MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP HIDRADENITIS SUPURATIF

 

136

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

HIDRADENITIS SUPURATIF

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Hidradenitis supuratif atau disebut juga akne inversa adalah peradangan kronis dan supuratif pada kelenjar apokrin. Penyakit ini terdapat pada usia pubertas sampai usia dewasa muda. Prevalensi keseluruhan adalah sekitar 1%. Rasio wanita terhadap pria adalah

3:1. Dari beberapa penelitian epidemiologi diketahui bahwa sepertiga pasien hidradenitis supuratif memiliki kerabat dengan hidradenitis. Merokok dan obesitas merupakan faktor risiko untuk penyakit ini. Penyakit ini juga sering didahului oleh trauma atau mikrotrauma, misalnya banyak keringat, pemakaian deodorant atau rambut ketiak digunting.

Beberapa bakteri telah diidentifikasi dalam kultur yang diambil dari lesi hidradenitis supuratif, diantaranya adalah Streptococcusviridans, Staphylococcus  aureus, bakteri anaerob (Peptostreptococcus  spesies, Bacteroides melaninogenicus, dan Bacteroides corrodens), Coryneformbacteria, dan batang Gram-negatif.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan hidradenitis supuratif

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan awal yang dirasakan pasien adalah gatal, eritema, dan hiperhidrosis lokal. Tanpa pengobatan penyakit ini dapat berkembang dan pasien merasakan nyeri di lesi.

 

Faktor Risiko

Merokok, obesitas, banyak berkeringat, pemakaian deodorant, menggunting rambut ketiak

 

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Ruam berupa nodus dengan tanda-tanda peradangan akut, kemudian dapat melunak menjadi abses, dan memecah membentuk fistula dan disebut hidradenitis supuratif. Pada yang menahun dapat terbentuk abses, fistel, dan sinus yang multipel. Terdapat leukositosis.

Lokasi predileksi di aksila,  lipat paha, gluteal, perineum dan daerah payudara.  Meskipun  penyakit  ini  di  aksila  seringkali  ringan,  di perianal sering progresif dan berulang.

 

Ada dua sistem klasifikasi untuk menentukan keparahan hidradenitis supuratif, yaitu dengan sistem klasifikasi Hurley dan Sartorius.

1. Hurley  mengklasifikasikan  pasien  menjadi  tiga  kelompok berdasarkan adanya dan luasnyajaringan parutdan sinus.

a. TahapI :  lesi   soliter   atau   multipel,   ditandai   dengan pembentukan abses  tanpa  saluran  sinus  atau jaringan parut.

b.  Tahap II  :  lesi single atau multipel dengan abses berulang, ditandai dengan pembentukan saluran sinus dan jaringan parut.

c. TahapIII :  tahap yang palingparah, beberapa saluran saling berhubungan dan   abses   melibatkan   seluruh daerah anatomi  (misalnya  ketiak  atau  pangkal paha).

2.  Skor Sartorius. Skor didapatkan dengan menghitung jumlah lesi kulit dan tingkat keterlibatan di setiap lokasi anatomi. Lesi yang lebih parah seperti fistula diberikan skor yang lebih tinggi dari pada lesi ringan seperti abses. Skor dari semua lokasi anatomi ditambahkan untuk mendapatkan skor total.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah lengkap

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Ditegakkan  ditegakkan  berdasarkan  anamnesis  dan  pemeriksaaan fisik.

 

Diagnosis Banding

Furunkel, karbunkel, kista epidermoid atau kista dermoid, Erisipelas, Granuloma inguinal, Lymphogranuloma venereum, Skrofuloderma

 

Komplikasi

1.  Jaringan parut di lokasi lesi.

2.  Inflamasi kronis pada genitofemoral dapat menyebabkan striktur di anus, uretra atau rektum.

3.  Fistula uretra.

4.  Edema genital yang dapat menyebabkan gangguan fungsional.

5.  Karsinoma sel skuamosa dapat berkembangpada pasien dengan riwayat penyakit yang lama, namun jarang terjadi.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1.  Pengobatan oral:

a.  Antibiotik sistemik

Antibiotik sistemik misalnya dengan kombinasi rifampisin 600 mg sehari (dalam dosis tunggal atau dosis terbagi) dan klindamisin 300 mg dua kali sehari menunjukkan hasil pengobatan  yang  menjanjikan.  Dapson  dengan  dosis  50-

150mg/hari  sebagai  monoterapi,  eritromisin  atau  tetrasiklin

250-500 mg 4x sehari, doksisilin 100 mg 2x sehari selama 7-14 hari.

b.  Kortikosteroid sistemik

Kortikosteroid  sistemik  misalnya  triamsinolon,  prednisolon atau prednison

2.  Jika telah terbentuk abses, dilakukan insisi.

 

Konseling dan Edukasi

Edukasi dilakukan terhadap pasien, yaitu berupa:

1.  Mengurangi berat badan untuk pasien obesitas.

2.  Berhenti merokok.

3. Tidak mencukur di kulit yang berjerawat karena mencukur dapat mengiritasi kulit.

4.  Menjaga kebersihan kulit.

5.  Mengenakan pakaian yang longgar untuk mengurangi gesekan

6. Mandi  dengan  menggunakan  sabun  dan  antiseptik  atau antiperspirant.

 

Kriteria Rujukan

Pasien dirujuk apabila penyakit tidak sembuh dengan pengobatan oral atau lesi kambuh setelah dilakukan insisi dan drainase.

 

 

Peralatan

Bisturi

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, tingkat keparahan penyakit bervariasi dari satu pasien dengan pasien lainnya.

F. Diagram Alir

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment