|
|
ARTRITIS REUMATOID |
|
|||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/ UKP/ /16 |
||||||||||
|
No. Revisi : - |
|||||||||||
|
Tanggal Terbit : 4
April 2016 |
|||||||||||
|
Halaman : 1/6 |
|||||||||||
|
Puskesmas |
|
.............. |
|||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : L99 Musculosceletal
disease other No. ICD-10 : M53.3 Polymyalgia
rheumatica Tingkat Kemampuan 3A Masalah
Kesehatan Penyakit autoimun yang
ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang walaupun terutama
mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya.
|
||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor
068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas |
||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||
|
5.
Prosedur |
Petugas
Melakukan Anamnesis
(Subjective) Keluhan Gejala pada awal onset Gejala prodromal: lelah
(malaise), anoreksia, seluruh tubuh terasa lemah yang berlangsung
berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Gejala spesifik pada banyak
sendi (poliartrikular) secara simetris, dapat mengenai seluruh sendi terutama
sendi PIP (proximal interphalangeal), sendi MCP (metacarpophalangeal)
atau MTP (metatarsophalangeal), pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki.
Sendi DIP (distal interphalangeal) umumnya tidak terkena. Gejala sinovitis pada sendi
yang terkena: bengkak, nyeri yang diperburuk dengan gerakan sehingga gerakan
menjadi terbatas, kekakuan pada pagi hari > 1 jam. Gejala ekstraartikular:
mata (episkleritis), kardiovaskular (nyeri dada pada perikarditis),
hematologi (anemia). Faktor Risiko 1. Wanita, 2. Faktor genetik. 3. Hormon seks. 4. Infeksi 5. Merokok Petugas
Melakukan Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik Manifestasi artikular: Bengkak/efusi sendi, nyeri
tekan sendi, sendi teraba hangat, deformotas (swan neck, boutonniere,
deviasi ulnar) Manifestasi
ekstraartikular: 1. Kulit: terdapat nodul
rheumatoid pada daerah yg banyak menerima penekanan, vaskulitis. 2. Soft tissue
rheumatism, seperti carpal tunnel syndrome atau frozen
shoulder. 3. Mata dapat ditemukan
kerato-konjungtivitis sicca yang merupakan manifestasi sindrom Sjorgen,
episkleritis/ skleritis. Konjungtiva tampak anemia akibat penyakit kronik. 4. Sistem respiratorik
dapat ditemukan adanya radang sendi krikoaritenoid, pneumonitis interstitial,
efusi pleura, atau fibrosis paru luas. 5. Sistem kardiovaskuler
dapat ditemukan perikarditis konstriktif, disfungsi katup, fenomena
embolisasi, gangguan konduksi, aortritis, kardiomiopati. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laju endap
darah (LED) Pemeriksaan di pelayanan
kesehatan sekunder atau rujukan horizontal: 1. Faktor reumatoid (RF)
serum. 2/6 3. ACPA (anti-cyclic
citrullinated peptide antibody) / anti-CCP 4. CRP 5. Analisis cairan sendi 6. Biopsi sinovium/ nodul
rheumatoid Penegakan
Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis RA biasanya
didasarkan pada gambaran klinis dan radiografis. Kriteria Diagnosis Berdasarkan ACR-EULAR 2010:
Dibuat skor dari beberapa
poin dibawah ini : 1. Jumlah sendi yang
terlibat a. 1 sendi besar : 0 b. 2-10 sendi besar : 1 c. 1-3 sendi kecil (dengan
atau tanpa sendi besar) : 2 d. 4-10 sendi kecil (dengan
atau tanpa sendi besar) : 3 e. >10 sendi dengan
minimal 1 sendi kecil : 5 Sendi DIP, MTP I,
carpometacarpal I tidak termasuk dalam kriteria Yang dimaksud sendi kecil
adalah MCP, PIP, MTP II-V, ibu jari, dan pergelangan tangan Yang dimaksud sendi besar
adalah bahu, siku, lutut, pangkal paha, dan pergelangan kaki. 2. Acute phase reactants :
LED dan CRP LED atau CRP naik : 1 3. RF atau anti CCP a. RF dan anti CRP (-) : 0 b. RF atau anti CRP naik
< 3 batas atas normal (BAN): 2 c. RF atau CRP naik > 3
