MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP SINDROMA DUH (DISCHARGE) GENITAL (GO DAN NGO)

 

67

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

SINDROMA DUH (DISCHARGE) GENITAL (GO DAN NGO)

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Vaginal discharge atau keluarnya duh tubuh dari vagina secara fisiologis yang mengalami perubahan sesuai dengan siklus menstruasi berupa cairan kental dan lengket pada seluruh siklus namun lebih cair dan bening ketika terjadi ovulasi. Masih dalam batas normal bila duh tubuh vagina lebih banyak terjadi pada saat stres, kehamilan atau aktivitas seksual.

Vaginal discharge bersifat patologis bila terjadi perubahan-perubahan pada warna, konsistensi, volume, dan baunya.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan sindroma duh (discharge) genital

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

 

Biasanya terjadi pada daerah genitalia wanita yang berusia di atas 12 tahun, ditandai dengan adanya perubahan pada duh tubuh disertai salah satu atau lebih gejala rasa gatal, nyeri, disuria, nyeri panggul, perdarahan antar menstruasi atau perdarahan paska-koitus.

 

Faktor Risiko

Terdapat riwayat koitus dengan pasangan yang dicurigai menularkan penyakit menular seksual.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana(Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Penyebab discharge terbagi menjadi masalah infeksi dan non infeksi. Masalah non infeksi dapat karena benda asing, peradangan akibat alergi            atau  iritasi,  tumor,  vaginitis  atropik,  atau  prolaps  uteri, sedangkan masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau virus seperti berikut ini:

1.  Kandidiasis  vaginitis,  disebabkan  oleh  Candida  albicans,  duh tubuh tidak berbau, pH <4,5 , terdapat eritema vagina dan eritema satelit di luar vagina

2. Vaginosis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya Gardnerella  vaginalis),  memperlihatkan  adanya  duh  putih  atau abu-abu yang melekat di sepanjang dinding vagina dan vulva, berbau amis dengan pH >4,5.

3.  Servisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi serviks yang mudah berdarah dan disertai duh mukopurulen

4.  Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh kuning kehijauan,  duh berbuih, bau amis dan pH >4,5.

5.  Pelvic inflammatory disease (PID) yang disebabkan oleh chlamydia, ditandai        dengan  nyeri  abdomen  bawah,  dengan  atau  tanpa demam. Servisitis bisa ditandai dengan kekakuan adneksa dan serviks pada nyeri angkat palpasi bimanual.

6.  Liken planus

7.  Gonore

8.  Infeksi menular seksual lainnya

9.  Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom yang terlupa diangkat)

 

Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya kelainan patologis yang lebih serius.

 

Pemeriksaan Penunjang

Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk diperiksa, kecuali pada keadaan keraguan menegakkan diagnosis, gejala kambuh, pengobatan gagal, atau pada saat kehamilan, postpartum, postaborsi dan postinstrumentation.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis  ditegakkan  berdasarkan  anamnesis,  pemeriksaan spekulum, palpasi bimanual, uji pH duh vagina dan swab (bila diperlukan).

 

Diagnosis Banding : -

 

Komplikasi

1.  Radangpanggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dapat terjadi bila infeksi merambah ke atas, ditandai dengan nyeri tekan, nyeri panggul kronis, dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik

2.  Infeksi vagina yang terjadi pada saat paska aborsi atau paska melahirkan dapat menyebabkan kematian, namun dapat dicegah dengan diobati dengan baik

3.  Infertilitas merupakan komplikasi yang kerap terjadi akibat PID, selain itu kejadian abortus spontan dan janin mati akibat sifilis dapat menyebabkan infertilitas

4.  Kehamilan ektopik dapat menjadi komplikasi akibat infeksi vaginal yang menjadi PID.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Pasien dengan riwayat risiko rendah penyakit menular seksual dapat diobati sesuai dengan gejala dan arah diagnosisnya.

 

Vaginosis bakterial:

1.  Metronidazol atau Klindamisin secara oral atau per vaginam.

2.  Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.

3.  Bila sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazol 400 mg

2x     sehari     untuk     5-7     hari     atau     pervaginam.     Tidak direkomendasikan untuk  minum 2 gram peroral.

4.  Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim hati.

5.  Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami vaginosis bakterial dianjurkan untuk mengganti metode kontrasepsinya.

 

Vaginitis kandidiosis terbagi atas:

1.  Infeksi tanpa komplikasi

2.  Infeksi parah

3.  Infeksi kambuhan

4.  Dengan kehamilan

5.  Dengan diabetes atau immunocompromise

 

Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis:

1.    Dapat diberikan azol antifungal oral atau pervaginam

2.    Tidak perlu pemeriksaan pasangan

3.    Pasien dengan vulvovaginal kandidiosis yang berulang dianjurkan untuk memperoleh pengobatan paling lama 6 bulan.

4.    Pada saat kehamilan, hindari obat anti-fungi oral, dan gunakan imidazol topikal hingga 7 hari.

5.    Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks lainnya, bahwa penggunaan antifungi lokal dapat merusak lateks

6.    Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami vulvovaginalkandidiosis berulang,dipertimbangkanuntuk menggunakan metoda kontrasepsi lainnya

 

Chlamydia:

1.    Azithromisin 1 gram single  dose, atau Doksisiklin 100 mg 2 x sehari untuk 7 hari

2.    Ibu hamil dapat diberikan Amoksisilin 500 mg 3 x sehari untuk 7 hari atau Eritromisin 500 mg 4 x sehari untuk 7 hari

 

Trikomonas vaginalis:

1.    Obat minum nitromidazol (contoh metronidazol) efektif untuk mengobati trikomonas vaginalis

2.    Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa dan diobati bersama dengan pasien

3.    Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan regimen oral   penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis tunggal

4.    Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu dipertimbangkan pula adanya resistensi obat

 

Gonore:

1.    Memberitahu pasien untuk tidak melakukan kontak seksual hingga dinyatakan sembuh dan menjaga kebersihan genital.

2.    Pemberian farmakologi dengan antibiotik: Tiamfenikol, 3,5 gr per oral (p.o) dosis tunggal, atau Ofloksasin 400 mg (p.o) dosis tunggal, atau Kanamisin 2 gram Intra Muskular (I.M) dosis tunggal.

Tiamfenikol, ofloksasin dan siprofloksasin merupakan kontraindikasi pada kehamilan dan tidak dianjurkan pada anak dan dewasa muda.

 

Rencana Tindak Lanjut

 

Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa chlamydia, gonore, sifilis dan HIV.

 

Konseling dan Edukasi

1.  Pasien diberikan pemahaman tentang penyakit, penularan serta penatalaksanaan di tingkat rujukan.

2. Pasien disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama penyakit belum tuntas diobati.

 

Kriteria Rujukan

Pasien dirujuk apabila:

1.  Tidak terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan

2.  Dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman gonore

3.  Adanya arah kegagalan pengobatan

 

Peralatan

1.  Ginecology bed

2.  Spekulum vagina

3.  Lampu

4.  Kertas lakmus

 

Prognosis

Prognosis pada umumnya dubia ad bonam.

Faktor-faktor yang menentukan prognosis, antara lain:

1.  Prognosis lebih buruk apabila adanya gejala radang panggul

2.  Prognosis lebih baik apabila mampu memelihara kebersihan diri (hindari penggunaan antiseptik vagina yang malah membuat iritasi dinding vagina)

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment