SOP PENANGANAN PERDARAHAN HIDUNG
(EPISTAKSIS)
A. IDENTITAS DOKUMEN
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Nama Fasilitas Kesehatan | ................................................ |
| Judul SOP | Penanganan Perdarahan Hidung (Epistaksis) |
| Nomor Dokumen | ................................................ |
| Nomor Revisi | ................................................ |
| Tanggal Terbit | ................................................ |
| Halaman | ................................................ |
| Unit/Program | Pelayanan Klinis |
| Penanggung Jawab | Dokter |
1. KATA KUNCI SEO
Kata Kunci Utama
SOP Penanganan Perdarahan Hidung, SOP Epistaksis, penanganan epistaksis, SOP mimisan, pertolongan perdarahan hidung, pengobatan epistaksis, SOP Puskesmas.
Kata Kunci Turunan
- Perdarahan hidung atau mimisan
- Layanan epistaksis di Puskesmas
- Diagnosis epistaksis
- Penatalaksanaan perdarahan hidung
- Pertolongan pertama mimisan
- Pemeriksaan pasien epistaksis
- Penyebab perdarahan hidung
- SOP pelayanan klinis Puskesmas
- SOP penyakit THT Puskesmas
2. PENGERTIAN
Perdarahan hidung atau epistaksis adalah keluarnya darah dari rongga hidung akibat perdarahan dari pembuluh darah pada mukosa hidung.
Epistaksis dapat berasal dari bagian depan hidung (epistaksis anterior) maupun bagian belakang hidung (epistaksis posterior). Sebagian besar kasus merupakan epistaksis anterior dan dapat ditangani dengan tindakan konservatif yang tepat.
Penanganan bertujuan untuk mengendalikan perdarahan, mempertahankan kondisi umum pasien, mencari faktor penyebab atau pencetus, serta mencegah terjadinya perdarahan berulang.
3. TUJUAN
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan sistematis pada pasien dengan perdarahan hidung serta mencegah komplikasi akibat perdarahan.
Tujuan Khusus
- Melakukan penilaian awal kondisi pasien.
- Menentukan tingkat kegawatan epistaksis.
- Mengidentifikasi kemungkinan sumber dan faktor pencetus perdarahan.
- Mengendalikan perdarahan.
- Memantau kondisi hemodinamik pasien.
- Memberikan edukasi untuk mencegah perdarahan berulang.
- Menentukan kebutuhan rujukan.
- Mendokumentasikan pelayanan dalam rekam medis.
4. KEBIJAKAN
- Penanganan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten sesuai kewenangan klinis.
- Prioritas utama adalah stabilisasi kondisi pasien dan pengendalian perdarahan.
- Pemeriksaan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pasien.
- Pasien dengan tanda kegawatan harus mendapatkan penanganan segera dan/atau dirujuk sesuai sistem rujukan.
- Penggunaan obat dan tindakan dilakukan sesuai indikasi, kewenangan klinis, formularium, serta kebijakan fasilitas pelayanan kesehatan.
- Tindakan invasif atau prosedur khusus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi.
- Semua tindakan, hasil pemeriksaan, terapi, edukasi, dan keputusan rujukan dicatat dalam rekam medis.
5. PETUGAS
- Dokter.
- Perawat.
- Tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan.
- Petugas administrasi/rekam medis sesuai tugasnya.
6. INDIKASI
SOP digunakan pada pasien yang datang dengan keluhan:
- perdarahan dari hidung;
- mimisan;
- darah keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung;
- darah mengalir ke tenggorokan yang diduga berasal dari hidung.
7. ALAT DAN BAHAN
- Sarung tangan pemeriksaan.
- Masker.
- Tisu/kasa bersih.
- Lampu pemeriksaan.
- Spekulum hidung bila tersedia dan sesuai kebutuhan.
- Tensimeter.
- Termometer bila diperlukan.
- Pulse oximeter bila tersedia.
- Peralatan kegawatdaruratan sesuai standar fasilitas.
- Cairan infus dan perlengkapan akses intravena bila terdapat indikasi dan sesuai kewenangan.
- Obat atau bahan hemostatik/topikal sesuai kebijakan fasilitas dan indikasi klinis.
- Formulir rujukan bila diperlukan.
8. PERSIAPAN PASIEN
- Lakukan identifikasi pasien menggunakan minimal dua identitas.
