|
136 Dinkes Kab Defgh |
HIDRADENITIS
SUPURATIF |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Hidradenitis supuratif atau disebut juga akne inversa adalah peradangan
kronis dan supuratif pada kelenjar apokrin. Penyakit ini terdapat pada usia
pubertas sampai usia dewasa muda. Prevalensi keseluruhan adalah sekitar 1%.
Rasio wanita terhadap pria adalah 3:1. Dari beberapa penelitian epidemiologi diketahui bahwa sepertiga
pasien hidradenitis supuratif memiliki kerabat dengan hidradenitis. Merokok
dan obesitas merupakan faktor risiko untuk penyakit ini. Penyakit ini juga
sering didahului oleh trauma atau mikrotrauma, misalnya banyak keringat,
pemakaian deodorant atau rambut ketiak digunting. Beberapa bakteri telah diidentifikasi dalam kultur yang diambil dari lesi
hidradenitis supuratif, diantaranya adalah Streptococcusviridans,
Staphylococcus aureus, bakteri anaerob
(Peptostreptococcus spesies,
Bacteroides melaninogenicus, dan Bacteroides corrodens), Coryneformbacteria,
dan batang Gram-negatif. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan hidradenitis supuratif |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan awal yang dirasakan pasien adalah gatal,
eritema, dan hiperhidrosis lokal. Tanpa pengobatan penyakit ini dapat
berkembang dan pasien merasakan nyeri di lesi. Faktor Risiko Merokok, obesitas, banyak berkeringat, pemakaian
deodorant, menggunting rambut ketiak Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Ruam berupa nodus dengan tanda-tanda peradangan
akut, kemudian dapat melunak menjadi abses, dan memecah membentuk fistula dan
disebut hidradenitis supuratif. Pada yang menahun dapat terbentuk abses,
fistel, dan sinus yang multipel. Terdapat leukositosis. Lokasi predileksi di aksila, lipat paha, gluteal, perineum dan daerah
payudara. Meskipun penyakit
ini di aksila
seringkali ringan, di perianal sering progresif dan berulang. Ada dua sistem klasifikasi untuk menentukan
keparahan hidradenitis supuratif, yaitu dengan sistem klasifikasi Hurley dan
Sartorius. 1. Hurley
mengklasifikasikan pasien menjadi
tiga kelompok berdasarkan
adanya dan luasnyajaringan parutdan sinus. a. TahapI :
lesi soliter atau
multipel, ditandai dengan pembentukan abses tanpa
saluran sinus atau jaringan parut. b. Tahap
II :
lesi single atau multipel dengan abses berulang, ditandai dengan
pembentukan saluran sinus dan jaringan parut. c. TahapIII :
tahap yang palingparah, beberapa saluran saling berhubungan dan
abses melibatkan seluruh daerah anatomi (misalnya
ketiak atau pangkal paha). 2. Skor
Sartorius. Skor didapatkan dengan menghitung jumlah lesi kulit dan tingkat
keterlibatan di setiap lokasi anatomi. Lesi yang lebih parah seperti fistula
diberikan skor yang lebih tinggi dari pada lesi ringan seperti abses. Skor
dari semua lokasi anatomi ditambahkan untuk mendapatkan skor total. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah lengkap Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Ditegakkan
ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaaan fisik. Diagnosis Banding Furunkel, karbunkel, kista epidermoid atau kista
dermoid, Erisipelas, Granuloma inguinal, Lymphogranuloma venereum,
Skrofuloderma Komplikasi 1. Jaringan
parut di lokasi lesi. 2. Inflamasi
kronis pada genitofemoral dapat menyebabkan striktur di anus, uretra atau
rektum. 3. Fistula
uretra. 4. Edema
genital yang dapat menyebabkan gangguan fungsional. 5. Karsinoma
sel skuamosa dapat berkembangpada pasien dengan riwayat penyakit yang lama,
namun jarang terjadi. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pengobatan
oral: a. Antibiotik
sistemik Antibiotik sistemik misalnya dengan kombinasi
rifampisin 600 mg sehari (dalam dosis tunggal atau dosis terbagi) dan
klindamisin 300 mg dua kali sehari menunjukkan hasil pengobatan yang
menjanjikan. Dapson dengan
dosis 50- 150mg/hari
sebagai monoterapi, eritromisin
atau tetrasiklin 250-500 mg 4x sehari, doksisilin 100 mg 2x sehari
selama 7-14 hari. b.
Kortikosteroid sistemik Kortikosteroid
sistemik misalnya triamsinolon, prednisolon atau prednison 2. Jika telah
terbentuk abses, dilakukan insisi. Konseling dan Edukasi Edukasi dilakukan terhadap pasien, yaitu berupa: 1. Mengurangi
berat badan untuk pasien obesitas. 2. Berhenti
merokok. 3. Tidak mencukur di kulit yang berjerawat karena
mencukur dapat mengiritasi kulit. 4. Menjaga
kebersihan kulit. 5. Mengenakan
pakaian yang longgar untuk mengurangi gesekan 6. Mandi
dengan menggunakan sabun
dan antiseptik atau antiperspirant. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila penyakit tidak sembuh dengan
pengobatan oral atau lesi kambuh setelah dilakukan insisi dan drainase. Peralatan Bisturi Prognosis Prognosis umumnya bonam, tingkat keparahan penyakit
bervariasi dari satu pasien dengan pasien lainnya. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment