|
137 Dinkes Kab Defgh |
DERMATITIS
PERIORAL |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Dermatitits perioral adalah erupsi eritematosa persisten yang terdiri
dari papul kecil dan papulo-pustul yang berlokasi di sekitar mulut. Dermatitis perioral dapat terjadi pada anak dan dewasa. Dalam
populasi dewasa, penyakit
ini lebih sering
terjadi pada wanita daripada pria. Namun, selama masa
kanak-kanak persentase pasien pria
lebih besar. Pada
anak-anak, penyakit ini
memiliki kecenderungan untuk meluas ke periorbita atau perinasal.
Beberapa agen penyebab terlibat dalam patogenesis penyakit ini diantaranya
penggunaan kosmetik dan glukokortikoid. Studi case control di Australia
memperlihatkan bahwa pemakaian kombinasi foundation, pelembab dan krim malam
meningkatkan risiko terjadinya dermatitis perioral secara signifikan.
Penggunaan kortikosteroid merupakan penyebab
utama penyakit ini
pada anak-anak. Beberapa
faktor lainnya yang juga diidentifikasai diantaranya infeksi, faktor
hormonal, pemakaian pil kontrasepsi, kehamilan, fluoride dalam pasta gigi,
dan sensitasi merkuri dari tambalan amalgam. Demodex folliculorum
dianggapmemainkan peran penting dalam patogenesis dermatitis perioral terutama
pada anak dengan imunokompromais. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa
density dari D.folliculorum merupakan fenomena sekunder penyebab dermatitis
perioral. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Dermatitits
perioral |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan yang dirasakan pasien adalah gatal dan rasa
panas disertai timbulnya lesi di sekitar mulut. Faktor Risiko 1. Pemakaian
kortikosteroid topikal. 2. Pemakaian
kosmetik. 3. Pasien
imunokompromais Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda patognomonis Erupsi eritematosa yang terdiri dari papul,
papulopustul atau papulovesikel, biasanya tidak lebih dari 2 mm. Lesi
berlokasidi sekitar mulut, namun pada anak lesi dapat meluas ke perinasal
atau periorbita. Pemeriksaan Penunjang Umumnya tidak diperlukan. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Ditegakkan
ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaaan fisik. Diagnosis Banding Dermatitis
kontak, Dermatitis seboroik,
Rosasea, Akne, Lip-licking cheilitis, Histiocytosis ,
Sarkoidosis Komplikasi Infeksi sekunder Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Untuk keberhasilan pengobatan, langkah pertama yang
dilakukan adalah menghentikan penggunaan semua kosmetik dan kortikosteroid
topikal. Jika tidak diobati, bentuk klasik dermatitis perioral memiliki
kecenderungan untuk bertahan, terutama jika pasien terbiasa menggunakan
pelembab atau krim malam. Dalam
kasus resisten, dermatitis perioral membutuhkan farmakoterapi, seperti: 1. Topikal a.
Klindamisin krim 1%, satu atau dua kali sehari b. Eritromisin krim 2-3% satu atau dua kali
sehari c. Asam
azelaik krim 20% atau gel 15%, dua kali sehari d. Adapalene gel 0,1%, sekali sehari selama 4
minggu 2. Sistemik a.
Tetrasiklin 250-500 mg,
dua kali sehari
selama 3 minggu. Jangan diberikan pada pasien sebelum usia pubertas. b.
Doksisiklin 100 mg
per hari selama
3 minggu. Jangan diberikan pada pasien sebelum usia
pubertas. c.Minosiklin 100 mg per hari selama 4 minggu. Jangan
diberikan pada pasien sebelum usia pubertas. d.
Eritromisin 250 mg, dua kali sehari selama 4-6 minggu e.Azytromisin 500 mg per hari, 3 hari berturut-turut
per minggu selama 4 minggu. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan Pada pasien yang menderita dermatitis perioral dalam
waktu lama, pemeriksaan mikroskopis lesi dapat disarankan untuk mengetahui
apakah ada infeksi bakteri, jamur atau adanya Demodex folliculorum. Konseling dan Edukasi Edukasi dilakukan terhadap pasien dan pada pasien
anak edukasi dilakukan kepada orangtuanya. Edukasi berupa menghentikan
pemakaian semua kosmetik, menghentikan pemakaian kortikostroid topikal.
Eritema dapat terjadi pada beberapa hari setelah penghentian steroid. Kriteria rujukan Pasien dirujuk apabila memerlukan pemeriksaan
mikroskopik atau pada pasien dengan gambaran klinis yang tidak biasa dan
perjalanan penyakit yang lama. Peralatan Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis
penyakit dermatitis perioral. Prognosis Prognosis umumnya bonam jika pasien menghentikan
penggunaan kosmetik atau kortikosteroid topikal. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment