|
PUSKESMAS PURWOKERTO
SELATAN |
Sinusitis |
Disahkan oleh 3 |
|||
|
SOP |
No Kode |
: |
|
||
|
Terbitan |
: |
|
|||
|
No. Revisi |
: |
|
|||
|
Tgl. Mulai Berlaku |
: |
|
|||
|
Halaman |
: |
|
|||
|
1.
Pengertian |
Sinusitis adalah penyakit akibat peradangan pada mukosa
sinus paranasal dan rongga hidung.
Peradangan ini sering disebabkan oleh virus atau bakteri. Sinus merupakan
rongga kecil berisi udara yang terletak di belakang tulang pipi dan dahi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.Tujuan |
Menegakkan
diagnosis Sinusitis dan memberikan tata laksana yang tepat |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3. Kebijakan |
Penatalaksanaan sinusitis di BP Umum
dengan menggunakan SPO ini |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia no514 tahun 2015 tentang panduan klinis
bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan 1. Gejala yang dialami, sesuai dengan kriteria
pada tabel 10.10 2.
Onset
timbulnya gejala, dibagi menjadi: a.
Akut : < 12 minggu b.
Kronis : ≥ 12 minggu 3.
Khusus
untuk sinusitis dentogenik: a.
Salah satu rongga hidung berbau busuk b.
Dari hidung dapat keluar ingus kental atau tidak beringus c.
Terdapat gigi di rahang atas yang berlubang / rusak
Faktor Risiko Keluhan atau riwayat terkait faktor risiko,
terutama pada kasus rinosinusitis kronik, penting untuk digali. Beberapa di
antaranya adalah: 1. Riwayat kelainan anatomis kompleks osteomeatal,
seperti deviasi septum 2. Rinitis alergi 3. Rinitis non-alergi, misalnya vasomotor,
medikamentosa 4. Polip hidung 5. Riwayat kelainan gigi atau gusi yang signifikan 6. Asma bronkial 7. Riwayat infeksi saluran pernapasan atas akut yang
sering berulang 8. Kebiasaan merokok 9. Pajanan polutan dari lingkungan sehari-hari 10. Kondisi imunodefisiensi, misalnya HIV/AIDS 11. Riwayat penggunaan kokain Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective) 1.
Suhu dapat meningkat 2. Pemeriksaan rongga mulut Dapat
ditemukan karies profunda pada gigi rahang atas. 3. Rinoskopi anterior Rinoskopi
anterior dapat dilakukan dengan atau tanpa dekongestan topikal. Pada
rinosinusitis akut dapat ditemukan: a. Edema dan / atau obstruksi mukosa di meatus
medius b. Sekret mukopurulen. Bila sekret tersebut nampak
pada meatus medius, kemungkinan sinus yang terlibat adalah maksila, frontal,
atau etmoid anterior. Pada sinusitis dentogenik, dapat pula tidak beringus. c. Kelainan anatomis yang mempredisposisi, misalnya:
deviasi septum, polip nasal, atau hipertrofi konka. 4. Rinoskopi posterior Bila pemeriksaan ini dapat dilakukan, maka dapat
ditemukan sekret purulen pada nasofaring. Bila sekret terdapat di depan muara
tuba Eustachius, maka berasal dari sinus-sinus bagian anterior (maksila,
frontal, etmoid anterior), sedangkan bila sekret mengalir di belakang muara
tuba Eustachius, maka berasal dari sinus-sinus bagian posterior (sfenoid,
etmoid posterior). 5. Otoskopi Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya
komplikasi pada telinga, misalnya tuba oklusi, efusi ruang telinga tengah,
atau kelainan pada membran timpani (inflamasi, ruptur). 6. Foto polos sinus paranasal dengan Water’s view
(AP / lateral), bila fasilitas tersedia. Pada posisi ini, sinus yang dapat dinilai adalah
maksila, frontal, dan etmoid. 7. Temuan yang menunjang diagnosis rinosinusitis
antara lain: penebalan mukosa (perselubungan), air-fluid level, dan
opasifikasi sinus yang terlibat. Foto polos sinus tidak direkomendasikan
untuk anak berusia di bawah 6 tahun. Pada pasien dewasa, pemeriksaan ini juga
bukan suatu keharusan, mengingat diagnosis biasanya dapat ditegakkan secara
klinis. Laboratorium, yaitu darah perifer lengkap,
bila diperlukan dan fasilitas tersedia. Penegakan Diagnosis (Assessment) Rinosinusitis Akut (RSA) Dasar penegakkan diagnosis RSA dapat dilihat
pada tabel berikut ini.
Rinosinusitis akut dapat dibedakan lagi
menjadi: 1. Rinosinusitis akut viral (common cold): Bila
durasi gejala < 10 hari 2. Rinosinusitis akut pasca-viral: a. Bila terjadi peningkatan intensitas gejala
setelah 5 hari, atau b. Bila gejala persisten > 10 hari namun masih
< 12 minggu 3. Rinosinusitis akut bakterial: Bila
terdapat sekurangnya 3 tanda / gejala berikut ini: a. Sekret berwarna atau purulen dari rongga hidung b. Nyeri yang berat dan terlokalisasi pada wajah c. Demam, suhu > 38oC d. Peningkatan LED / CRP e. Double sickening, yaitu perburukan setelah
terjadi perbaikan sebelumnya Rinosinusitis Kronis (RSK) Dasar penegakkan diagnosis RSK dapat dilihat
pada
Diagnosis Banding Berikut ini adalah diagnosis banding dari
rinosinusitis akut dan kronis:
Komplikasi 1. Kelainan orbita Penyebaran infeksi ke orbita paling sering
terjadi pada sinusitis etmoid, frontal, dan maksila. Gejala dan tanda yang
patut dicurigai sebagai infeksi orbita adalah: edema periorbita, selulitis
orbita, dan nyeri berat pada mata. Kelainan dapat mengenai satu mata atau
menyebar ke kedua mata. 2. Kelainan intrakranial Penyebaran infeksi ke intrakranial dapat
menimbulkan meningitis, abses ekstradural, dan trombosis sinus kavernosus.
