SOP OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)
Kata Kunci SEO Utama: SOP Otitis Media Supuratif Kronik
Kata Kunci Turunan: SOP OMSK, SOP otitis media kronis, SOP telinga berair kronis, tata laksana OMSK, pengobatan OMSK, SOP penyakit THT Puskesmas, otitis media supuratif kronik Puskesmas.
1. Pengertian
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah peradangan kronis pada telinga tengah yang ditandai dengan adanya perforasi membran timpani dan keluarnya cairan dari telinga secara menetap atau berulang.
OMSK dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan, pada kondisi tertentu, komplikasi yang lebih serius sehingga memerlukan evaluasi dan tindak lanjut yang tepat.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang tepat, aman, dan terarah kepada pasien dengan dugaan atau diagnosis OMSK.
Tujuan Khusus
- Mengenali tanda dan gejala OMSK.
- Melakukan pemeriksaan telinga secara sistematis.
- Mengendalikan sekret dari telinga.
- Mengurangi risiko infeksi dan komplikasi.
- Memantau fungsi pendengaran.
- Menentukan kebutuhan konsultasi atau rujukan THT.
3. Petugas
- Dokter.
- Perawat sesuai kompetensi.
- Tenaga kesehatan lain sesuai kewenangan.
4. Indikasi
SOP ini diterapkan pada pasien dengan keluhan atau temuan klinis yang mengarah pada OMSK, seperti:
- Telinga berair/keluar sekret secara kronis atau berulang.
- Riwayat perforasi membran timpani.
- Penurunan pendengaran.
- Riwayat infeksi telinga tengah berulang.
5. Alat dan Bahan
- Otoskop.
- Sumber penerangan yang memadai.
- Spekulum telinga sesuai ukuran.
- Sarung tangan.
- Kasa steril.
- Kapas/cotton applicator sesuai kebutuhan pemeriksaan.
- Alat pembersih sekret telinga sesuai kompetensi dan fasilitas.
- Obat tetes telinga sesuai indikasi.
- Antibiotik sistemik bila terdapat indikasi klinis.
- Rekam medis.
6. Persiapan Pasien
- Identifikasi pasien.
- Jelaskan tujuan pemeriksaan.
- Jaga privasi dan kenyamanan pasien.
- Tanyakan keluhan utama.
- Tanyakan riwayat penyakit telinga sebelumnya.
- Tanyakan riwayat pengobatan, termasuk penggunaan obat tetes telinga atau antibiotik.
- Tanyakan adanya alergi obat.
- Nilai adanya gejala yang mengarah pada komplikasi.
7. Anamnesis
Tanyakan:
- Sejak kapan telinga mengeluarkan cairan?
- Apakah sekret keluar terus-menerus atau hilang timbul?
- Bagaimana warna dan karakter sekret?
- Apakah terdapat bau?
- Apakah terdapat nyeri telinga?
- Apakah pendengaran menurun?
- Apakah terdapat telinga berdenging?
- Apakah terdapat pusing/vertigo?
- Apakah terdapat demam?
- Apakah pernah menjalani operasi telinga?
- Apakah pasien pernah mengalami infeksi telinga berulang?
- Obat apa yang sudah digunakan?
8. Pemeriksaan Fisik
Lakukan:
- Pemeriksaan keadaan umum.
- Pemeriksaan daun telinga dan jaringan sekitar.
- Pemeriksaan liang telinga.
- Pemeriksaan dengan otoskop bila memungkinkan.
- Evaluasi membran timpani dan adanya perforasi.
- Nilai karakter sekret.
- Evaluasi adanya jaringan granulasi, polip, atau massa.
- Nilai pendengaran secara klinis.
- Periksa telinga sebelahnya.
9. Tanda Bahaya
Perhatikan adanya:
- Nyeri berat atau nyeri yang semakin meningkat.
- Demam.
- Pembengkakan atau kemerahan di belakang telinga.
- Pusing berat/vertigo.
- Gangguan keseimbangan.
- Penurunan pendengaran yang signifikan atau mendadak.
- Kelemahan otot wajah.
- Sakit kepala berat.
- Muntah atau kondisi umum memburuk.
- Sekret berbau dengan dugaan kolesteatoma.
- Polip atau jaringan abnormal di liang telinga/telinga tengah.
Bila ditemukan tanda bahaya, pasien perlu mendapatkan evaluasi segera dan pertimbangan rujukan ke dokter spesialis THT.
10. Diagnosis
Diagnosis OMSK terutama berdasarkan:
- Riwayat otore/sekret telinga kronis atau berulang.
- Temuan perforasi membran timpani.
- Pemeriksaan liang telinga dan telinga tengah.
- Penilaian klinis secara keseluruhan.
Diagnosis banding dapat meliputi:
- Otitis eksterna.
- Otitis media akut dengan perforasi.
- Otitis media dengan efusi.
- Kolesteatoma.
- Kondisi THT lainnya.
11. Tata Laksana
A. Edukasi Menjaga Telinga Tetap Kering
Pasien dianjurkan:
- Menghindari masuknya air ke telinga.
- Tidak berenang sementara bila telinga masih berair.
- Tidak memasukkan benda atau cotton bud ke dalam liang telinga.
- Tidak menggunakan obat tetes telinga tanpa anjuran tenaga kesehatan.
B. Pembersihan Sekret
Pembersihan sekret dilakukan sesuai kompetensi petugas dan kondisi telinga.
Tujuannya:
- Mengurangi sekret.
- Memudahkan pemeriksaan.
- Membantu efektivitas terapi topikal bila diindikasikan.
Teknik pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah trauma pada liang telinga dan struktur telinga tengah.
C. Terapi Topikal
Pada OMSK dengan otore, antibiotik topikal tertentu dapat menjadi pilihan terapi, berdasarkan hasil pemeriksaan dan kebijakan klinis.
Pemilihan obat harus mempertimbangkan:
- Kondisi membran timpani.
- Risiko ototoksisitas.
- Riwayat alergi.
- Jenis sekret.
- Pedoman dan formularium fasilitas.
Tidak semua obat tetes telinga aman digunakan pada telinga dengan perforasi membran timpani.
D. Antibiotik Sistemik
Antibiotik oral tidak diberikan secara rutin pada seluruh kasus OMSK.
Dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter, terutama apabila terdapat infeksi yang lebih berat atau kondisi sistemik.
E. Analgesik
Bila terdapat nyeri, obat pereda nyeri dapat diberikan sesuai indikasi, usia, kondisi pasien, dan formularium yang berlaku.
12. Edukasi Pasien
Jelaskan kepada pasien/keluarga:
- OMSK dapat berlangsung lama dan dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
- Telinga harus dijaga tetap kering.
- Jangan memasukkan cotton bud atau benda lain ke telinga.
- Jangan menggunakan obat tetes telinga secara sembarangan.
- Obat harus digunakan sesuai dosis dan durasi yang ditentukan.
- Kontrol diperlukan untuk menilai respons terapi.
- Gangguan pendengaran perlu dievaluasi bila menetap.
13. Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi meliputi:
- Berkurangnya sekret.
- Perubahan karakter sekret.
- Kondisi liang telinga.
- Kondisi membran timpani.
- Nyeri.
- Pendengaran.
- Tanda infeksi atau komplikasi.
- Respons terhadap terapi.
Bila sekret menetap atau kondisi memburuk, diagnosis dan terapi perlu dievaluasi kembali.
14. Kriteria Rujukan
Rujuk ke dokter spesialis THT apabila:
- Diagnosis tidak jelas.
- Sekret telinga menetap atau berulang.
- Dicurigai kolesteatoma.
- Terdapat polip atau jaringan abnormal.
- Gangguan pendengaran signifikan.
- Terdapat vertigo atau gangguan keseimbangan.
- Terdapat kelemahan wajah.
- Dicurigai komplikasi mastoid atau komplikasi intrakranial.
- Terapi awal tidak memberikan respons yang memadai.
- Pasien memerlukan pemeriksaan pendengaran atau tindakan operatif.
15. Komplikasi
OMSK dapat berhubungan dengan:
- Gangguan pendengaran konduktif.
- Perforasi membran timpani yang menetap.
- Kolesteatoma.
- Mastoiditis.
- Gangguan keseimbangan.
- Komplikasi saraf wajah.
- Komplikasi intrakranial yang jarang tetapi serius.
16. Dokumentasi
Catat:
- Identitas pasien.
- Keluhan dan lama otore.
- Karakter sekret.
- Riwayat infeksi telinga.
- Hasil pemeriksaan otoskopi.
- Kondisi membran timpani.
- Kondisi liang telinga.
- Hasil penilaian pendengaran.
- Diagnosis.
- Terapi yang diberikan.
- Edukasi.
- Rencana kontrol.
- Rujukan bila diperlukan.
17. Indikator Mutu
- Anamnesis dan pemeriksaan telinga dilakukan pada 100% pasien.
- Kondisi membran timpani didokumentasikan bila dapat divisualisasi.
- Riwayat alergi obat ditanyakan sebelum terapi.
- Edukasi menjaga telinga tetap kering diberikan pada 100% pasien.
- Tanda bahaya dinilai dan didokumentasikan.
- Pasien dengan indikasi rujukan mendapatkan tindak lanjut sesuai prosedur.
18. Alur Singkat SOP
Identifikasi pasien → Anamnesis → Pemeriksaan telinga → Otoskopi → Identifikasi perforasi/sekret → Evaluasi tanda bahaya → Diagnosis → Pembersihan sekret bila diperlukan → Terapi sesuai indikasi → Edukasi → Monitoring → Kontrol → Rujuk bila diperlukan.
Meta Description SEO
SOP Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) lengkap dengan pengertian, gejala telinga berair kronis, pemeriksaan otoskopi, diagnosis, tata laksana, pembersihan sekret, terapi topikal, edukasi menjaga telinga tetap kering, komplikasi, monitoring, dan kriteria rujukan ke dokter THT.

No comments:
Post a Comment