankan
kualitas laporan terutama kelengkapan dan akurasi laporan.
d) Ditingkatkan
pemanfaatan teknologi IT sehingga pelaporan lebih efektif. Terkait dengan
pemanfaatan teknologi IT perlu dilakukan pelatihan pemanfaatan program
spreadsheet (misal excel) untuk mendukung pelaksanaan SP2TP.
e) Dalam rangka
peningkatan pemanfaatan serta perawatan teknologi tersebut khususnya untuk
puskesmas Baluase Sering melakukan Peremajaan Komputer misalnya seperti,
menginstal ulang sofe ware yang ada di Komputer atau (PC) Minimal setiap 6
bulan sekali serta menambah anti virus atau men scan computer minimal seminggu
sekali.agar penggunaanya lebih maksimal
3. Untuk Kampus STIK
IJ PALU
Agar kiranya Skripsi
ini dapat di manfaatkan dengan baik. Bukan hanya untuk sebagai bahan bacaan dan
menambah menambah pengetahuan tentang sistem pencatatan tapi diharapkan Skripsi
ini dapat menjadi acuan untuk Penelitian selanjutnya yang lebih baik dari
sebelumnya, terutama dalam penelitian Kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Amrin, Tatang M. 2011.
Pokok Pokok Teori Sistem. Jakarta : Rajawali Pers.
Aqil, A, Lippeveld, T.
and Hozumi D., 2009, PRISM framework: a paradigm shift for designing,
strengthening and evaluating routine health information systems, Health Policy
and Planning; 24:217–228
Azrul, Azwar. 2010.
Pengantar Adiminstrasi Kesehatan. Tanggerang : Bina rupa aksara.
Depkes RI, 1992.
Petunjuk Pelaporan Baru System Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.
Kabupaten Sigi.
Depkes RI, 1997.
Petunjuk Pengolahan Dan Pemanfaatan Data SP2TP. Jakarta.
Depkes. RI., 2003,
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 004/Menkes/SK/l/2003 tentang Kebijakan dan
Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. Jakarta.
Fery Anton. 2009.
Evaluasi Pelaksanaan Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas Di
Kabupaten Karimun. Tesis KESMAS Universitas Jogjakarta.
Indrawati, Retno.
2012. Konsep Puskesmas. Diunduh pada tanggal 29 juni 2014 melalui http: //
ners.unair. ac.id/materi/PUSKESMAS, pdf.
Jem Erlinton, M. 2013.
Hubungan Antara Mutu Pelayanan Kesehatan Sarana Dan Prasarana Puskesmas Dengan
Kepuasan Pasien Di Puskesmas Tonusu. Poso. Skripsi KESMAS STIK IJ Palu.
Keputusan Mentri
Kesehatan Republik Indonesia No.128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar
Pusat Kesehatan Masyarakat.
Lafond, A, and Fields,
2003, The Prism: Introducing an Analytical Framework for Understanding
Performance of Routine Health Information Systems in Developing Countries: A
Workshop on Enhancing the Quality and Use of Health Information at the District
Level Eastern Cape Province, SouthAfrica, Tersedia dalam
http://www.changesproject.org/pubs/prismpapersafrica.pdf
Mackay, K., 2003,
Membangun System Pemantauan dan Evaluasi, Untuk Mewujudkan Tata Kelola
Pemerintahan yang Lebih Baik, IEG Independent Evaluation Group, diterjemahkan
Rudy H. Alam.
Matz. A. dan Usry. M.,
1994, Akuntansi Biaya, Perencaanaan dan Pengendalian, Jilid I, Edisi X,
Erlangga, Jakarta.
Neukatjeh, Fadlia.
2012. Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Tingkat Puskesmas. Diakses pada tanggal 2
Oktober 2014. Melalui
http://fadlianeukatjeh.wordpress.com/2012/01/23/sistem-pencatatan-dan-pelaporan-tingkat-puskesmas-sp2tp/
Notoatmodjo, S., 2003.
Ilmu Kesehatan Masyarakat, Cetakan Kedua, Rineka Cipta. Jakarta.
PASH Panggabean, Esron
Sirait, Meiske Elisabeth Korag, I Kadek Wartana, Fitri Ani, Subardin, Saiful,
Robet V.Pelima, Ni Made Rai Marleni, Sri Purwiningsi, 2014. Pedoman Penulisan
Proposal Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu.
Patton, Q.M., 1991,
Metode Evaluasi Kualitatif. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Rachmawati, I.K.,
2008, Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Andi.
Rajab, Wahyudin. 2009.
Buku Ajar Epidemologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : ECG.
Siagian. SP., 2001.
Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi, PT.Gunung Agung, Jakarta.
Simamora, H., 2006,
Manajemen Sumber Daya Manusia. STIE YKPN Edisi ketiga, Cetakan II. Yogyakarta.
Sugiyono, 2002,
Statistika untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung.
Sugiono, 2012, Metode
Penelitian Adiminstrasi, Cetakan Ke-21. Bandung : Alfabeta,Cv.
WHO, 2008, Health
Metrics Network: Framework and standards for country health information
systems, World Health Organization, Second edition, Avenue Appia, Geneva.
Wijono. D., 1997,
Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Airlangga University Press.
Surabaya.
Yin, R.K., 2006, Studi
Kasus Desain dan Metoda. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Post date: 2016-06-07 09:47:04
Post date GMT: 2016-06-07 09:47:04
Post modified date: 2016-06-07 09:47:04
Post modified date GMT: 2016-06-07 09:47:04
Powered by [ Universal Post Manager ] plugin. MS Word saving
format developed by gVectors Team www.gVectors.com
No comments:
Post a Comment