|
|
FLUOR ALBUS |
|
|
|
SPO |
No. Dokumen : |
||
|
No. Revisi : |
|||
|
Tanggal Terbit: |
|||
|
Halaman : |
|||
|
PUSKESMAS ABCD |
|
Nama Kepala
Puskesmas + NIP |
||||||||
|
Pengertian |
Fluor Albus adalah nama lain dari keputihan. |
|||||||||
|
Tujuan |
Memberikan tatalaksana yang tepat pada pasien dengan diagnosa
Fluor Albus |
|||||||||
|
Kebijakan |
Keputusan Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Karanglewas nomor : 440/C.VII/SK/06/I/2016 Tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis Puskesmas Karanglewas |
|||||||||
|
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||
|
Prosedur |
- Pemeriksaan Fisik
Penyebab discharge terbagi
menjadi masalah infeksi dan non infeksi. Masalah non infeksi dapat karena
benda asing, peradangan akibat alergi atau iritasi, tumor, vaginitis atropik,
atau prolaps uteri, sedangkan masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri,
jamur atau virus seperti berikut ini: 1. Kandidiasis
vaginitis, disebabkan oleh Candida albicans, duh tubuh tidak berbau,
pH <4,5 , terdapat eritema vagina dan eritema satelit di luar vagina 2. Vaginosis
bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya Gardnerella vaginalis),
memperlihatkan adanya duh putih atau abu-abu yang melekat di sepanjang
dinding vagina dan vulva, berbau amis dengan pH >4,5. 3. Servisitis
yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi serviks yang mudah
berdarah dan disertai duh mukopurulen 4.
Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh kuning
kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH >4,5. 5. Pelvic inflammatory
disease (PID) yang disebabkan oleh chlamydia, ditandai dengan nyeri
abdomen bawah, dengan atau tanpa demam. Servisitis bisa ditandai dengan
kekakuan adneksa dan serviks pada nyeri angkat palpasi bimanual. 6. Liken
planus 7. Gonore 8. Infeksi
menular seksual lainnya 9. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom
yang terlupa diangkat) Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya
kelainan patologis yang lebih serius. - Pemeriksaan Penunjang Swab
vagina atas (high
vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk diperiksa, kecuali pada keadaan
keraguan menegakkan diagnosis, gejala kambuh, pengobatan gagal, atau pada
saat kehamilan, postpartum, postaborsi dan postinstrumentation.
Penatalaksanaan Pasien dengan riwayat risiko rendah penyakit menular
seksual dapat diobati sesuai dengan gejala dan arah diagnosisnya. Vaginosis bakterial: 1.
Metronidazol atau Klindamisin secara oral atau per vaginam.
2. Tidak
perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria. 3. Bila
sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazol 400 mg 2x sehari untuk 5-7
hari atau pervaginam. Tidak direkomendasikan untuk minum 2 gram peroral. 4. Tidak
dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila menggunakan antibiotik
yang tidak menginduksi enzim hati. 5. Pasien
yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami vaginosis bakterial dianjurkan
untuk mengganti metode kontrasepsinya. Vaginitis kandidiosis terbagi atas: 1. Infeksi tanpa komplikasi 2. Infeksi parah 3. Infeksi kambuhan 4. Dengan kehamilan 5. Dengan diabetes atau immunocompromise - Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis: 1. Dapat
diberikan azol antifungal oral atau pervaginam 2. Tidak perlu
pemeriksaan pasangan 3. Pasien dengan
vulvovaginal kandidiosis yang berulang dianjurkan untuk memperoleh pengobatan
paling lama 6 bulan. 4. Pada saat
kehamilan, hindari obat anti-fungi oral, dan gunakan imidazol topikal hingga
7 hari. 5. Hati-hati
pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks lainnya, bahwa penggunaan
antifungi lokal dapat merusak lateks 6. Pasien
pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami vulvovaginal kandidiosis
berulang, dipertimbangkan untuk menggunakan metoda kontrasepsi lainnya Chlamydia: 1. Azithromisin
1 gram single dose, atau Doksisiklin 100 mg 2 x
sehari untuk 7 hari 2. Ibu hamil
dapat diberikan Amoksisilin 500 mg 3 x sehari
untuk 7 hari atau Eritromisin 500 mg 4 x sehari
untuk 7 hari Trikomonas vaginalis: 1. Obat minum
nitromidazol (contoh metronidazol) efektif untuk mengobati trikomonas
vaginalis 2. Pasangan
seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa dan diobati bersama
dengan pasien 3. Pasien HIV
positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan regimen oral
penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis tunggal 4. Kejadian
trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu dipertimbangkan pula
adanya resistensi obat - Rencana Tindak Lanjut Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular
seksual sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa chlamydia, gonore, sifilis dan
HIV. - Konseling dan Edukasi 1. Pasien
diberikan pemahaman tentang penyakit, penularan serta penatalaksanaan di
tingkat rujukan. 2. Pasien
disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama penyakit belum
tuntas diobati. - Kriteria Rujukan Pasien dirujuk
apabila: 1. Tidak
terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan 2. Dibutuhkan
pemeriksaan kultur kuman gonore 3. Adanya arah
kegagalan pengobatan |
|||||||||
|
Diagram Alir |
|
|||||||||
|
Unit terkait |
|
|||||||||
|
Rekaman Historis Perubahan |
|
|||||||||


No comments:
Post a Comment