|
|
GLAUKOMA AKUT |
|
||||||||||||||||||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/UKP/ /16 |
|||||||||||||||||||||||||
|
No. Revisi : |
||||||||||||||||||||||||||
|
Tanggal Terbit :4 April 2016 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Halaman :1/4 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Puskesmas . |
|
... |
||||||||||||||||||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : F93 Glaucoma
No. ICD-10 : H40.2 Primary
angle-closure glaucoma Tingkat Kemampuan 3B Masalah
Kesehatan Glaukoma akut adalah
glaukoma yang diakibatkan peninggian tekanan intraokular yang mendadak.
Glaukoma akut dapat bersifat primer atau sekunder. Glaukoma primer timbul
dengan sendirinya pada orang yang mempunyai bakat bawaan glaukoma, sedangkan
glaukoma sekundertimbul sebagai penyulit penyakit mata lain ataupun sistemik.
Umumnya penderita glaukoma telah berusia lanjut, terutama bagi yang memiliki
risiko. Bila tekanan intraokular yang mendadak tinggi ini tidak diobati
segera akan mengakibatkan kehilangan penglihatan sampai kebutaan yang
permanen. |
|||||||||||||||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
|||||||||||||||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan
Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas |
|||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1.
Mata
merah 2.
Tajam
penglihatan turun mendadak 3.
Rasa
sakit atau nyeri pada mata yang dapat menjalar ke kepala 4.
Mual
dan muntah (pada tekanan bola mata yang sangat tinggi) Faktor Risiko Bilik mata depan yang
dangkal Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang Sederhana (Objective) 1.
Visus
turun 2.
Tekanan
intra okular meningkat 3.
Konjungtiva
bulbi: hiperemia kongesti, kemosis dengan injeksi silier, injeksi konjungtiva
4.
Edema
kornea 5.
Bilik
mata depan dangkal 6.
Pupil
mid-dilatasi, refleks pupil negatif Gambar Injeksi silier pada glaucoma Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pada
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis Penegakan diagnosis
dilakukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologis. Diagnosis Banding: 1.
Uveitis
Anterior 2.
3.
Ulkus
Kornea Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Penatalaksanaan kasus
glaukoma pada layanan tingkat pertama bertujuan menurunkan tekanan intra
okuler sesegera mungkin dan kemudian merujuk ke dokter spesialis mata di
rumah sakit. 1.
Non-Medikamentosa
Pembatasan
asupan cairan untuk menjaga agar tekanan intra okular tidak semakin meningkat
2.
Medikamentosa
a.
Asetazolamid
HCl 500 mg, dilanjutkan 4 x 250 mg/hari. b.
KCl
0.5 gr 3 x/hari. c.
Timolol
0.5%, 2 x 1 tetes/hari. d.
Tetes
mata kombinasi kortikosteroid + antibiotik 4-6 x 1 tetes sehari e.
Terapi
simptomatik. Konseling dan Edukasi Memberitahu keluarga bahwa
kondisi mata dengan glaukoma akut tergolong kedaruratan mata, dimana tekanan
intra okuler harus segera diturunkan Kriteria Rujukan Pada glaukoma akut, rujukan
dilakukan setelah penanganan awal di layanan tingkat pertama. Peralatan
1.
Snellen
chart 2.
Tonometri
Schiotz 3.
Oftalmoskopi
Prognosis
1.
Ad
vitam : Bonam
2.
3.
Ad
sanationam :
Dubia ad malam |
|||||||||||||||||||||||||
|
6.
Bagan Alir |
|
|||||||||||||||||||||||||
7.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
|||||||||||||||||||||||||
|
8.
Rekaman Historis Perubahan |
|
|||||||||||||||||||||||||
|


No comments:
Post a Comment