MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Wednesday, September 23, 2026

SOP PENATALAKSANAAN PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH


 

SOP PENATALAKSANAAN PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH

A. IDENTITAS DOKUMEN

KomponenKeterangan
Nama Fasilitas Kesehatan................................................
Nama SOPPenatalaksanaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah
Nomor Dokumen................................................
Nomor Revisi................................................
Tanggal Terbit................................................
Halaman................................................
Unit/BagianPelayanan Klinis / Ruang Tindakan / IGD
Disusun oleh................................................
Diperiksa oleh................................................
Disahkan oleh................................................

B. KATA KUNCI SEO

Kata Kunci Utama

  • SOP perdarahan saluran cerna bagian bawah

  • SOP perdarahan gastrointestinal bawah

  • SOP lower gastrointestinal bleeding

  • penatalaksanaan perdarahan saluran cerna

  • perdarahan saluran cerna bagian bawah

Kata Kunci Turunan

  • SOP perdarahan saluran cerna Puskesmas

  • SOP LGIB

  • hematochezia

  • BAB berdarah

  • perdarahan rektal

  • perdarahan usus

  • divertikular bleeding

  • perdarahan kolon

  • triase perdarahan gastrointestinal

  • rujukan perdarahan saluran cerna

  • kegawatdaruratan perdarahan saluran cerna

  • akreditasi Puskesmas

  • SOP FKTP perdarahan gastrointestinal


C. PENGERTIAN

Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah (PSCB/LGIB) adalah perdarahan yang berasal dari saluran gastrointestinal bagian bawah, terutama kolon dan rektum, yang secara klinis dapat muncul sebagai hematochezia, yaitu keluarnya darah merah atau merah tua melalui anus.

Namun, darah merah melalui anus tidak selalu berasal dari saluran cerna bagian bawah. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang sangat banyak juga dapat menyebabkan hematochezia, terutama apabila disertai ketidakstabilan hemodinamik. Oleh karena itu, sumber perdarahan harus dinilai secara klinis.

Perdarahan dapat bersifat ringan sampai mengancam jiwa dan membutuhkan penilaian cepat terhadap status hemodinamik, derajat kehilangan darah, kemungkinan penyebab, penggunaan obat antikoagulan/antiplatelet, serta kebutuhan rujukan.


D. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Memberikan penanganan awal yang sistematis, aman, dan tepat pada pasien dengan dugaan perdarahan saluran cerna bagian bawah serta menentukan kebutuhan observasi, konsultasi, atau rujukan.

2. Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi pasien dengan perdarahan saluran cerna bagian bawah.

  2. Menilai tingkat keparahan perdarahan.

  3. Mengidentifikasi tanda ketidakstabilan hemodinamik.

  4. Melakukan stabilisasi awal.

  5. Mengidentifikasi kemungkinan sumber dan penyebab perdarahan.

  6. Mengidentifikasi faktor risiko dan obat yang dapat memperberat perdarahan.

  7. Menentukan kebutuhan pemeriksaan penunjang.

  8. Menentukan kebutuhan rujukan.

  9. Melakukan monitoring kondisi pasien.

  10. Mendokumentasikan seluruh pelayanan secara lengkap.


E. KEBIJAKAN

  1. Penilaian awal dan stabilisasi dilakukan secara bersamaan pada pasien dengan perdarahan akut.

  2. Prioritas awal adalah keselamatan pasien dan penilaian airway, breathing, circulation (ABC).

  3. Pasien dengan tanda syok, perdarahan aktif berat, atau kondisi tidak stabil harus mendapatkan penanganan kegawatdaruratan dan rujukan segera.

  4. Pemeriksaan dan terapi dilakukan sesuai kewenangan klinis petugas serta kemampuan fasilitas.

  5. Riwayat penggunaan antikoagulan dan antiplatelet harus ditanyakan.

  6. Penghentian atau pembalikan efek obat antitrombotik tidak dilakukan secara sembarangan dan harus mempertimbangkan risiko perdarahan serta risiko trombosis. Keputusan tersebut memerlukan penilaian klinis dokter.

  7. Pasien yang membutuhkan pemeriksaan atau tindakan yang tidak tersedia di FKTP dirujuk sesuai sistem rujukan.

  8. Pemeriksaan endoskopi atau radiologi intervensi dilakukan di fasilitas yang memiliki kompetensi dan sarana yang sesuai.

  9. Semua tindakan, perubahan kondisi, dan keputusan rujukan harus didokumentasikan.


F. PETUGAS

  • Dokter.

  • Perawat.

  • Petugas kesehatan lain sesuai kewenangan klinis.

  • Petugas laboratorium sesuai kebutuhan.

  • Petugas farmasi sesuai kewenangan.


G. INDIKASI

SOP ini diterapkan pada pasien dengan:

  1. BAB disertai darah merah atau merah tua.

  2. Perdarahan dari anus yang dicurigai berasal dari saluran cerna.

  3. Hematochezia.

  4. Riwayat perdarahan gastrointestinal.

  5. Anemia yang dicurigai berkaitan dengan perdarahan saluran cerna.

  6. Pasien dengan faktor risiko perdarahan gastrointestinal.

  7. Pasien dengan dugaan perdarahan kolon atau rektum.

  8. Pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang membutuhkan evaluasi awal.


H. KEMUNGKINAN PENYEBAB

Penyebab PSCB dapat beragam, antara lain:

  • divertikulosis/diverticular bleeding;

  • angioektasia;

  • kolitis;

  • penyakit inflamasi usus;

  • polip atau keganasan kolorektal;

  • hemoroid;

  • fisura ani;

  • perdarahan pascaprosedur;

  • gangguan pembekuan;

  • penggunaan obat tertentu;

  • penyebab lain pada kolon, rektum, atau saluran cerna.

Penyebab tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan warna darah tanpa evaluasi klinis lebih lanjut.


I. FAKTOR RISIKO

Identifikasi:

  1. Usia.

  2. Riwayat perdarahan gastrointestinal.

  3. Penyakit divertikular.

  4. Penyakit hati.

  5. Gangguan pembekuan.

  6. Penyakit ginjal.

  7. Penyakit kardiovaskular.

  8. Penyakit inflamasi usus.

  9. Riwayat polip atau kanker kolorektal.

  10. Riwayat tindakan endoskopi.

  11. Penggunaan antikoagulan.

  12. Penggunaan antiplatelet.

  13. Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid.

  14. Kondisi medis lain yang meningkatkan risiko perdarahan.


J. ANAMNESIS

1. Keluhan Perdarahan

Tanyakan:

  • kapan perdarahan mulai;

  • frekuensi BAB berdarah;

  • jumlah perkiraan perdarahan;

  • warna darah;

  • apakah darah bercampur dengan tinja;

  • apakah darah keluar setelah BAB;

  • adanya gumpalan darah;

  • apakah perdarahan masih berlangsung;

  • perubahan jumlah perdarahan.

2. Gejala Penyerta

Tanyakan:

  • pusing;

  • lemas;

  • berdebar;

  • hampir pingsan/pingsan;

  • sesak;

  • nyeri perut;

  • demam;

  • diare;

  • perubahan pola BAB;

  • penurunan berat badan;

  • muntah;

  • tinja berwarna hitam;

  • nyeri dada.

3. Riwayat Penyakit

Tanyakan:

  • penyakit gastrointestinal;

  • penyakit hati;

  • penyakit jantung;

  • gangguan pembekuan;

  • penyakit ginjal;

  • penyakit inflamasi usus;

  • riwayat kanker;

  • riwayat operasi atau endoskopi.

4. Obat

Tanyakan secara khusus mengenai:

  • antikoagulan;

  • antiplatelet;

  • obat antiinflamasi nonsteroid;

  • obat lain yang berpotensi memengaruhi perdarahan.

Catat nama obat, dosis sesuai resep yang sedang digunakan, dan waktu penggunaan terakhir bila diketahui.


K. PEMERIKSAAN FISIK

Lakukan pemeriksaan sesuai kondisi:

  1. Keadaan umum.

  2. Tingkat kesadaran.

  3. Tekanan darah.

  4. Frekuensi nadi.

  5. Frekuensi pernapasan.

  6. Saturasi oksigen bila tersedia.

  7. Suhu.

  8. Warna kulit dan konjungtiva.

  9. Tanda hipoperfusi.

  10. Pemeriksaan abdomen.

  11. Pemeriksaan area anorektal bila diindikasikan dan aman.

  12. Pemeriksaan lain sesuai kondisi klinis.


L. PENILAIAN KEGAWATDARURATAN

Segera nilai apakah terdapat:

  • penurunan kesadaran;

  • tekanan darah rendah atau tanda hipoperfusi;

  • takikardia;

  • pucat berat;

  • kulit dingin/lembap;

  • perdarahan aktif dalam jumlah banyak;

  • sinkop atau hampir sinkop;

  • sesak atau nyeri dada;

  • oliguria bila dapat dinilai;

  • kondisi umum memburuk;

  • dugaan syok.

