MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, June 25, 2026

SOP Ekstraksi Serumen (Pembersihan Serumen Telinga) Terbaru 2026

 

SOP Ekstraksi Serumen (Pembersihan Serumen Telinga) Terbaru 2026

Kata Kunci SEO Utama: SOP Ekstraksi Serumen
Kata Kunci Turunan: SOP pembersihan serumen, SOP serumen prop, irigasi telinga, pengeluaran kotoran telinga, tindakan ekstraksi serumen, SOP THT Puskesmas, tata laksana serumen obturans, ear wax removal.


SOP EKSTRAKSI SERUMEN

1. Pengertian

Ekstraksi serumen adalah tindakan medis untuk mengeluarkan serumen (kotoran telinga) yang menumpuk dan menyebabkan sumbatan pada liang telinga (serumen obturans), sehingga menimbulkan keluhan seperti gangguan pendengaran, rasa penuh pada telinga, tinnitus, gatal, atau nyeri telinga.

Tindakan dilakukan dengan metode mekanik, irigasi, atau suction sesuai indikasi dan kondisi pasien.


2. Tujuan

Tujuan Umum

Memberikan pelayanan yang aman, efektif, dan sesuai standar dalam penanganan serumen yang menyebabkan gangguan klinis.

Tujuan Khusus

  • Menghilangkan sumbatan serumen.
  • Memperbaiki fungsi pendengaran.
  • Mengurangi keluhan pasien.
  • Mencegah komplikasi akibat serumen obturans.
  • Menjaga kesehatan liang telinga dan membran timpani.

3. Kebijakan

Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:

  • Pedoman Pelayanan Telinga Hidung Tenggorok (THT).
  • Standar Keselamatan Pasien.
  • Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
  • Standar pelayanan kesehatan primer.

4. Petugas Pelaksana

  • Dokter
  • Dokter Spesialis THT
  • Perawat terlatih

5. Indikasi

Ekstraksi serumen dilakukan pada:

  • Serumen obturans.
  • Penurunan pendengaran akibat serumen.
  • Telinga terasa penuh atau tersumbat.
  • Tinnitus akibat serumen.
  • Gangguan pemeriksaan membran timpani karena serumen.
  • Persiapan pemeriksaan atau tindakan THT.

6. Kontraindikasi

Kontraindikasi Irigasi Telinga

  • Perforasi membran timpani.
  • Riwayat operasi telinga.
  • Otitis eksterna akut berat.
  • Otitis media aktif.
  • Benda asing di telinga.
  • Vertigo berat.

Pada kondisi tersebut, tindakan irigasi tidak dianjurkan dan perlu pertimbangan metode lain atau rujukan.


7. Alat dan Bahan

Alat

  • Otoskop
  • Lampu kepala (headlamp)
  • Spekulum telinga
  • Pinset telinga
  • Kuret serumen
  • Spuit irigasi telinga
  • Bengkok atau wadah penampung

Bahan

  • Air hangat steril atau NaCl 0,9%
  • Sarung tangan bersih
  • Kapas
  • Kasa steril
  • Pelunak serumen (bila diperlukan)

8. Prosedur Pelaksanaan

A. Persiapan Pasien

  1. Verifikasi identitas pasien.
  2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
  3. Memperoleh persetujuan tindakan.
  4. Menanyakan riwayat penyakit telinga.
  5. Menilai adanya kontraindikasi.

B. Pemeriksaan Awal

  1. Mencuci tangan sesuai prosedur.
  2. Menggunakan sarung tangan.
  3. Melakukan otoskopi.
  4. Menilai:
    • Lokasi serumen.
    • Konsistensi serumen.
    • Derajat sumbatan.
    • Kondisi liang telinga.
    • Kondisi membran timpani bila terlihat.

C. Pelunakan Serumen (Bila Diperlukan)

Apabila serumen keras:

  1. Berikan pelunak serumen sesuai indikasi.
  2. Tunggu sesuai waktu yang dianjurkan.
  3. Lakukan evaluasi ulang.

D. Tindakan Ekstraksi Serumen

Metode Kuret

Dilakukan apabila:

  • Serumen terlihat jelas.
  • Konsistensi cukup padat.
  • Dapat dijangkau dengan aman.

Langkah:

  1. Visualisasi liang telinga dengan otoskop atau lampu kepala.
  2. Menggunakan kuret secara hati-hati.
  3. Mengeluarkan serumen sedikit demi sedikit.
  4. Menghindari trauma pada liang telinga.

Metode Irigasi

Dilakukan apabila:

  • Tidak terdapat kontraindikasi.
  • Membran timpani utuh.
  • Serumen lunak atau telah dilunakkan.

Langkah:

  1. Menyiapkan cairan hangat.
  2. Memposisikan pasien dengan nyaman.
  3. Mengarahkan aliran cairan ke dinding posterior liang telinga.
  4. Membiarkan serumen keluar bersama cairan.
  5. Mengulangi bila diperlukan.

E. Pemeriksaan Akhir

  1. Melakukan otoskopi ulang.
  2. Memastikan liang telinga bersih.
  3. Menilai kondisi membran timpani.
  4. Menilai adanya trauma atau perdarahan.

9. Edukasi Pasien

Memberikan edukasi:

  • Tidak membersihkan telinga menggunakan benda tajam.
  • Menghindari penggunaan cotton bud terlalu dalam.
  • Menjaga kebersihan telinga secara benar.
  • Kontrol ulang bila keluhan muncul kembali.

10. Monitoring dan Evaluasi

Dilakukan pemantauan terhadap:

  • Perbaikan pendengaran.
  • Keluhan nyeri.
  • Keluhan tinnitus.
  • Vertigo.
  • Trauma liang telinga.
  • Perdarahan pasca tindakan.

11. Kriteria Rujukan

Pasien dirujuk ke dokter spesialis THT apabila:

  • Serumen tidak dapat diekstraksi.
  • Terdapat perforasi membran timpani.
  • Riwayat operasi telinga.
  • Terjadi komplikasi selama tindakan.
  • Nyeri hebat saat tindakan.
  • Terdapat gangguan pendengaran yang menetap.
  • Dicurigai adanya penyakit telinga lain.

12. Komplikasi

  • Trauma liang telinga.
  • Perdarahan.
  • Otitis eksterna.
  • Perforasi membran timpani.
  • Nyeri telinga.
  • Vertigo.
  • Penurunan pendengaran sementara.

13. Dokumentasi

Petugas wajib mencatat:

  • Identitas pasien.
  • Keluhan utama.
  • Hasil pemeriksaan otoskopi.
  • Lokasi dan jenis serumen.
  • Metode ekstraksi yang digunakan.
  • Hasil tindakan.
  • Komplikasi yang terjadi.
  • Edukasi yang diberikan.
  • Jadwal kontrol bila diperlukan.

Indikator Mutu Pelayanan

  1. Keberhasilan ekstraksi serumen ≥ 95%.
  2. Kelengkapan dokumentasi rekam medis ≥ 100%.
  3. Kepatuhan terhadap SOP ≥ 95%.
  4. Kejadian komplikasi tindakan < 5%.
  5. Kepuasan pasien ≥ 90%.

Referensi

  • American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Pedoman manajemen serumen impaksi.
  • National Institute for Health and Care Excellence Pedoman pelayanan kesehatan telinga.
  • World Health Organization Rekomendasi kesehatan telinga dan pendengaran.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pedoman pelayanan THT di fasilitas kesehatan primer.

Meta Description SEO:
SOP Ekstraksi Serumen terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, indikasi, kontraindikasi, metode kuret dan irigasi telinga, edukasi pasien, komplikasi, indikator mutu, serta kriteria rujukan sesuai standar pelayanan THT.

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER