MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP FLUOR ALBUS

 

FLUOR ALBUS

Description: C:\Users\DJOENI\Pictures\logo-puskesmas.png

SPO

No. Dokumen :

No. Revisi       :

Tanggal Terbit:

Halaman         :

PUSKESMAS ABCD

 

 

 

Nama Kepala Puskesmas + NIP

Pengertian

Fluor Albus adalah nama lain dari keputihan.

Tujuan

Memberikan tatalaksana yang tepat pada pasien dengan diagnosa Fluor Albus

Kebijakan

Keputusan Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Karanglewas nomor  : 440/C.VII/SK/06/I/2016 Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis  Puskesmas Karanglewas

Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

Prosedur

- Pemeriksaan Fisik

            Penyebab discharge terbagi menjadi masalah infeksi dan non infeksi. Masalah non infeksi dapat karena benda asing, peradangan akibat alergi atau iritasi, tumor, vaginitis atropik, atau prolaps uteri, sedangkan masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau virus seperti berikut ini:

     1. Kandidiasis vaginitis, disebabkan oleh Candida albicans, duh tubuh tidak berbau, pH <4,5 , terdapat eritema vagina dan eritema satelit di luar vagina

     2. Vaginosis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya Gardnerella vaginalis), memperlihatkan adanya duh putih atau abu-abu yang melekat di sepanjang dinding vagina dan vulva, berbau amis dengan pH >4,5.

     3. Servisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi serviks yang mudah berdarah dan disertai duh mukopurulen

     4. Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh kuning kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH >4,5.

     5. Pelvic inflammatory disease (PID) yang disebabkan oleh chlamydia, ditandai dengan nyeri abdomen bawah, dengan atau tanpa demam. Servisitis bisa ditandai dengan kekakuan adneksa dan serviks pada nyeri angkat palpasi bimanual.

      6. Liken planus

      7. Gonore

      8. Infeksi menular seksual lainnya

     

 

9. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom yang terlupa diangkat)

 

Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya kelainan patologis yang lebih serius.

 

- Pemeriksaan Penunjang

          Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk diperiksa, kecuali pada keadaan keraguan menegakkan diagnosis, gejala kambuh, pengobatan gagal, atau pada saat kehamilan, postpartum, postaborsi dan postinstrumentation. Penatalaksanaan

Pasien dengan riwayat risiko rendah penyakit menular seksual dapat diobati sesuai dengan gejala dan arah diagnosisnya.

Vaginosis bakterial:

       1. Metronidazol atau Klindamisin secara oral atau per

           vaginam.

       2. Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.

       3. Bila sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazol 400 mg 2x sehari untuk 5-7 hari atau pervaginam. Tidak direkomendasikan untuk minum 2 gram peroral.

       4. Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim hati.

       5. Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami vaginosis bakterial dianjurkan untuk mengganti metode kontrasepsinya.

 

Vaginitis kandidiosis terbagi atas:

1. Infeksi tanpa komplikasi

2. Infeksi parah

3. Infeksi kambuhan

4. Dengan kehamilan

5. Dengan diabetes atau immunocompromise

 

- Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis:

   1. Dapat diberikan azol antifungal oral atau pervaginam

   2. Tidak perlu pemeriksaan pasangan

   3. Pasien dengan vulvovaginal kandidiosis yang berulang dianjurkan untuk memperoleh pengobatan paling lama 6 bulan.

   4. Pada saat kehamilan, hindari obat anti-fungi oral, dan gunakan imidazol topikal hingga 7 hari.

   5. Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks lainnya, bahwa penggunaan antifungi lokal dapat merusak lateks

 

 

    6. Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami vulvovaginal kandidiosis berulang, dipertimbangkan untuk menggunakan metoda kontrasepsi lainnya

 

Chlamydia:

    1. Azithromisin 1 gram single dose, atau Doksisiklin

       100 mg 2 x sehari untuk 7 hari

    2. Ibu hamil dapat diberikan Amoksisilin 500 mg

       3 x sehari untuk 7 hari atau Eritromisin 500 mg

       4 x sehari untuk 7 hari

 

Trikomonas vaginalis:

    1. Obat minum nitromidazol (contoh metronidazol) efektif untuk mengobati trikomonas vaginalis

    2. Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa dan diobati bersama dengan pasien

    3. Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan regimen oral penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis tunggal

    4. Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu dipertimbangkan pula adanya resistensi obat

 

- Rencana Tindak Lanjut

Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa chlamydia, gonore, sifilis dan HIV.

 

- Konseling dan Edukasi

   1. Pasien diberikan pemahaman tentang penyakit, penularan serta penatalaksanaan di tingkat rujukan.

   2. Pasien disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama penyakit belum tuntas diobati.

 

- Kriteria Rujukan

   Pasien dirujuk apabila:

   1. Tidak terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan

   2. Dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman gonore

   3. Adanya arah kegagalan pengobatan 

 

Diagram Alir

 

Unit terkait

 

Rekaman

Historis

Perubahan

 

NO

YANG DIUBAH

ISI PERUBAHAN

TANGGAL MULAI DIBERLAKUKAN

 

 

 

 


No comments:

Post a Comment