|
PUSKESMAS |
Perdarahan
Post Partum |
Disahkan oleh Kepala Puskesmas |
|||
|
SOP |
No Kode |
: |
|
||
|
Terbitan |
: |
|
|||
|
No. Revisi |
: |
|
|||
|
Tgl. Mulai Berlaku |
: |
|
|||
|
Halaman |
: |
|
|||
|
1.Pengertian |
Perdarahan post
partum (PPP) adalah perdarahan yang masif yang berasal dari tempat implantasi
plasenta, robekan pada jalan lahir, dan jaringan sekitarnya dan merupakan
salah satu penyebab kematian ibu disamping perdarahan karena hamil ektopik
dan abortus. Definisi perdarahan post partum adalah
perdarahan pasca persalinan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir atau yang
berpotensi mengganggu hemodinamik ibu. |
|||||||||||||||||||||
|
2.Tujuan |
Menegakkan
diagnosis perdarahan post partum dan memberikan
tata laksana yang tepat |
|||||||||||||||||||||
|
3. Kebijakan |
Penatalaksanaan perdarahan post partum di IGD puskesmas dengan menggunakan SPO ini |
|||||||||||||||||||||
|
4. Referensi |
Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia no514 tahun 2015 tentang panduan klinis
bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama |
|||||||||||||||||||||
|
5.Prosedur |
Anamnesis Keluhan dan gejala utama Seorang wanita post
partum yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa
mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru tampak pada kehilangan
darah sebanyak 20%. Gejala klinik berupa: a. Perdarahan b.
Lemah c.
Limbung d.
Berkeringat
dingin e.
Menggigil
Faktor Risiko Perdarahan post partum
merupakan komplikasi dari 5-8% kasus persalinan pervaginam dan 6% dari kasus
SC a. Faktor Risiko
prenatal: •
Perdarahan sebelum persalinan, Solusio plasenta, •
Plasenta previa, •
Kehamilan ganda, •
Preeklampsia, •
Khorioamnionitis, •
Hidramnion, •
IUFD, •
Anemia (Hb< 5,8), •
Multiparitas, •
Mioma dalam kehamilan, •
Gangguan faktor pembekuan dan •
Riwayat perdarahan sebelumnya serta obesitas. b. Faktor Risiko saat
persalinan pervaginam: •
Kala tiga yang memanjang, •
Episiotomi, •
Distosia, •
Laserasi jaringan lunak, •
Induksi atau augmentasi persalinan dengan oksitosin, •
Persalinan dengan bantuan alat (forseps atau vakum), •
Sisa plasenta, dan bayi besar (>4000 gram). c. Faktor Risiko perdarahan setelah SC : • Insisi uterus klasik, • Amnionitis, • Preeklampsia, • Persalinan abnormal, • Anestesia umum, • Partus preterm dan postterm. Kausalnya dibedakan atas: a. Perdarahan dari tempat implantasi plasenta 1. Hipotoni sampai atonia uteri • Akibat anestesi • Distensi berlebihan (gemeli,anak besar,hidramnion) • Partus lama,partus kasep • Partus presipitatus/partus terlalu cepat • Persalinan karena induksi oksitosin • Multiparitas • Riwayat atonia sebelumnya 2. Sisa plasenta • Kotiledon atau selaput ketuban tersisa • Plasenta susenturiata • Plasenta akreata, inkreata, perkreata. b. Perdarahan karena robekan • Episiotomi yang melebar • Robekan pada perinium, vagina dan serviks • Ruptura uteri c. Gangguan koagulasi • Trombofilia • Sindrom HELLP • Preeklampsi • Solutio plasenta • Kematian janin dalam kandungan • Emboli air ketuban Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana Pemeriksaan Fisik a.
Nilai tanda-tanda syok:
pucat, akral dingin, nadi cepat, tekanan darah rendah. b. Nilai tanda-tanda vital: nadi > 100x/menit, pernafasan
hiperpnea, tekanan darah sistolik < 90 mmHg, suhu c. Pemeriksaan
obstetrik: 1. Perhatikan kontraksi,
letak, dan konsistensi uterus 2.
Lakukan
pemeriksaan dalam untuk menilaia danya: perdarahan, keutuhan plasenta, tali
pusat, dan robekan didaerah vagina. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan darah rutin:
terutama untuk menilai kadar Hb < 8 gr%. b.
Pemeriksaan
golongan darah. c.
Pemeriksaan
waktu perdarahan dan waktu pembekuan darah (untuk menyingkirkan penyebab
gangguan pembekuan darah). Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis Perdarahan post partum
bukanlah suatu diagnosis akan tetapi suatu kejadian yang harus dicari
kausalnya: a. PPP karena atonia uteri b.
PPP
karena robekan jalan lahir c.
PPP
karena sisa plasenta d.
Gangguan
pembekuan darah. Diagnosis perdarahan
postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut ini :
Komplikasi a. Syok b. Kematian Penatalaksanaan
Komprehensif Penatalaksanaan Tatalaksana Awal a. Nilai sirkulasi, jalan
napas, dan pernapasan pasien. b.
Bila
menemukan tanda-tanda syok, lakukan penatalaksanaan syok c. Berikan oksigen. d. Pasang infus intravena
dengan kanul berukuran besar (16 atau 18) dan mulai pemberian cairan
kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat atau Ringer Asetat) sesuai dengan
kondisi ibu e. Periksa kondisi abdomen:
kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan tinggi fundus uteri. f. Periksa jalan lahir dan
area perineum untuk melihat perdarahan dan laserasi (jika ada, misal: robekan
serviks atau robekan vagina). g. Periksa kelengkapan
plasenta dan selaput ketuban. h. Pasang kateter Folley
untuk memantau volume urin dibandingkan dengan jumlah cairan yang masuk.
(CATATAN: produksi urin normal 0.5-1 ml/kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam) i. Jika kadar Hb< 8 g/dl
rujuk ke layanan sekunder (dokter spesialis obsgin) j. Jika fasilitas tersedia,
ambil sampel darah dan lakukan pemeriksaan: kadar hemoglobin (pemeriksaan
hematologi rutin) dan penggolongan ABO. k.
Tentukan
penyebab dari perdarahannya (lihat tabel penyebab di atas) dan lakukan
tatalaksana spesifik sesuai penyebab |
|||||||||||||||||||||
|
6.Unit Terkait |
1.
Dokter. 2.
Perawat. 3.
Bidan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment