MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP DERMATITIS PERIORAL

 

137

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

DERMATITIS PERIORAL

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Dermatitits perioral adalah erupsi eritematosa persisten yang terdiri dari papul kecil dan papulo-pustul yang berlokasi di sekitar mulut.

Dermatitis perioral dapat terjadi pada anak dan dewasa. Dalam populasi  dewasa,  penyakit  ini  lebih  sering  terjadi  pada  wanita daripada pria. Namun, selama masa kanak-kanak persentase pasien pria  lebih  besar.  Pada  anak-anak,  penyakit  ini  memiliki kecenderungan untuk meluas ke periorbita atau perinasal. Beberapa agen penyebab terlibat dalam patogenesis penyakit ini diantaranya penggunaan kosmetik dan glukokortikoid. Studi case control di Australia memperlihatkan bahwa pemakaian kombinasi foundation, pelembab dan krim malam meningkatkan risiko terjadinya dermatitis perioral secara signifikan. Penggunaan kortikosteroid merupakan penyebab  utama  penyakit  ini  pada  anak-anak.  Beberapa  faktor lainnya yang juga diidentifikasai diantaranya infeksi, faktor hormonal, pemakaian pil kontrasepsi, kehamilan, fluoride dalam pasta gigi, dan sensitasi merkuri dari tambalan amalgam. Demodex folliculorum dianggapmemainkan peran penting dalam patogenesis dermatitis perioral terutama pada anak dengan imunokompromais. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa density dari D.folliculorum merupakan fenomena sekunder penyebab dermatitis perioral.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan Dermatitits perioral

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan yang dirasakan pasien adalah gatal dan rasa panas disertai timbulnya lesi di sekitar mulut.

 

Faktor Risiko

1.  Pemakaian kortikosteroid topikal.

2.  Pemakaian kosmetik.

3.  Pasien imunokompromais

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Tanda patognomonis

Erupsi eritematosa yang terdiri dari papul, papulopustul atau papulovesikel, biasanya tidak lebih dari 2 mm. Lesi berlokasidi sekitar mulut, namun pada anak lesi dapat meluas ke perinasal atau periorbita.

 

Pemeriksaan Penunjang

Umumnya tidak diperlukan.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Ditegakkan  ditegakkan  berdasarkan  anamnesis  dan  pemeriksaaan fisik.

 

Diagnosis Banding

Dermatitis  kontak,  Dermatitis  seboroik,  Rosasea,  Akne,  Lip-licking cheilitis, Histiocytosis , Sarkoidosis

 

Komplikasi

Infeksi sekunder

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

Untuk keberhasilan pengobatan, langkah pertama yang dilakukan adalah menghentikan penggunaan semua kosmetik dan kortikosteroid topikal. Jika tidak diobati, bentuk klasik dermatitis perioral memiliki kecenderungan untuk bertahan, terutama jika pasien terbiasa menggunakan pelembab atau krim malam.

 

Dalam     kasus     resisten,     dermatitis     perioral     membutuhkan farmakoterapi, seperti:

1.  Topikal

a.  Klindamisin krim 1%, satu atau dua kali sehari b.  Eritromisin krim 2-3% satu atau dua kali sehari

c.  Asam azelaik krim 20% atau gel 15%, dua kali sehari d.  Adapalene gel 0,1%, sekali sehari selama 4 minggu

2.  Sistemik

a.  Tetrasiklin  250-500  mg,  dua  kali  sehari  selama  3  minggu.

Jangan diberikan pada pasien sebelum usia pubertas.

b.  Doksisiklin  100  mg  per  hari  selama  3  minggu.  Jangan diberikan pada pasien sebelum usia pubertas.

c.Minosiklin 100 mg per hari selama 4 minggu. Jangan diberikan pada pasien sebelum usia pubertas.

d.  Eritromisin 250 mg, dua kali sehari selama 4-6 minggu

e.Azytromisin 500 mg per hari, 3 hari berturut-turut per minggu selama 4 minggu.

 

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

 

Pada pasien yang menderita dermatitis perioral dalam waktu lama, pemeriksaan mikroskopis lesi dapat disarankan untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri, jamur atau adanya Demodex folliculorum.

 

Konseling dan Edukasi

Edukasi dilakukan terhadap pasien dan pada pasien anak edukasi dilakukan kepada orangtuanya. Edukasi berupa menghentikan pemakaian semua kosmetik, menghentikan pemakaian kortikostroid topikal. Eritema dapat terjadi pada beberapa hari setelah penghentian steroid.

 

Kriteria rujukan

Pasien dirujuk apabila memerlukan pemeriksaan mikroskopik atau pada pasien dengan gambaran klinis yang tidak biasa dan perjalanan penyakit yang lama.

 

Peralatan

Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis penyakit dermatitis perioral.

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam jika pasien menghentikan penggunaan kosmetik atau kortikosteroid topikal.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment