|
80 Dinkes Kab Defgh |
INVERTED
NIPPLE |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Inverted nipple
adalah satu keadaan dimana putting susu datar atau terlalu pendek sehingga
dapat menimbulkan masalah dalam menyusui Terdapat beberapa bentuk puting susu. Pada beberapa kasus seorang ibu merasa putingnya datar atau terlalu
pendek akan menemui kesulitan dalam menyusui bayi. Hal ini bisa berdampak
bayi tidak bisa menerima ASI dengan baik dan cukup. Pada beberapa kasus, putting dapat muncul kembali bila di stimulasi,
namun pada kasus-kasus lainnya, retraksi ini menetap. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan inverted nipple |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil
Anamnesis (Subjective) Keluhan 1. Kesulitan
ibu untuk menyusui bayi 2. Puting susu
tertarik 3. Bayi sulit
untuk menyusui Hasil
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan
Fisik Adanya puting
susu yang datar atau tenggelam dan bayi sulit menyusui pada ibu. Pemeriksaan
Penunjang Tidak
diperlukan pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis
Klinis Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan tidak memerlukan pemeriksaan
penunjang. Diagnosis
klinis ini terbagi dalam : 1. Grade 1 a. Puting
tampak datar atau masuk ke dalam b. Puting
dapat dikeluarkan dengan mudah dengan tekanan jari pada atau sekitar areola. c. Terkadang
dapat keluar sendiri tanpa manipulasi d. Saluran ASI
tidak bermasalah, dan dapat menyusui dengan biasa. 2. Grade 2 a. Dapat
dikeluarkan dengan menekan areola, namun kembali masuk saat tekanan dilepas b. Terdapat
kesulitan menyusui. c. Terdapat
fibrosis derajat sedang. d. Saluran ASI
dapat mengalami retraksi namun pembedahan tidak diperlukan. e. Pada
pemeriksaan histologi ditemukan stromata yang kaya kolagen dan otot polos. 3. Grade 3 a. Puting
sulit untuk dikeluarkan pada pemeriksaan fisik dan membutuhkan pembedahan
untukdikeluarkan. b. Saluran ASI
terkonstriksi dan tidak memungkinkan untuk menyusui c. Dapat
terjadi infeksi, ruam, atau masalah kebersihan d. Secara
histologis ditemukan atrofi unit lobuler duktus terminal dan fibrosis yang
parah Komplikasi Risiko yang
sering muncul adalah ibu menjadi demam dan pembengkakan pada payudara. Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
Non-Medikamentosa Untuk puting
datar/tenggelam (inverted nipple) dapat diatasi setelah bayi lahir,
yaitu dengan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai langkah awal dan
harus terus menyusui agar puting selalu tertarik. Ada dua cara yang dapat
digunakan untuk mengatasi puting datar/terbenam, yaitu: 1. Penarikan
puting secara manual/dengan tangan. Puting ditarik-tarik dengan lembut
beberapa kali hingga menonjol. 2. Menggunakan
spuit ukuran 10-20 ml, bergantung pada besar puting. Ujung spuit yang
terdapat jarum dipotong dan penarik spuit (spuit puller) dipindahkan
ke sisi bekas potongan. Ujung yang tumpul di letakkan di atas puting,
kemudian lakukan penarikan beberapa kali hingga puting keluar. Lakukan sehari
tiga kali; pagi, siang, dan malam masing-masing 10 kali 3. Jika kedua
upaya di atas tidak memberikan hasil, ibu dapat memberikan air susunya dengan
cara memerah atau menggunakan pompa payudara. 4. Jika
putting masuk sangat dalam, suatu usaha harus dilakukan untuk mengeluarkan
putting dengan jari pada beberapa bulan sebelum melahirkan. Konseling dan
Edukasi 1.
Menarik-narik puting sejak hamil (nipple conditioning exercises)
ataupun penggunaan breast shield dan breast shell. Tehnik ini akan membantu
ibu saat masa telah memasuki masa menyusui. 2.
Membangkitkan rasa percaya diri ibu dan membantu ibu melanjutkan untuk
menyusui bayi. Posisikan bayi agar mulutnya melekat dengan baik sehingga rasa
nyeri akan segera berkurang. Tidak perlu mengistirahatkan payudara, tetapi
tetaplah menyusu on demand Kriteria
Rujukan: - Prognosis 1. Ad vitam
: Bonam 2. Ad
functionam : Bonam 3. Ad
sanationam : Bonam |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment