|
125 Dinkes Kab Defgh |
PEDIKULOSIS
KAPITIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Pedikulosis kapitis adalah
infeksi dan infestasi
kulit kepala dan rambut
manusia yang disebabkan oleh
kutu kepala Pediculus humanus var
capitis. Penyakit ini
terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam
lingkungan hidup yang padat, misalnya di asrama atau panti asuhan. Ditambah
pula dalam kondisi higiene yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan
rambut atau rambut yang relatif susah dibersihkan (rambut yang sangat panjang
pada wanita). Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyebab, melalui: 1. Kontak fisik erat dengan kepala penderita, seperti tidur bersama. 2. Kontak melalui fomite yang terinfestasi, misalnya pemakaian bersama
aksesori kepala, sisir, dan bantal juga dapat menyebabkan kutu menular. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan pedikulosis kapitis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Gejala yang paling sering timbul adalah gatal di
kepala akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu saat makan maupun
terhadap feses kutu. Gejala dapat pula asimptomatik Faktor Risiko 1. Status
sosioekonomi yang rendah. 2. Higiene
perorangan yang rendah 3. Prevalensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan
pada pria, terutama pada populasi anak usia sekolah. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Lesi kulit terjadi karena bekas garukan, yaitu
bentuk erosi dan ekskoriasi. Bila terdapat infeksi sekunder oleh bakteri,
maka timbul pus dan krusta
yang menyebabkan rambut
bergumpal, disertai dengan
pembesaran kelenjar getah bening regional. Ditemukan telur dan kutu yang
hidup pada kulit kepala dan rambut. Telur P. humanus var. capitis paling
sering ditemukan pada rambut di daerah oksipital dan retroaurikular. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik dengan menemukan kutu atau telur kutu di kulit kepala dan
rambut. Diagnosis Banding Tinea kapitis, Impetigo krustosa (pioderma),
Dermatitis seboroik Komplikasi Infeksi sekunder bila pedikulosis berlangsung
kronis. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Pengobatan bertujuan untuk memusnahkan semua kutu
dan telur serta mengobati infeksi sekunder. 1. Sebaiknya
rambut pasien dipotong sependek mungkin, kemudian disisir dengan menggunakan
sisir serit, menjaga kebersihan kulit kepala dan menghindari kontak erat
dengan kepala penderita. 2. Pengobatan topikal merupakan terapi terbaik,
yaitu dengan pedikulosid dengan pengobatan Permetrin 1% dalam bentuk cream
rinse, dibiarkan selama 2 jam. Pedikulosid sebaiknya tidak digunakan pada anak usia
kurang dari 2 tahun. Cara
penggunaan: rambut dicuci
dengan shampo, kemudian dioleskan losio/krim dan ditutup dengan kain.
Setelah menunggu sesuai waktu yang ditentukan, rambut dicuci kembali lalu
disisir dengan sisir serit. 3. Pada infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut
dicukur, diberikan pengobatan dengan
antibiotik sistemik dan
topikal telebih dahulu, lalu diberikan obat di atas dalam bentuk
shampo. Konseling dan Edukasi Edukasi
keluarga tentang pedikulosis
penting untuk pencegahan. Kutu kepala dapat ditemukan di
sisir atau sikat rambut, topi, linen, boneka kain, dan upholstered furniture,
walaupun kutu lebih memilih untuk berada dalam jarak dekat dengan kulit
kepala, sehingga harus menghindari pemakaian alat-alat tersebut bersama-sama.
Anggota keluarga dan teman bermain anak yang terinfestasi harus diperiksa,
namun terapi hanya
diberikan pada yang
terbukti mengalami infestasi.
Kerjasama semua pihak dibutuhkan agar eradikasi dapat tercapai. Kriteria Rujukan Apabila terjadi infestasi kronis dan tidak sensitif
terhadap terapi yang diberikan. Peralatan Tidak
diperlukan peralatan khusus
untuk mendiagnosis penyakit pedikulosis kapitis. Prognosis Prognosis umumnya bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment