MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP MILIARIA

 

138

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

MILIARIA

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Miliaria adalah kelainan kulit akibat retensi keringat yang ditandai oleh adanya vesikel milier. Sinonim untuk penyakit ini adalah biang keringat, keringat buntet, liken tropikus, prickle heat. Berdasarkan survey yang dilakukan di Jepang didapatkan 5000 bayi baru lahir menderita miliaria. Survey tersebut mengungkapkan bahwa miliaria kristalina  terjadi  pada  4,5%  nenonatus  dengan  usia  rata-rata  1 minggu dan miliaria rubra terjadi pada 4% neonatus dengan usia rata-rata 11-14 hari. Dari sebuah survey yang dilakukan di Iran ditemukan insiden miliaria pada 1,3% bayi baru lahir. Miliaria umumnya terjadi di daerah tropis dan banyak diderita pada mereka yang baru saja pindah dari daerah yang beriklim sedang ke daerah yang beriklim tropis.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan miliaria

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan yang dirasakan adalah gatal yang disertai timbulnya vesikel atau bintil, terutama muncul saat berkeringat, pada lokasi predileksi, kecuali pada miliaria profunda.

 

Faktor Risiko

1.  Tinggal di lingkungan tropis, panas, kelembaban yang tinggi.

2.  Pemakaian baju terlalu ketat.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Tanda patognomonis

Tergantung pada jenis atau klasifikasi miliaria. Klasifikasi miliaria :

1.   Miliaria kristalina

a. Terdiri atas vesikel miliar (1-2 mm), sub korneal tanpa tanda inflamasi, mudah pecah dengan garukan, dan deskuamasi dalam beberapa hari.

b.  Predileksi pada badan yang tertutup pakaian.

c.  Gejala subjektif ringan dan tidak memerlukan pengobatan.

2.   Milaria rubra

a. Jenis tersering, terdiri atas vesikel  miliar atau papulo vesikel di atas dasar eritematosa sekitar lubang keringat, tersebar diskret.

b.  Gejala subjektif gatal dan pedih pada di daerah predileksi.

3.   Miliaria profunda

a. Merupakan kelanjutan miliaria rubra, berbentuk papul putih keras  berukuran  1-3  mm,  mirip  folikulitis,  dapat  disertai pustul.

b.  Predileksi pada badan dan ekstremitas.

4.   Miliaria pustulosa

Berasal dari miliaria rubra, dimana vesikelnya berubah menjadi pustul.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Ditegakkan  ditegakkan  berdasarkan  anamnesis  dan  pemeriksaaan fisik.

 

Diagnosis Banding

Campak / morbili, Folikulitis, Varisela, Kandidiasis kutis, Erupsi obat morbiliformis

 

Komplikasi

Infeksi sekunder

 

Pemeriksaan Penunjang:

Tidak diperlukan

 

Penatalaksanaan:

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah mengurangi pruritus, menekan inflamasi, dan membuka retensi keringat. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah:

1.  Melakukan modifikasi gaya hidup, yaitu:

a.  Memakai pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat. b.  Menghindari panas dan kelembaban yang berlebihan

c.  Menjaga kebersihan kulit

d.  Mengusahakan ventilasi yang baik

2.  Memberikan farmakoterapi, seperti:

a.  Topikal

• Bedak  kocok:  likuor  faberi  atau  bedak  kocok  yang mengandung kalamin dan antipruritus lain (mentol dan kamfora) diberikan 2 kali sehari selama 1 minggu.

•  Lanolin topikal atau bedak salisil 2% dibubuhi mentol ¼-2% sekaligus diberikan 2 kali sehari selama 1 minggu. Terapi berfungsi sebagai antipruritus untuk menghilangkan dan mencegah timbulnya miliaria profunda.

b.  Sistemik (bila gatal dan bila diperlukan)

•  Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg per hari selama 7 hari atau  setirizin 1 x 10 mg per hari selama 7 hari

•  Antihistamin  non  sedatif:  loratadin  1  x  10  mg  per  hari selama 7 hari.

 

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang.

 

Konseling dan Edukasi

Edukasi   dilakukan   dengan   memberitahu   keluarga   agar   dapat membantu pasien untuk:

1.  Menghindari  kondisi  hidrasi  berlebihan  atau  membantu  pasien untuk memakai pakaian yang sesuai dengan kondisinya.

2.  Menjaga ventilasi udara di dalam rumah.

3.  Menghindari banyak berkeringat.

4.  Memilih lingkungan yang lebih sejuk dan sirkulasi udara (ventilasi)cukup.

5.  Mandi air dingin dan memakai sabun. Kriteria Rujukan

Tidak ada indikasi rujukan

 

Peralatan

Tidak  diperlukan  peralatan  khusus  untuk  mendiagnosis  penyakit miliaria.

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, pasien dapat sembuh tanpa komplikasi.

F. Diagram Alir

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


No comments:

Post a Comment