BAN : 3 4. Durasi a. Lebih dari 6 Minggu : 1 3/6 Skor 6 atau lebih dapat
dibuat diagnosis RA Sebagai tambahan, pasien
dengan penyakit erosif tipikal RA dengan riwayat yang sesuai dengan kriteria
2010 ini harus diklasifikasikan ke dalam RA. Pasien dengan penyakit lama,
termasuk yang tidak aktif (dengan atau tanpa pengobatan), yang berdasarkan
data retrospektif yang dimiliki memenuhi kriteria 2010 ini harus
diklasifikasikan ke dalam RA. 2. Diagnosis banding
bervariasi diantara pasien dengan manifestasi yang berbeda, tetapi boleh
memasukkan kondisi seperti SLE, artritis psoriatic, dan gout. Jika diagnosis
banding masih belum jelas, hubungi ahli reumatologi. 3. Walaupun pasien dengan
skor < 6 dari tidak diklasifikasikan ke dalam RA, status mereka dapat
dinilai ulang dan kriteria ini bisa dipenuhi secara kumulatif seiring waktu. 4. Keterlibatan sendi
merujuk pada sendi yang bengkak atau nyeri pada pemeriksaan, yang
dikonfirmasi oleh bukti pencitraan akan adanya sinovitis. Sendi interfalang
distal, sendi karpometakarpal I, dan sendi metatarsofalangeal I tidak
dimasukkan dalam pemeriksaan. Kategori
distribusi sendi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan jumlah sendi yang
terlibat, ditempatkan ke dalam kategori tertinggi berdasarkan pola
keterlibatan sendi. 5. Sendi-sendi besar
merujuk pada bahu, siku, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. 6. Sendi-sendi kecil
merujuk pada sendi metakarpofalangeal, sendi interfalang proksimal, sendi
metatarsophalangeal II-V, sendi interfalang ibujari, dan pergelangan tangan. 7. Dalam kategori ini,
minimal 1 dari sendi yg terlibat harus sendi kecil; sendi lainnya dapat
berupa kombinasi dari sendi besar dan sendi kecil tambahan, seperti sendi
lainnya yang tidak terdaftar secara spesifik dimanapun (misal
temporomandibular, akromioklavikular, sternoklavikular dan lain-lain). 4/6 9. Normal/tidak normal
ditentukan oleh standar laboratorium setempat. CRP (C-reactive protein);
LED (Laju Endap Darah). 10. Durasi gejala merujuk
pada laporan dari pasien mengenai durasi gejala dan tanda sinovitis (misal
nyeri, bengkak, dan nyeri pada penekanan) dari sendi yang secara klinis
terlibat pada saat pemeriksaan, tanpa memandang status pengobatan. Diagnosis Banding Penyebab arthritis lainnya,
Spondiloartropati seronegatif, Lupus eritematosus istemik, Sindrom Sjogren
Komplikasi 1. Deformitas sendi (boutonnierre,
swan neck, deviasi ulnar) 2. Sindrom terowongan
karpal (TCS) 3. Sindrom Felty (gabungan
gejala RA, splenomegali, leukopenia, dan ulkus pada tungkai; juga sering
disertai limfadenopati dan trombositopenia) Petugas
Melakukan Penatalaksanaan
komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pasien diberikan
informasi untuk memproteksi sendi, terutama pada stadium akut dengan
menggunakan decker. 2. Pemberian obat anti
inflamasi non-steroid, seperti: diklofenak 50- 100 mg 2x/hari, meloksikam
7,5–15 mg/hari, celecoxib 200-400 mg/sehari. 3. Pemberian golongan
steroid, seperti: prednison atau metil prednisolon dosis rendah (sebagai bridging therapy). 4. Fisioterapi, tatalaksana
okupasi, bila perlu dapat diberikan ortosis. Kriteria rujukan 1. Tidak membaik dengan
pemberian obat anti inflamasi dan steroid dosis rendah. 2. RA dengan komplikasi. 5/6 Peralatan
Laboratorium sederhana
untuk pemeriksaan darah. Prognosis
Prognosis adalah dubia
ad bonam, sangat tergantung dari perjalanan penyakit dan penatalaksanaan
selanjutnya. |
||||||||||
|
6.
Unit Terkait |
Pemeriksaan
Umum, Tindakan, KIA-KB-Imunisasi, Kesehatan Gigi dan Mulut, Promosi
Kesehatan, Farmasi, Ruangan Persalinan, Laboratorium. |
||||||||||
|
7.
Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||
6/6
No comments:
Post a Comment