- Berikan penjelasan singkat mengenai pemeriksaan dan tindakan.
- Pastikan privasi pasien.
- Posisikan pasien dengan aman dan nyaman.
- Usahakan pasien tetap tenang.
- Nilai kondisi umum dan tanda kegawatan.
Catatan: Pasien tidak dianjurkan menengadahkan kepala karena darah dapat mengalir ke belakang tenggorokan dan menyulitkan penilaian jumlah perdarahan.
9. ANAMNESIS
Dokter melakukan anamnesis secara cepat dan terarah.
A. Riwayat Perdarahan
Tanyakan:
- Kapan perdarahan mulai terjadi?
- Apakah perdarahan masih berlangsung?
- Apakah perdarahan terjadi dari satu atau kedua lubang hidung?
- Apakah darah keluar ke arah tenggorokan?
- Apakah pasien pernah mengalami mimisan sebelumnya?
- Apakah perdarahan sulit berhenti?
B. Faktor Pencetus
Tanyakan kemungkinan:
- trauma pada hidung;
- kebiasaan mengorek hidung;
- menghembuskan hidung terlalu kuat;
- udara kering;
- iritasi mukosa hidung;
- infeksi saluran pernapasan;
- penggunaan obat atau bahan tertentu pada hidung.
C. Riwayat Penyakit
Tanyakan:
- hipertensi;
- gangguan pembekuan darah;
- penyakit hati;
- penyakit darah;
- penyakit kronis lainnya;
- riwayat operasi atau tindakan pada hidung.
D. Riwayat Obat
Kaji penggunaan:
- obat yang memengaruhi pembekuan darah;
- obat antiplatelet;
- antikoagulan;
- obat atau semprotan hidung;
- obat lain yang relevan.
10. PEMERIKSAAN FISIK
A. Penilaian Kondisi Umum
Nilai:
- Kesadaran.
- Jalan napas.
- Pernapasan.
- Sirkulasi.
- Tanda vital.
- Tanda hipoperfusi atau kehilangan darah.
- Kondisi umum pasien.
B. Pemeriksaan Hidung
Perhatikan:
- lubang hidung yang mengalami perdarahan;
- adanya darah aktif;
- lokasi perdarahan apabila dapat diidentifikasi;
- adanya luka atau trauma;
- mukosa hidung;
- krusta atau kekeringan;
- benda asing;
- tanda infeksi;
- kelainan struktur hidung.
Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati agar tidak memperberat perdarahan.
11. PENILAIAN DERAJAT KEGAWATAN
A. Epistaksis Ringan
Ditandai antara lain dengan:
- perdarahan relatif sedikit;
- kondisi umum stabil;
- tidak terdapat tanda gangguan jalan napas;
- tanda vital relatif stabil.
B. Epistaksis yang Memerlukan Penanganan Lebih Lanjut
Pertimbangkan apabila:
- perdarahan berlangsung terus;
- perdarahan berulang;
- sumber perdarahan sulit ditemukan;
- terdapat penyakit penyerta;
- pasien menggunakan obat yang memengaruhi pembekuan darah;
- terdapat tanda kehilangan darah.
C. Kondisi Gawat Darurat
Waspadai apabila terdapat:
- perdarahan banyak atau tidak terkendali;
- gangguan jalan napas;
- penurunan kesadaran;
- tanda syok atau hipoperfusi;
- kondisi hemodinamik tidak stabil;
- dugaan perdarahan posterior;
- trauma wajah/kepala yang signifikan;
- kondisi klinis lain yang membutuhkan fasilitas lebih lengkap.
Pasien dengan kondisi tersebut memerlukan penanganan kegawatdaruratan dan rujukan segera sesuai sistem rujukan yang berlaku.
12. PROSEDUR PENANGANAN
A. Penanganan Awal
- Pastikan pasien berada pada posisi aman.
- Tenangkan pasien.
- Anjurkan pasien duduk tegak dengan tubuh sedikit condong ke depan.
- Anjurkan pasien bernapas melalui mulut.
- Darah yang masuk ke mulut dapat dikeluarkan dan tidak perlu ditelan.
- Lakukan tekanan langsung pada bagian lunak hidung secara kontinu selama beberapa menit.
- Evaluasi apakah perdarahan berhenti.
- Bila masih terjadi perdarahan, tindakan dapat diulang sesuai penilaian klinis.
13. PEMERIKSAAN SETELAH PERDARAHAN TERKENDALI
Setelah kondisi pasien stabil dan perdarahan terkendali:
- Bersihkan darah yang mengganggu pemeriksaan secara hati-hati.
- Lakukan pemeriksaan rongga hidung.
- Identifikasi kemungkinan sumber perdarahan.
- Evaluasi adanya trauma, iritasi, benda asing, atau kelainan mukosa.
- Evaluasi faktor risiko perdarahan berulang.
- Nilai kebutuhan pemeriksaan penunjang berdasarkan kondisi klinis.
14. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan selanjutnya ditentukan berdasarkan kondisi pasien dan sumber perdarahan.
Dapat meliputi:
- Perawatan lokal pada mukosa hidung.
- Terapi topikal sesuai indikasi.
- Tindakan hemostasis sesuai kompetensi tenaga kesehatan.
- Tamponade hidung apabila diperlukan dan tersedia sesuai kompetensi serta fasilitas.
- Terapi terhadap penyebab atau faktor pencetus.
- Penyesuaian terapi pasien yang menggunakan obat yang memengaruhi pembekuan darah dilakukan berdasarkan evaluasi dokter dan tidak dihentikan secara sembarangan.
- Terapi penyakit penyerta sesuai indikasi.
Apabila tindakan awal tidak berhasil mengendalikan perdarahan atau kondisi pasien tidak stabil, lakukan stabilisasi dan rujuk.
15. KRITERIA PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang tidak selalu diperlukan pada setiap kasus.
Pertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut apabila:
- Perdarahan berat.
- Perdarahan berulang atau tidak dapat dijelaskan.
- Terdapat kecurigaan gangguan pembekuan darah.
- Pasien menggunakan antikoagulan atau obat yang memengaruhi hemostasis.
- Terdapat tanda anemia atau kehilangan darah bermakna.
- Ditemukan kondisi sistemik yang membutuhkan evaluasi.
Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis.
16. EDUKASI PASIEN
Setelah perdarahan terkendali, pasien diberikan edukasi:
- Hindari mengorek hidung.
- Hindari menghembuskan hidung terlalu kuat dalam waktu dekat setelah perdarahan.
- Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan trauma pada hidung.
- Jaga kelembapan mukosa hidung sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Gunakan obat hidung sesuai petunjuk.
- Jangan memasukkan benda atau bahan yang tidak dianjurkan ke dalam hidung.
- Bila perdarahan kembali, lakukan langkah pertolongan awal yang telah diajarkan.
- Segera mencari pertolongan medis apabila perdarahan banyak, berlangsung terus, menyebabkan lemas/pusing, atau disertai gangguan napas maupun penurunan kesadaran.
17. KRITERIA RUJUKAN
Pasien dirujuk apabila:
- Perdarahan tidak terkendali dengan penanganan awal.
- Perdarahan berulang atau sulit ditangani.
- Diduga terjadi epistaksis posterior.
- Kondisi hemodinamik tidak stabil.
- Terdapat tanda kehilangan darah bermakna.
- Terdapat gangguan pembekuan darah.
- Pasien menggunakan obat yang meningkatkan risiko perdarahan dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.
- Terdapat trauma hidung/wajah yang signifikan.
- Terdapat kelainan struktural hidung yang membutuhkan evaluasi spesialis.
- Diperlukan tindakan THT yang tidak tersedia di fasilitas.
- Diagnosis tidak jelas.
- Kondisi pasien memerlukan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.
18. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
- Perdarahan berulang.
- Kehilangan darah.
- Anemia pada perdarahan yang signifikan atau berulang.
- Aspirasi darah.
- Gangguan jalan napas pada perdarahan berat.
- Infeksi terkait tindakan tertentu.
- Cedera mukosa akibat manipulasi berlebihan.
19. MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring meliputi:
- Jumlah atau kecenderungan perdarahan.
- Apakah perdarahan telah berhenti.
- Tanda vital.
- Kondisi umum pasien.
- Kesadaran.
- Jalan napas dan pernapasan.
- Tanda kehilangan darah.
- Respons terhadap tindakan.
- Kekambuhan setelah terapi.
- Kepatuhan pasien terhadap edukasi.
20. DOKUMENTASI
Catat dalam rekam medis:
- Identitas pasien.
- Waktu mulai dan kondisi perdarahan.
- Hasil anamnesis.
- Riwayat penyakit dan obat.
- Hasil pemeriksaan fisik.
- Tanda vital.
- Sumber perdarahan apabila dapat diidentifikasi.
- Tindakan yang dilakukan.
- Respons pasien terhadap tindakan.
- Obat yang diberikan bila ada.
- Edukasi.
- Rencana kontrol.
- Keputusan rujukan bila diperlukan.
21. INDIKATOR MUTU
| No. | Indikator | Target |
|---|---|---|
| 1 | Identifikasi pasien dilakukan dengan benar | 100% |
| 2 | Penilaian kondisi awal dan tanda vital terdokumentasi | ≥95% |
| 3 | Anamnesis faktor risiko perdarahan terdokumentasi | ≥95% |
| 4 | Penanganan epistaksis sesuai SOP | ≥95% |
| 5 | Edukasi pasien diberikan dan terdokumentasi | ≥95% |
| 6 | Kriteria rujukan diterapkan sesuai indikasi | 100% |
| 7 | Rekam medis lengkap | ≥95% |
Target dapat disesuaikan dengan indikator mutu internal fasilitas kesehatan.
22. UNIT TERKAIT
- Ruang pelayanan umum.
- Ruang tindakan.
- Unit gawat darurat, bila tersedia.
- Farmasi.
- Laboratorium.
- Rekam medis.
- Fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.
- Dokter spesialis THT sesuai kebutuhan rujukan.
23. DOKUMEN TERKAIT
- Rekam medis pasien.
- Formulir rujukan.
- Resep/lembar pemberian obat.
- SOP pelayanan klinis.
- SOP kegawatdaruratan.
- SOP rujukan pasien.
- SOP pemberian obat.
- SOP pencegahan dan pengendalian infeksi.
- Formularium fasilitas kesehatan.
24. ALUR SINGKAT SOP
Pasien datang dengan perdarahan hidung → Identifikasi pasien → Penilaian kondisi umum dan kegawatan → Posisi aman dan pertolongan awal → Tekanan langsung pada hidung → Evaluasi perdarahan → Pemeriksaan hidung → Identifikasi penyebab/faktor risiko → Penatalaksanaan sesuai kondisi → Monitoring → Edukasi → Kontrol atau rujuk → Dokumentasi
ALUR KEGAWATDARURATAN
Perdarahan berat/tidak terkendali atau kondisi tidak stabil → Stabilisasi → Evaluasi jalan napas, pernapasan, sirkulasi → Tindakan hemostasis sesuai kompetensi → Persiapan rujukan → Rujuk ke fasilitas yang mampu menangani → Dokumentasi
25. CATATAN KESELAMATAN
Penanganan epistaksis harus mengutamakan stabilisasi pasien, pengendalian perdarahan, dan penilaian penyebab.
Pada perdarahan berat, tidak terkendali, atau disertai gangguan kondisi umum, jangan menunda rujukan hanya untuk menyelesaikan pemeriksaan diagnostik yang tidak esensial.
Tindakan seperti kauterisasi atau pemasangan tampon hidung dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan sesuai fasilitas, indikasi, serta kebijakan klinis yang berlaku.
26. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN
| No. | Tanggal | Uraian Perubahan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|---|
| 1 | ............... | Dokumen awal | ............... |
| 2 | ............... | ............... | ............... |
| 3 | ............... | ............... | ............... |
27. META DESCRIPTION SEO
SOP Penanganan Perdarahan Hidung atau Epistaksis lengkap meliputi pengertian, anamnesis, pemeriksaan, penanganan awal, terapi, monitoring, edukasi, kriteria rujukan, dokumentasi, dan indikator mutu Puskesmas/FKTP.
Judul SEO
SOP Penanganan Perdarahan Hidung (Epistaksis) Lengkap untuk Puskesmas
Slug
sop-penanganan-perdarahan-hidung-epistaksis
Keyword Utama
SOP Penanganan Perdarahan Hidung
Keyword Pendukung
SOP Epistaksis, SOP Mimisan, penanganan epistaksis, terapi perdarahan hidung, diagnosis epistaksis, pertolongan mimisan, SOP Puskesmas, SOP pelayanan klinis, penyakit THT Puskesmas.

No comments:
Post a Comment