|
138
Dinkes Kab Defgh |
MILIARIA |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Miliaria adalah
kelainan kulit akibat retensi keringat yang ditandai oleh adanya vesikel
milier. Sinonim untuk penyakit ini adalah biang keringat, keringat buntet,
liken tropikus, prickle heat. Berdasarkan survey yang dilakukan di Jepang
didapatkan 5000 bayi baru lahir menderita miliaria. Survey tersebut
mengungkapkan bahwa miliaria kristalina
terjadi pada 4,5%
nenonatus dengan usia
rata-rata 1 minggu dan miliaria
rubra terjadi pada 4% neonatus dengan usia rata-rata 11-14 hari. Dari sebuah
survey yang dilakukan di Iran ditemukan insiden miliaria pada 1,3% bayi baru
lahir. Miliaria umumnya terjadi di daerah tropis dan banyak diderita pada
mereka yang baru saja pindah dari daerah yang beriklim sedang ke daerah yang
beriklim tropis. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan miliaria |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan yang dirasakan adalah gatal yang disertai
timbulnya vesikel atau bintil, terutama muncul saat berkeringat, pada lokasi
predileksi, kecuali pada miliaria profunda. Faktor Risiko 1. Tinggal di
lingkungan tropis, panas, kelembaban yang tinggi. 2. Pemakaian
baju terlalu ketat. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda patognomonis Tergantung pada jenis atau klasifikasi miliaria.
Klasifikasi miliaria : 1. Miliaria
kristalina a. Terdiri atas vesikel miliar (1-2 mm), sub korneal
tanpa tanda inflamasi, mudah pecah dengan garukan, dan deskuamasi dalam
beberapa hari. b. Predileksi
pada badan yang tertutup pakaian. c. Gejala
subjektif ringan dan tidak memerlukan pengobatan. 2. Milaria
rubra a. Jenis tersering, terdiri atas vesikel miliar atau papulo vesikel di atas dasar
eritematosa sekitar lubang keringat, tersebar diskret. b. Gejala
subjektif gatal dan pedih pada di daerah predileksi. 3. Miliaria
profunda a. Merupakan kelanjutan miliaria rubra, berbentuk
papul putih keras berukuran 1-3
mm, mirip folikulitis, dapat
disertai pustul. b. Predileksi
pada badan dan ekstremitas. 4. Miliaria
pustulosa Berasal dari miliaria rubra, dimana vesikelnya
berubah menjadi pustul. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Ditegakkan
ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaaan fisik. Diagnosis Banding Campak / morbili, Folikulitis, Varisela, Kandidiasis
kutis, Erupsi obat morbiliformis Komplikasi Infeksi sekunder Pemeriksaan Penunjang: Tidak diperlukan
Penatalaksanaan: Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mengurangi pruritus, menekan
inflamasi, dan membuka retensi keringat. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan
adalah: 1.
Melakukan modifikasi gaya hidup, yaitu: a.
Memakai pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat. b. Menghindari panas dan kelembaban yang
berlebihan c.
Menjaga kebersihan kulit d. Mengusahakan
ventilasi yang baik 2.
Memberikan farmakoterapi, seperti: a.
Topikal • Bedak
kocok: likuor faberi
atau bedak kocok
yang mengandung kalamin dan antipruritus lain (mentol dan kamfora)
diberikan 2 kali sehari selama 1 minggu. •
Lanolin topikal atau bedak salisil 2% dibubuhi mentol ¼-2% sekaligus
diberikan 2 kali sehari selama 1 minggu. Terapi berfungsi sebagai
antipruritus untuk menghilangkan dan mencegah timbulnya miliaria profunda. b.
Sistemik (bila gatal dan bila diperlukan) •
Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg per hari selama 7
hari atau setirizin 1 x 10 mg per hari
selama 7 hari •
Antihistamin non sedatif:
loratadin 1 x
10 mg per
hari selama 7 hari.
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan
penunjang.
Konseling dan Edukasi Edukasi
dilakukan dengan memberitahu keluarga
agar dapat membantu pasien
untuk: 1.
Menghindari kondisi hidrasi
berlebihan atau membantu
pasien untuk memakai pakaian yang sesuai dengan kondisinya. 2.
Menjaga ventilasi udara di dalam rumah. 3.
Menghindari banyak berkeringat. 4.
Memilih lingkungan yang lebih sejuk dan sirkulasi udara
(ventilasi)cukup. 5.
Mandi air dingin dan memakai sabun. Kriteria Rujukan Tidak ada indikasi rujukan
Peralatan Tidak
diperlukan peralatan khusus
untuk mendiagnosis penyakit miliaria.
Prognosis Prognosis umumnya bonam, pasien dapat sembuh
tanpa komplikasi. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
|
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment