|
|
SYOK |
|
||||||||||
|
SPO |
No.Dokumen:SPO/VIII/UKP/ /2016 |
|||||||||||
|
No. Revisi : |
||||||||||||
|
Tanggal Terbit:04 April 2016 |
||||||||||||
|
Halaman :1/6 |
||||||||||||
|
Puskesmas II Wangon |
|
drg.Imam Hidayat NIP.196008181989011001 |
||||||||||
|
1. Pengertian |
Syok merupakan salah satu sindroma kegawatan yang memerlukanpenanganan
intensif dan agresif. Syok adalah suatu sindroma multifaktorial yang menuju
hipoperfusi jaringan lokal atau sistemis dan mengakibatkan hipoksia sel dan
disfungsimultipel organ. |
|||||||||||
|
2. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah agar......... |
|||||||||||
|
3. Kebijakan |
SK Kepala Puskesmas
2 Wangon nomer............. |
|||||||||||
|
4. Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 |
|||||||||||
|
5. Prosedur |
Anamnesis (Subjective) Keluhan -
Lemas
atau dapat tidak sadarkan diri. -
Gejala
klinis juga tergantung etiologi penyebabnya, yang sering terjadi adalah
tromboemboli paru, tamponade jantung, obstruksi arterioventrikuler, tension
pneumotoraks. -
Faktor
predisposisi seperti karena infark miokard antara lain: umur, diabetes
melitus, riwayat angina, gagal jantung kongestif, infark anterior. Tanda awal
iskemi jantung akut yaitu nyeri dada, sesak nafas, diaforesis, gelisah dan
ketakutan, nausea dan vomiting dan gangguan sirkulasi lanjut menimbulkan
berbagai disfungsi endorgan. -
Riwayat
trauma untuk syok karena perdarahan atau syok neurogenik pada trauma servikal
atau high thoracic spinal cord injury. -
Demam
dan riwayat infeksi untuk syok septik. -
Gejala
klinis yang timbul setelah kontak dengan antigen pada syok anafilaktik. -
Syok
obstruktif, tampak hampir sama dengan syok kardiogenik dan hipovolemik. Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: 1. Hipotensi dan penyempitan tekanan
denyutan (adalah tanda hilangnya cairan yang berat dan syok). 2. Hipertermi, normotermi, atau
hipotermi dapat terjadi pada syok. Hipotermia adalah tanda dari hipovolemia
berat dan syok septik. 3. Detak jantung naik, frekuensi nafas
naik, kesadaran turun. 4. Produksi urin turun. Produksi urin
merupakan penunjuk awal hipovolemia dan respon ginjal terhadap syok. 5. Gambaran klinis syok kardiogenik
tampak sama dengan gejala klinis syok hipovolemik, ditambah dengan adanya
disritmia, bising jantung, gallop. 6. Gejala klinis syok septik tak dapat
dilepaskan dari keadaan sepsis sendiri berupa sindroma reaksi inflamasi
sistemik (SIRS) dimana terdapat dua gejala atau lebih: a. Temperatur >
380C atau < 360C. b. Heart rate >
90x/mnt. c. Frekuensi nafas
> 20x/mn atau PaCO2 < 4,3 kPa. d. Leukosit
>12.000 sel/mm atau <4000sel/mm atau >10% bentuk imatur. 7. Efek klinis syok anafilaktik
mengenai sistem pernafasan dan sistem sirkulasi, yaitu: Terjadi edema hipofaring dan laring,
konstriksi bronkus dan bronkiolus, disertai hipersekresi mukus, dimana semua
keadaan ini menyebabkan spasme dan obstruksi jalan nafas akut. 8. Syok neurogenik ditandai dengan
hipotensi disertai bradikardi. Gangguan neurologis: paralisis flasid, refleks
ekstremitas hilang dan priapismus. 9. Syok obstruktif, tampak hampir sama
dengan syok kardiogenik dan hipovolemik. Gejala klinis juga tergantung
etiologi penyebabnya, yang sering terjadi adalah tromboemboli paru, tamponade
jantung, obstruksi arterioventrikuler, tension pneumothorax. Gejala
ini akan berlanjut sebagai tanda-tanda akut kor pulmonal dan payah jantung
kanan: pulsasi vena jugularis, gallop, bising pulmonal, aritmia.
Karakteristik manifestasi klinis tamponade jantung: suara jantung menjauh,
pulsus altemans, JVP selama inspirasi. Sedangkan emboli
pulmonal: disritmia jantung, gagal jantung kongesti. Pemeriksaan Penunjang 1. Pulse oxymetri 2. EKG Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Diagnosis Banding:- Komplikasi Kerusakan otak, koma,kematian. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan 1. Pengenalan dan restorasi yang cepat
dari perfusi adalah kunci pencegahan disfungsi organ multipel dan kematian. 2. Pada semua bentuk syok, manajemen
jalan nafas dan pernafasan untuk memastikan oksigenasi pasien baik, kemudian
restorasi cepat dengan infus cairan. 3. Pilihan pertama adalah kristaloid
(Ringer laktat/Ringer asetat) disusul darah pada syok perdarahan. Keadaan
hipovolemi diatasi dengan cairan koloid atau kristaloid sekaligus memperbaiki
keadaan asidosis. 4. Pengobatan syok sebelumnya
didahului dengan penegakan diagnosis etiologi. Diagnosis awal etiologi syok
adalah esensial, kemudian terapi selanjutnya tergantung etiologinya. 5. Tindakan invasif seperti intubasi
endotrakeal dan cricothyroidotomy atau tracheostomy dapat
dilakukan hanya untuklife saving oleh dokter yang kompeten. Syok Hipovolemik: 1. Infus cepat kristaloid untuk
ekspansi volume intravaskuler melalui kanula vena besar (dapat lebih satu
tempat) atau melalui vena sentral. 2. Pada perdarahan maka dapat
diberikan 3-4 kali dari jumlah perdarahan. Setelah pemberian 3 liter disusul
dengan transfusi darah. Secara bersamaan sumber perdarahan harus dikontrol. 3. Resusitasi tidak komplit sampai
serum laktat kembali normal. Pasien syok hipovolemik berat dengan resusitasi
cairan akan terjadi penumpukan cairan di rongga ketiga. 4. Vasokonstriksi jarang diperlukan
pada syok hipovolemik murni. Syok Obstruktif: 1. Penyebab syok obstruktif harus
diidentifikasi dan segera dihilangkan. 2. Pericardiocentesis atau
pericardiotomi untuk tamponade jantung. 3. Dekompressi jarum atau pipa thoracostomy
atau keduanya pada tension pneumothorax. 4. Dukungan ventilasi dan jantung,
mungkin trombolisis, dan mungkin prosedur radiologi intervensional untuk
emboli paru. 5. Abdominal compartment syndrome diatasi
dengan laparotomi dekompresif. Syok Kardiogenik: 1. Optimalkan pra-beban dengan infus
cairan. 2. Optimalkan kontraktilitas jantung
dengan inotropik sesuai keperluan, seimbangkan kebutuhan oksigen jantung.
Selain itu, dapat dipakai dobutamin atau obat vasoaktif lain. 3. Sesuaikan pasca-beban untuk
memaksimalkan CO. Dapat dipakai vasokonstriktor bila pasien hipotensi dengan
SVR rendah. Pasien syok kardiogenik mungkin membutuhkan vasodilatasi untuk
menurunkan SVR, tahanan pada aliran darah dari jantung yang lemah. Obat yang
dapat dipakai adalah nitroprusside dan nitroglycerin. 4. Diberikan diuretik bila jantung
dekompensasi. 5. PACdianjurkan dipasang untuk
penunjuk terapi. 6. Penyakit jantung yang mendasari
harus diidentifikasi dan diobati. Syok Distributif: 1. Pada SIRS dan sepsis, bila terjadi
syok ini karena toksin atau mediator penyebab vasodilatasi. Pengobatan berupa
resusitasi cairan segera dan setelah kondisi cairan terkoreksi, dapat
diberikan vasopresor untuk mencapai MAP optimal. Sering terjadi vasopresor
dimulai sebelum pra-beban adekuat tercapai. Perfusi jaringan dan oksigenasi
sel tidak akan optimal kecuali bila ada perbaikan pra-beban. 2. Obat yang dapat dipakai adalah
dopamin, norepinefrin dan vasopresin. 3. Dianjurkan pemasangan PAC. 4. Pengobatan kausal dari sepsis. Syok Neurogenik: 1. Setelah mengamankan jalan nafas dan
resusitasi cairan, guna meningkatkantonus vaskuler dan mencegah bradikardi
diberikan epinefrin. 2. Epinefrin berguna meningkatkan
tonus vaskuler tetapi akan memperberat bradikardi, sehingga dapat ditambahkan
dopamin dan efedrin. Agen antimuskarinikatropin dan glikopirolat juga dapat
untuk mengatasi bradikardi. 3. Terapi definitif adalah stabilisasi
Medulla spinalis yang terkena. Rencana Tindak Lanjut Mencari penyebab syok dan mencatatnya
di rekam medis serta memberitahukan kepada pasien dan keluarga untuk tindakan
lebih lanjut yang diperlukan. Konseling dan Edukasi Keluarga perlu diberitahukan mengenai
kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada pasien dan pencegahan terjadinya
kondisi serupa. Kriteria Rujukan Setelah kegawatan pasien ditangani,
pasien dirujuk ke pelayanan kesehatan sekunder. Prognosis Prognosis suatu syok amat tergantung
dari kecepatan diagnosa dan pengelolaannya sehingga pada umumnya adalah dubia
ad bonam. |
|||||||||||
|
6. Diagram Alir
(bila perlu) |
|
|||||||||||
|
7. Unit terkait |
SemuaRuangan |
|||||||||||
|
8.Rekaman Historis Perubahan |
|
|||||||||||
No comments:
Post a Comment