Pada pasien tidak stabil, stabilisasi tidak boleh ditunda hanya untuk menyelesaikan anamnesis atau pemeriksaan diagnostik.


M. PENILAIAN SUMBER PERDARAHAN

Hematochezia dapat berasal dari kolon/rektum, tetapi pada perdarahan yang sangat cepat dan berat juga dapat terjadi pada perdarahan saluran cerna bagian atas. Pedoman ACG mencatat bahwa sebagian pasien yang awalnya dianggap mengalami LGIB ternyata memiliki sumber perdarahan bagian atas.

Pertimbangkan sumber saluran cerna bagian atas apabila:

  1. Hematochezia disertai ketidakstabilan hemodinamik.

  2. Terdapat riwayat penyakit saluran cerna atas.

  3. Terdapat gejala yang mendukung perdarahan saluran cerna bagian atas.

  4. Gambaran klinis tidak sesuai dengan sumber perdarahan bagian bawah.


N. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan fasilitas.

Dapat dipertimbangkan:

  1. Hemoglobin dan hematokrit.

  2. Darah lengkap.

  3. Trombosit.

  4. Pemeriksaan fungsi ginjal.

  5. Elektrolit.

  6. Pemeriksaan koagulasi sesuai indikasi.

  7. Golongan darah dan persiapan kebutuhan transfusi pada fasilitas yang sesuai.

  8. Pemeriksaan lain sesuai kondisi klinis.

Pada perdarahan berat yang sedang berlangsung, CT angiography (CTA) dapat berperan dalam membantu menemukan sumber perdarahan dan mengarahkan terapi, terutama pada pasien yang sesuai kriteria di fasilitas rujukan.


O. PENATALAKSANAAN AWAL

1. Penilaian ABC

Airway

Pastikan jalan napas aman.

Breathing

Nilai pernapasan dan berikan dukungan oksigen apabila terdapat indikasi klinis sesuai protokol fasilitas.

Circulation

Nilai:

  • tekanan darah;

  • nadi;

  • perfusi;

  • tanda hipovolemia;

  • jumlah perdarahan.


P. AKSES INTRAVENA DAN RESUSITASI

Pada pasien dengan perdarahan bermakna atau kondisi tidak stabil:

  1. Siapkan akses intravena sesuai kewenangan dan fasilitas.

  2. Lakukan pemantauan tanda vital secara berkala.

  3. Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan klinis dan protokol kegawatdaruratan fasilitas.

  4. Evaluasi respons terhadap resusitasi.

  5. Persiapkan rujukan segera apabila fasilitas tidak mampu memberikan penanganan definitif.

Terapi cairan dan transfusi harus ditentukan berdasarkan kondisi klinis, derajat perdarahan, hasil pemeriksaan, komorbiditas, dan protokol fasilitas.


Q. TRANSFUSI

Keputusan transfusi dilakukan oleh dokter berdasarkan:

  • kondisi hemodinamik;

  • derajat perdarahan;

  • kadar hemoglobin;

  • penyakit penyerta;

  • perdarahan yang sedang berlangsung;

  • kondisi klinis keseluruhan.

Jangan menentukan transfusi hanya berdasarkan satu angka laboratorium tanpa mempertimbangkan kondisi klinis pasien.


R. PENGELOLAAN OBAT ANTITROMBOTIK

Tanyakan dan dokumentasikan penggunaan:

  • aspirin;

  • antiplatelet lain;

  • warfarin;

  • DOAC;

  • antikoagulan lain.

Pengelolaan obat tersebut harus dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan keseimbangan risiko perdarahan dan trombosis. Jangan menghentikan obat antitrombotik secara otomatis tanpa pertimbangan klinis.

Pada pasien dengan indikasi kardiovaskular tertentu, keputusan penghentian atau melanjutkan aspirin harus dikonsultasikan sesuai kondisi klinis.


S. PENATALAKSANAAN DEFINITIF DI FASILITAS RUJUKAN

Pasien yang membutuhkan evaluasi definitif dapat memerlukan:

  1. Kolonoskopi.

  2. CT angiography.

  3. Angiografi dan terapi radiologi intervensi.

  4. Endoskopi saluran cerna bagian atas apabila dicurigai sumber bagian atas.

  5. Tindakan hemostasis endoskopik.

  6. Tindakan bedah pada kasus tertentu.

Pada pasien yang membutuhkan rawat inap, pedoman ACG 2023 menyatakan bahwa kolonoskopi umumnya dilakukan secara nonurgent setelah persiapan yang memadai; kolonoskopi sangat dini tidak terbukti memperbaiki luaran klinis penting seperti rebleeding.


T. KRITERIA RUJUKAN SEGERA

Rujuk segera apabila terdapat:

  1. Perdarahan aktif banyak.

  2. Ketidakstabilan hemodinamik.

  3. Tanda syok.

  4. Penurunan kesadaran.

  5. Sinkop atau presinkop yang berkaitan dengan perdarahan.

  6. Penurunan hemoglobin yang bermakna.

  7. Perdarahan berulang atau terus berlangsung.

  8. Kebutuhan transfusi.

  9. Kebutuhan endoskopi yang tidak tersedia di fasilitas.

  10. Kebutuhan CTA atau angiografi.

  11. Kecurigaan perdarahan saluran cerna bagian atas.

  12. Pasien dengan komorbid berat.

  13. Gangguan koagulasi yang membutuhkan penanganan khusus.

  14. Tidak tersedia kemampuan monitoring atau stabilisasi yang memadai.


U. MONITORING

Monitoring meliputi:

  1. Kesadaran.

  2. Tekanan darah.

  3. Frekuensi nadi.

  4. Frekuensi napas.

  5. Saturasi oksigen.

  6. Jumlah dan frekuensi perdarahan.

  7. Warna dan karakter tinja.

  8. Nyeri abdomen.

  9. Tanda hipoperfusi.

  10. Respons terhadap terapi.

  11. Hasil laboratorium bila tersedia.

Frekuensi monitoring disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi pasien.


V. EDUKASI PASIEN DAN KELUARGA

Berikan penjelasan mengenai:

  1. Perdarahan saluran cerna dapat memiliki berbagai penyebab.

  2. Perdarahan dapat berulang.

  3. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menemukan sumber perdarahan.

  4. Pasien harus menyampaikan semua obat yang sedang digunakan.

  5. Jangan menghentikan obat rutin, terutama obat jantung atau pengencer darah, tanpa arahan tenaga kesehatan.

  6. Hindari penggunaan obat tambahan tanpa berkonsultasi, terutama obat yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.

  7. Segera kembali atau mencari pertolongan jika perdarahan bertambah, muncul pusing berat, pingsan, sesak, nyeri dada, atau penurunan kesadaran.


W. KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  1. Anemia.

  2. Hipovolemia.

  3. Syok.

  4. Gangguan perfusi organ.

  5. Kebutuhan transfusi.

  6. Perdarahan berulang.

  7. Komplikasi penyakit penyebab.

  8. Komplikasi akibat penyakit penyerta.


X. DOKUMENTASI

Dokumentasikan sekurang-kurangnya:

  1. Identitas pasien.

  2. Waktu mulai perdarahan.

  3. Karakteristik perdarahan.

  4. Jumlah/frekuensi perdarahan berdasarkan informasi yang tersedia.

  5. Gejala penyerta.

  6. Riwayat penyakit.

  7. Riwayat obat, terutama antiplatelet/antikoagulan.

  8. Tanda vital.

  9. Status hemodinamik.

  10. Hasil pemeriksaan fisik.

  11. Pemeriksaan penunjang.

  12. Tindakan awal.

  13. Respons terhadap tindakan.

  14. Konsultasi dokter/spesialis bila dilakukan.

  15. Keputusan rujukan.

  16. Kondisi pasien saat dirujuk.

  17. Edukasi pasien/keluarga.

  18. Nama dan autentikasi petugas.


Y. INDIKATOR MUTU

No.IndikatorTarget
1Penilaian ABC terdokumentasi≥95%
2Tanda vital terdokumentasi≥95%
3Riwayat penggunaan antikoagulan/antiplatelet ditanyakan≥95%
4Penilaian tanda syok terdokumentasi≥95%
5Pasien dengan indikasi rujukan dirujuk sesuai prosedur100%
6Dokumentasi kondisi pasien saat rujukan lengkap≥95%
7Edukasi tanda bahaya diberikan≥95%

Target dapat disesuaikan dengan indikator mutu fasilitas.


Z. UNIT TERKAIT

  1. Pelayanan Umum.

  2. Ruang Tindakan.

  3. IGD apabila tersedia.

  4. Laboratorium.

  5. Farmasi.

  6. Unit Rujukan.

  7. Dokter.

  8. Keperawatan.

  9. Fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.


AA. DOKUMEN TERKAIT

  1. Rekam medis.

  2. SOP triase.

  3. SOP penanganan kegawatdaruratan.

  4. SOP pemasangan akses intravena.

  5. SOP terapi oksigen.

  6. SOP pemeriksaan tanda vital.

  7. SOP pemeriksaan hemoglobin.

  8. SOP rujukan pasien.

  9. SOP transfusi darah apabila tersedia.

  10. SOP keselamatan pasien.


AB. ALUR SINGKAT

Pasien BAB berdarah/dugaan perdarahan saluran cerna

Penilaian ABC + tanda vital

Stabil atau tidak stabil?

TIDAK STABIL

Stabilisasi awal → monitoring → konsultasi → rujuk segera

STABIL

Anamnesis + pemeriksaan fisik

Identifikasi sumber dan kemungkinan penyebab

Periksa obat antikoagulan/antiplatelet

Pemeriksaan penunjang sesuai indikasi

Stratifikasi risiko

Tentukan observasi / terapi / rujukan

Monitoring

Dokumentasi dan edukasi


AC. CHECKLIST PENATALAKSANAAN

No.KomponenYaTidakKeterangan
1ABC dinilai
2Kesadaran dinilai
3Tekanan darah diperiksa
4Nadi diperiksa
5Frekuensi napas diperiksa
6SpO₂ diperiksa bila diperlukan
7Karakter perdarahan ditanyakan
8Jumlah/frekuensi perdarahan dinilai
9Nyeri abdomen dinilai
10Riwayat obat antikoagulan ditanyakan
11Riwayat antiplatelet ditanyakan
12Tanda syok dinilai
13Pemeriksaan laboratorium dipertimbangkan
14Stabilisasi dilakukan bila diperlukan
15Kriteria rujukan dinilai
16Edukasi diberikan
17Dokumentasi lengkap

AD. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN

No.TanggalIsi PerubahanPenanggung Jawab
1................SOP pertama kali dibuat................
2................Revisi................
3................Revisi................

AE. REFERENSI

  1. Sengupta N, Feuerstein JD, Jairath V, et al. Management of Patients With Acute Lower Gastrointestinal Bleeding: An Updated ACG Guideline. American Journal of Gastroenterology. 2023;118(2):208–231.

  2. American College of Gastroenterology. Management of Patients With Acute Lower Gastrointestinal Bleeding – Guideline.

  3. ACG/Canadian Association of Gastroenterology. Management of Anticoagulants and Antiplatelets During Acute Gastrointestinal Bleeding and the Periendoscopic Period.

  4. Pedoman pelayanan klinis dan sistem rujukan yang berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan.


AF. SEO BLOG / WEBSITE

Judul SEO

SOP Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah (LGIB): Penatalaksanaan dan Rujukan

Meta Description

SOP perdarahan saluran cerna bagian bawah lengkap meliputi penilaian ABC, tanda syok, anamnesis, pemeriksaan, stabilisasi, monitoring, penggunaan antikoagulan, dan kriteria rujukan.

Slug

sop-perdarahan-saluran-cerna-bagian-bawah-lgib

Keyword Utama

SOP Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah

Keyword Pendukung

SOP LGIB, perdarahan gastrointestinal bawah, BAB berdarah, hematochezia, perdarahan rektal, perdarahan kolon, perdarahan usus, SOP perdarahan gastrointestinal Puskesmas, penatalaksanaan LGIB, rujukan perdarahan saluran cerna, kegawatdaruratan perdarahan gastrointestinal, akreditasi Puskesmas.


CATATAN KESELAMATAN

Perdarahan saluran cerna dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Ketidakstabilan hemodinamik, perdarahan aktif berat, penurunan kesadaran, atau tanda syok merupakan alasan untuk melakukan stabilisasi dan rujukan segera. Penilaian awal dan resusitasi harus dilakukan secara bersamaan.

SOP ini merupakan draft dokumen pelayanan klinis, sehingga sebelum ditetapkan perlu disesuaikan dengan kewenangan klinis petugas, kemampuan fasilitas, formularium, sistem rujukan, kebijakan keselamatan pasien, serta pedoman klinis yang berlaku.

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER