MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG
Showing posts with label 9608 LABORATORIUM. Show all posts
Showing posts with label 9608 LABORATORIUM. Show all posts

Monday, March 23, 2026

PANDUAN EVALUASI REAGENSIA LABORATORIUM PUSKESMAS ABC

 

PANDUAN

 EVALUASI REAGENSIA LABORATORIUM

PUSKESMAS ABC

DEFINISI

Panduan ini digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi ketersediaan, masa kadaluarsa dan jenis-jenis reagensia di laboratorium Puskesmas ABC.

RUANG LINGKUP

Panduan ini berlaku di lingkup laboratorium Puskesmas ABC.

TATA LAKSANA

Penyusunan panduan evaluasi reagensia laboratorium mengikuti PMK No.43 Tentang Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang Baik pada BAB 4 Bahan Laboratorium, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2013.

A.   Tatalaksana Pemilihan Reagen

1.    Reagen dipilih berdasarkan kebutuhan laboratorium.

2.    Reagen dipilih berdasarkan produksi pabrik yang telah dikenal dan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.

3.    Deskripsi lengkap dari bahan atau produk.

4.    Mempunyai masa kadaluarsa yang panjang.

5.    Volume atau isi kemasan.

6.    Digunakan untuk pemakaian ulang atau sekali pakai.

7.    Mudah diperoleh di pasaran.

8.    Besarnya biaya tiap satuan (nilai ekonomis).

9.    Pemasok/vendor.

10. Kelancaran dan kesinambungan pengadaan.

11. Pelayanan purna jual.

12. Terdaftar sebagai bahan laboratorium dan alat kesehatan di Kementerian Kesehatan.

 

 

B.   Tata Laksana Pemilahan Menurut Jenis/Macam

Berdasarkan fungsinya bahan laboratorium dikelompokkan sebagai berikut :

1.    Reagen

a.    Untuk analisis di laboratorium harus dipilih reagen tingkat analitis.

b.    Reagen yang sudah jadi (komersial) direkomendasikan sebagai pilihan utama. Reagen buatan sendiri dipilih bila tidak tersedia reagen jadi/komersial.

2.    Bahan Standart

Bahan standar primer merupakan standar yang direkomendasi. Digunakan dalam bentuk larutan untuk analisis.

3.    Bahan Kontrol

Pemilihan bahan kontrol didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

a.    Spesimen yang akan diperiksa.

Apabila spesimen yang diperiksa berasal dari manusia maka lebih baik menggunakan bahan kontrol yang berasal dari manusia, karena beberapa zat dalam bahan kontrol yang berasal dari binatang berbeda dengan bahan kontrol berasal dari manusia.

b.    Penggunaan

1). Bahan kontrol yang dibuat dari bahan kimia murni banyak dipakai pada

     pemeriksaan kimia lingkungan selain itu digunakan pula pada bidang

     kimia klinik dan urinalisis.

2). Pooled sera dan liofilisat banyak digunakan di bidang kimia klinik dan

     imunoserologi.

3).Bahan kontrol assayed digunakan untuk uji ketepatan dan ketelitian

    pemeriksaan, uji kualitas reagen, uji kualitas alat dan uji kualitas metode

    pemeriksaan.

4).Bahan kontrol unassayed digunakan untuk uji ketelitian suatu pemeriksaan.

5) Kuman kontrol digunakan untuk menguji mutu reagen/ media pada

    bidang mikrobiologi.

c.     Stabilitas bahan kontrol

Umumnya bentuk padat bubuk (liofilisat) lebih stabil dan tahan lama dari pada bentuk cair. Untuk memudahkan transportasi, umumnya bentuk padat bubuk dibuat dalam bentuk strip. Stabilitas bahan kontrol yang dibuat sendiri kurang terjamin, selain itu juga mempunyai bahaya infeksi yang tinggi.

 

 

 

 

 

C.   Tata Laksana Pengadaan

Pengadaan reagensia atau bahan laboratorium dibuat berdasarkan :

1.      Tingkat persediaan.

Pada umumnya tingkat persediaan harus selalu sama dengan jumlah persediaan yaitu jumlah persediaan minimum ditambah jumlah safety stock. Tingkat persediaan minimum adalah jumlah bahan yang diperlukan untuk memenuhi kegiatan operasional normal, sampai pengadaan berikutnya dari pembekal atau ruang penyimpanan umum. Safety Stock adalah jumlah persediaan cadangan yang harus ada untuk bahan-bahan yang dibutuhkan atau yang sering terlambat diterima dari pemasok. Buffer stock adalah stok penyangga kekurangan reagen di laboratorium. Reserve stock adalah cadangan reagen/sisa.

2.    Perkiraan jumlah kebutuhan.

Perkiraan kebutuhan dapat diperoleh berdasarkan jumlah pemakaian atau pembelian bahan dalam periode 6-12 bulan yang lalu dan proyeksi jumlah pemeriksaan untuk periode 6-12 bulan untuk tahun yang akan datang. Jumlah rata-rata pemakaian bahan untuk satu bulan perlu dicatat.

 

3.    Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan (delivery time)

Lamanya waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai bahan diterima dari pemasok perlu diperhitungkan, terutama untuk bahan yang sulit didapat.

 

D.   Tata Laksana Penyimpanan

Dalam melakukan proses penyimpanan reagen perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.    Perputaran pemakaian dengan menggunakan kaidah :

a.    Pertama masuk -pertama keluar (FIFO-first in-first out), yaitu bahwa barang yang lebih dahulu masuk persediaan harus digunakan lebih dahulu.

b.    Masa kadaluarsa pendek dipakai dahulu (FEFO-first expired first out). Hal ini adalah untuk menjamin barang tidak rusak akibat penyimpanan yang terlalu lama.

2.    Tempat penyimpanan.

3.    Suhu/kelembaban.

4.    Sirkulasi udara.

5.    Incompatibility/bahan kimia yang tidak boleh bercampur.

 

 

 

 

DOKUMENTASI

1.    Buku catatan pemakaian harian reagen laboratorium.

2.    Form laporan bulanan reagen.

3.    Buku bantu stok reagen laboratorium.

4.    Label.

5.    Kartu stok reagen

PEDOMAN EVALUASI REAGENSIA LABORATORIUM

 

PEDOMAN

                             EVALUASI REAGENSIA LABORATORIUM                                                                   

PUSKESMAS BANYUMAS

I.               DEFINISI

Panduan ini digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi ketersediaan, masakadaluarsa dan jenis-jenis reagensia di laboratorium PuskesmasBANYUMAS.

II.             RUANG LINGKUP

Panduan ini berlaku di lingkup Laboratorium Puskesmas BANYUMAS.

III.            TATA LAKSANA

Penyusunan panduan evaluasi reagensia laboratorium mengikuti PMK No.43 Tentang Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang Baik pada BAB 4 Bahan Laboratorium, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2013.

A.   Tatalaksana Pemilihan Reagen

1.    Reagen dipilih berdasarkan kebutuhan laboratorium.

2.    Reagen dipilih berdasarkan produksi pabrik yang telah dikenal dan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.

3.    Deskripsi lengkap dari bahan atau produk.

4.    Mempunyai masa kadaluarsa yang panjang.

5.    Volume atau isi kemasan.

6.    Digunakan untuk pemakaian ulang atau sekali pakai.

7.    Mudah diperoleh di pasaran.

8.    Besarnya biaya tiap satuan (nilaiekonomis).

9.    Pemasok/vendor.

10. Kelancaran dan kesinambungan pengadaan.

11. Pelayanan purna jual.

12. Terdaftar sebagai bahan laboratorium dan alat kesehatan di Kementerian Kesehatan.

 

B.   Tata Laksana Pemilahan Menurut Jenis / Macam

Berdasarkan fungsinya bahan laboratorium dikelompokkan sebagai berikut :

1.    Reagen

a.    Untuk analisis di laboratorium harus di pilih reagen tingkat analitis.

b.    Reagen yang sudah jadi (komersial) di  rekomendasikan sebagai pilihan utama.

c.     Reagen buatan sendiri dipilih bila tidak tersedia reagen jadi / komersial.

2.    Bahan Standart

Bahan standar primer merupakan standar yang di rekomendasi. Digunakan dalam bentuk larutan untuk analisis.

3.    Bahan Kontrol

Pemilihan bahan control didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

a.    Spesimen yang akan diperiksa.

Apabila spesimen yang diperiksa berasal dari manusia maka lebih baik menggunakan bahan kontrol yang berasal dari manusia, karena beberapa zat dalam bahan kontrol yang berasal dari binatang berbeda dengan bahan control berasal dari manusia.

b.    Penggunaan

1). Bahan kontrol yang dibuat dari bahan kimia murni banyak dipakai  pada

Pemeriksaan kimia lingkungan selain itu digunakan pula pada bidang

Kimia klinik dan urinalisis.

2). Pooled sera dan liofilisat banyak digunakan di bidang kimia klinik dan

imunoserologi.

3).Bahan control assayed digunakan untuk uji ketepatan dan ketelitian

pemeriksaan, uji kualitas reagen, uji kualitas alat dan uji kualitas metode

pemeriksaan.

4).Bahan control unassayed digunakan untuk uji ketelitian suatu pemeriksaan.

5) Kuman control digunakan untuk menguji mutu reagen/ media pada

Bidang mikrobiologi.

c.     Stabilitas bahan kontrol

Umumnya bentuk padat , bubuk (liofilisat) lebih stabil dan tahan lama dari pada bentuk cair .Untuk memudahkan transportasi, umumnya bentuk padat ,bubuk dibuat dalam bentuk strip.Stabilitas bahan kontrol yang dibuat sendiri kurang terjamin, selain itu juga mempunyai bahaya infeksi yang tinggi.

 

C.   Tata Laksana Pengadaan

Pengadaan reagensia atau bahan laboratorium dibuat berdasarkan :

1.      Tingkat persediaan.

Pada umumnya tingkat persediaan harus selalu sama dengan jumlah persediaanya itu jumlah persediaan minimum ditambah jumlah safetystock. Tingkat persediaan minimum adalah jumlah bahan yang diperlukan untuk memenuhi kegiatan operasional normal, sampai pengadaan berikutnya dari pembekal atau ruang penyimpanan umum. Safety Stock adalah jumlah persediaan cadangan yang harus ada untuk bahan-bahan yang dibutuhkan atau yang sering terlambat diterima dari pemasok. Buffer stock adalah stok penyangga kekurangan reagen di laboratorium. Reserve stock adalah cadangan reagen /sisa.

2.    Perkiraan jumlah kebutuhan.

Perkiraan kebutuhan dapat diperoleh berdasarkan jumlah pemakaian atau pembelian bahan dalam periode 6-12 bulan yang lalu dan proyeksi jumlahpemeriksaan untuk periode 6-12 bulan untuk tahun yang akan datang.Jumlah rata-rata pemakaian bahan untuk satu bulan perlu dicatat.

 

3.    Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan(delivery time)

Lamanya waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai bahan diterima dari pemasok perlu diperhitungkan, terutama untuk bahan yang sulit didapat.

D.   Tata Laksana Penyimpanan

Dalam melakukan proses penyimpanan reagen perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.    Perputaran pemakaian dengan menggunakan kaidah :

a.    Pertama masuk –pertama keluar (FIFO-first in-first out), yaitu bahwa barang yang lebih dahulu masuk persediaan harus digunakan lebih dahulu.

b.    Masa kadaluarsa pendek dipakai dahulu (FEFO-first expired first out). Hal ini adalah untuk menjamin barang tidak rusak akibat penyimpanan yang terlalu lama.

2.    Tempat penyimpanan.

3.    Suhu/kelembaban.

4.    Sirkulasi udara.

5.    Incompatibility/ bahan kimia yang tidak boleh bercampur

IV.          DOKUMENTASI

1.    Buku catatan pemakaian harian reagen laboratorium.

2.    Form laporan bulanan reagen.

3.    Buku bantu stok reagen laboratorium.

4.    Label.

5.    Kartu stok reagen

KERANGKA ACUAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KEAMANAN LABORATORIUM

 

KERANGKA ACUAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KEAMANAN LABORATORIUM

UPTD PUSKESMAS GAJAHAN

A.   PENDAHULUAN

Puskesmas  Gajahan merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kota Surakarta Pelayanan laboratorium puskesmas merupakan salah satu unsur penting dalam upaya puskesmas utuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Laboratorium puskesmas melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadapa bahan yang berasal dari manuasia maupun bukan dari manusia untuk pentuan jenis penyakit, penyebaran penyakit, kondisi kesehatan ,atau faktor yang dapat berpengaruh  pada kesehatan perorangan dan masyarakat diwilayah kerja puskesmas.

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) laboratorium merupakan bagian dari pengelolaan laboratorium secara keseluruhan. Pengamanan kerja dilaboratorium pada dasarnya menjadi tanggung jawab setiap petugas yang berhubungan langsung dengan proses pengambilan , pemeriksaan specimen

Dalam pelaksanan kegiatan laboratorium tersebut terdapat bahaya/ resiko yang dapat terjadi pada petugas yang berada di laboratorium maupun yang berada dilingkungan sekitarnya. Untuk mengurangi dan mencegah resiko yang terjadi maka petugas harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan prosedur dengan baik dan benar

 

B.   LATAR BELAKANG

Laboratorium melakukan berbagai tindakan dan kegiatan yang terutama berhubungan dengan specimen yang berasal dari manusia maupun bukan manusia. Bagi petugas laboratorium yang selalu kontak dengan specimen , maka berpotensi terinfeksi kuman pathogen.  Potensi infeksi juga dapat terjadi dari petugas yang satu ke petugas yang lainnya, atau ke keluarga dan masyarakat. 

Untuk mengurangi bahaya perlu adanya kebijakan yang ketat.  Petugas harus memahami keamanan laboratorium dan mempunyai sikap serta kemampuan melakukan pengamanan sehubungan dengan pekerjaan yang sesuai SOP serta mengontrol bahan ataupun specimen  menurut praktik laboratorium yang benar

 

C.   TUJUAN

1.    Tujuan Umum

Sebagai acuan dalam melaksanakan  keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium

2.    Tujuan Khusus

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penularan bahan infeksius ataupun kuman patogen di laboratorium dan menjaga lingkungan kerja yang aman.

 

D.   KEGIATAN DAN RINCIAN KEGIATAN

1.    Identifikasi

.

·       cara kerja ( proses )yang digunakan

·       bahan/ reagen yang digunakan,

·       specimen yang diperiksa,

·       sarana dan prasarana laboratorium yang digunakan

·       limbah yang dihasilkan,

2.    Perencanaan

·       Identifikasi masalah kesehatan,resiko dan keamanan  kerja dilaboratorium

3.    Pelaksanaan

·       sosialisasi K3

·       Pelatihan K3

·       membuat SOP dan melakukan revisi

4.    Pengawasan

·       melakukan pengendalian dan penangulangan K3

·       melaporkan dan mencacat kejadian K3 dilaboratorium

·       melaksanakan upaya-upaya perbaikan

 

E.    CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1.    Identifikasi

-       Melaksanakan pemeriksaan dengan prosedur SOP yang berlaku dengan baik dan benar

-       Menggunakan bahan dan reagen  sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diperlukan

-       Memisahkan jenis specimen yang akan diperiksa

-       Sarana dan prasarana laboratorium dengan menggunakan apd ( jas lab, masker , sarung tangan, wastafel yang disertai sabun dan air mengalir, container khusus untuk jarum  dan sampah medis )

-       Limbah yang dihasil kan limbah cair atau limbah padat limbah  diberi klorin 0.5% diamkan 10 menit , limbah cair buang pada saluran ipal dan  limbah padat di serahkan bagian kesehatan lingkungan untuk dimusnahkan

 

2.    Perencanaan kegiatan kesehatan dan keamanan kerja di laboratorium

-       Mengidentifikasi masalah ,resiko dan keamanan dilaboratorium , seperti tertusuk jarum, reagen tumpah. Terkena percikan sampel. Tabung sampel jatuh, salah ,memberi identifikasi sampel, pengambilan sampel yang gagal/ diulang-ulang

3.    Pelaksanaan orientasi bimbingan dan penyuluhan serta  pelatihan praktik keamanan kerja laboratorium

-       Mengadakan sosialisasi  dan pelatihan petugas tentang K3

-       Membuat SOP Keselamatan keamanan kerja dilaboratorium

4.    Pengawasan pelaksanaan kegiatan keselamatan kerja lab.

-       Melakukan pengendalian dan penanggulangan K3 dengan memeriksa petugas laboratorium minimal 1 tahun sekali, Imunisasi Hepatitis

-       Mencatat dan melapor kejadian K3 yang ada dilaboratorium setiap ada insiden pada buku catatan

 

F.    SASARAN

Petugas laboratorium dan Koordinator Pelayanan Klinis

 

G.   JADWAL

Kegiatan

Waktu Pelaksanaan

1.    Identifikasi

Mei 2016

2.    Perencanaaan

Mei 2016

3.    Pelaksanaan

Juni – Desember 2016

4.    Pengawasan

Juni – Desember 2016

 

H.   PENCATATAN DAN PELAPORAN

1.    Bukti hasil pelaksanaan program keselamatan kerja di laboratorium.

2.    Bukti pelaporan insiden

 

I.      EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN

1.   

Mengesahkan,

Kepala UPTD Puskesmas Gajahan

 

drg. Supraptini

NIP. 19600323 198801 2 002

Surakarta, ………………

Pejabat Teknis

 

 

…………………

NIP. ………………………….

Setahun sekali  pada akhir tahun ( bulan Desember )dan pelaporan pada awal tahun( pada bulan Januari )

POSTINGAN POPULER