Gejala dan tanda yang perlu dicurigai adalah: sakit kepala (tajam, progresif,
terlokalisasi), paresis nervus kranial, dan perubahan status mental pada
tahap lanjut. 3. Komplikasi lain, terutama pada
rinosinusitis kronik, dapat berupa: osteomielitis sinus maksila, abses
subperiosteal, bronkitis kronik, bronkiektasis. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Rinosinusitis Akut (RSA) Tujuan penatalaksanaan RSA adalah
mengeradikasi infeksi, mengurangi severitas dan durasi gejala, serta mencegah
komplikasi. Prinsip utama tatalaksana adalah memfasilitasi drainase sekret
dari sinus ke ostium di rongga hidung. Tatalaksana RSA dapat dilihat dalam
gambar Algoritma tatalaksana RSA. Konseling dan Edukasi : 1.
Pasien dan atau keluarga perlu mendapatkan penjelasan yang adekuat mengenai
penyakit yang dideritanya, termasuk faktor risiko yang diduga mendasari. 2.
Dokter bersama pasien dapat mendiskusikan hal-hal yang dapat membantu
mempercepat kesembuhan, misalnya: a. Pada pasien perokok, sebaiknya merokok
dihentikan. Dokter dapat membantu pasien berhenti merokok dengan melakukan
konseling (dengan metode 5A) atau anjuran (metode pengurangan, penundaan,
atau cold turkey, sesuai preferensi pasien). b. Bila terdapat pajanan polutan sehari-hari, dokter
dapat membantu memberikan anjuran untuk meminimalkannya, misalnya dengan
pasien menggunakan masker atau ijin kerja selama simtom masih ada. c. Pasien dianjurkan untuk cukup beristirahat dan
menjaga hidrasi. d. Pasien dianjurkan untuk membilas atau mencuci
hidung secara teratur dengan larutan garam isotonis (salin). Rencana Tindak Lanjut 1. Pasien dengan RSA viral (common cold) dievaluasi
kembali setelah 10 hari pengobatan. Bila tidak membaik, maka diagnosis
menjadi RSA pasca viral dan dokter menambahkan kortikosteroid (KS) intranasal
ke dalam rejimen terapi. 2. Pasien dengan RSA pasca viral dievaluasi kembali
setelah 14 hari pengobatan. Bila tidak ada perbaikan, dapat dipertimbangkan
rujukan ke spesialis THT. 3. Pasien dengan RSA bakterial dievaluasi kembali 48
jam setelah pemberian antibiotik dan KS intranasal. Bila tidak ada perbaikan,
dapat dipertimbangkan rujukan ke spesialis THT. Kriteria Rujukan Pada kasus RSA, rujukan segera ke spesialis
THT dilakukan bila: 1. Terdapat gejala dan tanda komplikasi, di
antaranya: Edema / eritema periorbital, perubahan posisi bola mata, Diplopia,
Oftalmoplegia, penurunan visus, sakit kepala yang berat, pembengkakan area
frontal, tanda-tanda iritasi meningeal, kelainan neurologis fokal. 2. Bila tidak terjadi perbaikan pasca terapi adekuat
setelah 10 hari (RSA viral), 14 hari (RSA pasca viral), dan 48 jam (RSA
bakterial). Rinosinusitis Kronis Strategi tatalaksana RSK meliputi
identifikasi dan tatalaksana faktor risiko serta pemberian KS intranasal atau
oral dengan / tanpa antibiotik. Tatalaksana RSK dapat dilihat pada Algoritma
tatalaksana RSK. Konseling dan Edukasi 1. Dokter perlu menjelaskan mengenai faktor risiko
yang mendasari atau mencetuskan rinosinusitis kronik pada pasien beserta
alternatif tatalaksana untuk mengatasinya. 2. Pencegahan timbulnya rekurensi juga perlu
didiskusikan antara dokter dengan pasien. Kriteria Rujukan Rujukan ke spesialis THT dilakukan apabila: 1. Pasien imunodefisien 2. Terdapat dugaan infeksi jamur 3. Bila rinosinusitis terjadi ≥ 4 kali dalam 1 tahun
4. Bila pasien tidak mengalami perbaikan setelah
pemberian terapi awal yang adekuat setelah 4 minggu. 5. Bila ditemukan kelainan anatomis ataupun dugaan
faktor risiko yang memerlukan tatalaksana oleh spesialis THT, misalnya:
deviasi septum, polip nasal, atau tumor. Sinusitis Dentogenik 1.
Eradikasi fokus infeksi, misal: ekstraksi gigi 2.
Irigasi sinus maksila 3.
Antibiotik |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
6.
Unit Terkait |
1. Dokter 2. Perawat |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
No comments:
Post a Comment