MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Friday, March 13, 2026

SOP TRAUMA KIMIA MATA

 


TRAUMA KIMIA MATA

http://dinkes.ciamiskab.go.id/wp-content/uploads/2015/11/lambangbarupkm-324x235.jpg

SOP

No. Dokumen  : SOP/VII/

                          UKP/      /16

No. Revisi        : -

Tanggal Terbit : 4 April 2016

Halaman          : 1/4

Puskesmas

.

 

.

1.      Pengertian

No. ICPC-2 : F79 Injury eye other

No. ICD-10 : T26Burn and corrosion confined to eye and adnexa

Tingkat Kemampuan 3A

Masalah Kesehatan

Trauma kimia mata adalah salah satu kasus kedaruratan mata, umumnya terjadi karena masuknya zat-zat kimia ke jaringan mata dan adneksa di sekitarnya. Keadaan ini memerlukan penanganan cepat dan segera oleh karena dapat mengakibatkan kerusakan berat pada jaringan mata dan menyebabkan kebutaan. Zat kimia penyebab dapat bersifat asam atau basa. Trauma basa terjadi dua kali lebih sering dibandingkan trauma asam dan umumnya menyebabkan kerusakan yang lebih berat pada mata. Selain itu, beratnya

kerusakan akibat trauma kimia juga ditentukan oleh besarnya area yang terkena zat kimia serta lamanya pajanan.

2.      Tujuan

Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur

3.      Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas

4.      Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5.      Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

1. Mata merah, bengkak dan iritasi

2. Rasa sakit pada mata

3. Penglihatan buram

4. Sulit membuka mata

5. Rasa mengganjal pada mata

 

Faktor Risiko

Pajanan terhadap zat kimia yang sering menjadi penyebab trauma antara lain detergen, desinfektan, pelarut kimia, cairan pembersih rumah tangga, pupuk, pestisida, dan cairan aki. Anamnesis perlu dilakukan untuk mengetahui zat kimia penyebab trauma, lama kontak dengan zat kimia, tempat dan kronologis kejadian, adanya kemungkinan kejadian kecelakaan di tempat kerja atau tindak kriminal, serta penanganan yang sudah dilakukan sebelumnya.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Dengan bantuan senter dan lup, dapat ditemukan kelainan berikut ini:

1. Hiperemia konjungtiva

2. Defek epitel kornea dan konjungtiva

3. Iskemia limbus kornea

4. Kekeruhan kornea dan lensa

 

Pemeriksaan visus menunjukkan ada penurunan ketajaman penglihatan. Bila tersedia, dapat dilakukan tes dengan kertas lakmus untuk mengetahui zat kimia penyebab

1.    Bila kertas lakmus terwarnai merah, maka zat penyebab bersifat asam

2.    Bila kertas lakmus terwarnai biru, maka zat penyebab bersifat basa

 

Pemeriksaan Penunjang

Tidak diperlukan

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Komplikasi

2/4

 
1. Simblefaron

2. Hipotoni bola mata

3. Ptisis bulbi

4. Entropion

5. Katarak

6. Neovaskularisasi kornea

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.    Segera lakukan irigasi mata yang terkena zat kimia dengan cairan mengalir sebanyak mungkin dan nilai kembali dengan kertas lakmus. Irigasi terus dilakukan hingga tidak terjadi pewarnaan pada kertas lakmus.

2.    Lakukan eversi pada kelopak mata selama irigasi dan singkirkan debris yang mungkin terdapat pada permukaan bola mata atau pada forniks.

3.    Setelah irigasi selesai dilakukan, nilai tajam penglihatan, kemudian rujuk segera ke dokter spesialis mata di fasilitas sekunder atau tersier.

 

Konseling & Edukasi

Anjuran untuk menggunakan pelindung (kacamata / goggle, sarung tangan, atau masker) pada saat kontak dengan bahan kimia

Kriteria Rujukan

Setelah penanganan awal dengan irigasi, rujuk pasien ke dokter spesialis mata untuk tatalaksana lanjut

Peralatan

1. Lup

2. Senter

3. Lidi kapas

4. Kertas lakmus (jika memungkinkan)

5. Cairan fisiologis untuk irigasi

 

Prognosis

1. Ad vitam : Bonam

2. Ad functionam : Dubia

3/4

 
3. Ad sanationam : Dubia

6.      Bagan Alir

Objective

 

Assessment

 

 
Oval: Plan
Oval: Subjective

 

 

 

 

 

 

 

 

 


7.      Unit Terkait

Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi, R. Persalinan

8.      Rekaman Historis Perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4/4

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment