|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-BPU-42 |
||
|
TANGGAL
TERBIT : 01-04-2014 |
||||
|
GAGAL JANTUNG |
NOMOR REVISI : 00 |
|||
|
HALAMAN : 1/2 |
||||
|
Dibuat oleh Koordinator BP. Umum dr. Fuad Sri N NIP. 19800921 201001 1 014 |
Disetujui Oleh Management Representative dr. Dyah Arum R NIP. 19860512 201101 2
002 |
Disahkan Oleh Ka. Pusk Cangkringan Maryadi, SKM NIP. 19640209 198511 1
001 |
|
|
|
RUANG LINGKUP |
Protap ini mencakup diagnosis dan
tata laksana gagal jantung. |
|||
|
TUJUAN |
Memberikan tata laksana yang tepat pada pasien gagal jantung. |
|||
|
KEBIJAKAN |
Berlaku untuk semua pasien gagal
jantung. |
|||
|
PETUGAS |
1. Dokter 2. Perawat |
|||
PERALATAN
|
1. Tensimeter 2. Stetoskop |
|||
|
PROSEDUR |
1. Pengertian Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis
berupa kelainan pada fungsi jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa
darah memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. 2. Manifestasi klinis 2.1.
Gagal jantung dapat berupa
tanda gagal jantung kiri atau kanan yang dapat muncul bertahap tetapi dapat
pula mendadak dengan tanda udem paru akut 2.2. Gagal jantung kiri ditandai dengan : 2.2.1. Sesak nafas setelah suatu kerja fisik 2.2.2. Batuk atau paroxysmal
nocturnal dispneu 2.2.3. Mungkin tampak pulsasi karotis yang melemah 2.2.4. Terdengar bunyi jantung III dan IV 2.3. Gagal jantung kanan ditandai dengan : 2.3.1. Udem dipergelangan kaki yang bersifat pitting. 2.3.2. Pembesaran hati 2.3.3. Lemah 2.3.4. Mungkin nyeri di seperempat kanan atas perut 2.3.5. Asites (tahap lanjut) 2.4. Gagal jantung akut : biasanya suatu gagal jantung kiri yang ditandai udem
paru akut yaitu : 2.4.1. Sesak nafas berat dan nafas cepat 2.4.2. Batuk saat berbaring 2.4.3. Sianosis 3. Penatalaksanaan: 3.1. Istirahat sesuai dengan beratnya penyakit 3.2. Gejala yang berat : berbaring setengah duduk |
|||
|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-BPU-42 |
||
|
TANGGAL TERBIT : 01-04-2014 |
||||
|
GAGAL JANTUNG |
NOMOR
REVISI : 00 |
|||
|
HALAMAN : 2/2 |
||||
|
PROSEDUR |
3.3. Aktifitas
fisik disesuaikan dengan kemampuan jantungnya 3.4. Membatasi
asupan garam 3.5. Gagal jantung dengan tanda bendungan yang menonjol,
berikan diuretik furosemid tablet 1 – 2 x 40 mg (dapat diberikan tanpa
digitalis bila tidak ada takikardia). 3.6. Bila diuretik digunakan bersama
digitalis perlu diberikan KCL 500 mg 1 – 3 kali sehari secara oral. 3.7. Pada gagal jantung yang lebih
berat mungkin diperlukan digitalis. Digitalisasi sebaiknya dilakukan secara
lambat dengan digoksin 0,25 mg/hari. 3.8. Gagal jantung
yang lebih berat Rujuk ke Rumah Sakit 3.9. Penderita
jantung yang menunjukkan keluhan dalam keadaan istirahat atau disertai gejala
udem paru perlu dirujuk ke rumah sakit, sebelumnya diberi dulu furosemid,
KCL, dan digoksin (0,25mg/hr). 3.10. Bila mungkin
berikan oksigen |
|||
|
REFERENSI |
Pedoman Pengobatan Dasar di
Puskesmas hal 72 - 73, DEPKES RI, 2007 |
|||
No comments:
Post a Comment