SOP Angina Pectoris Stabil Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Angina Pectoris Stabil
Kata Kunci Turunan: SOP angina stabil, tata laksana angina pektoris stabil, penyakit jantung koroner, nyeri dada stabil, pedoman angina stabil terbaru, standar pelayanan angina pektoris, diagnosis angina stabil, penanganan penyakit jantung koroner.
SOP ANGIA PECTORIS STABIL
1. Pengertian
Angina pectoris stabil adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen miokard yang umumnya dipicu oleh aktivitas fisik, stres emosional, atau paparan dingin, serta membaik dengan istirahat atau pemberian nitrat.
Kondisi ini merupakan manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner kronis akibat penyempitan arteri koroner oleh aterosklerosis.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan efektif pada pasien dengan angina pectoris stabil.
Tujuan Khusus
- Menegakkan diagnosis secara dini.
- Mengurangi gejala nyeri dada.
- Mencegah komplikasi kardiovaskular.
- Mengendalikan faktor risiko penyakit jantung koroner.
- Menentukan kebutuhan rujukan secara tepat.
3. Kebijakan
Pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Penyakit Jantung Koroner.
- Pedoman Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
- Pedoman European Society of Cardiology (ESC) Chronic Coronary Syndromes.
- Pedoman American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC).
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Perawat
- Petugas Laboratorium
- Petugas Rekam Medis
5. Alat dan Bahan
- Tensimeter
- Stetoskop
- Pulse oximeter
- Elektrokardiografi (EKG)
- Formulir rekam medis
- Obat antiangina
- Oksigen (jika diperlukan)
6. Prosedur Pelaksanaan
A. Identifikasi Pasien
Melakukan anamnesis:
- Nyeri dada saat aktivitas.
- Nyeri berkurang saat istirahat.
- Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, leher, rahang, atau punggung.
- Sesak napas saat aktivitas.
- Riwayat hipertensi.
- Riwayat diabetes melitus.
- Riwayat dislipidemia.
- Riwayat merokok.
- Riwayat penyakit jantung koroner.
B. Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan:
- Kesadaran umum.
- Tekanan darah.
- Frekuensi nadi.
- Frekuensi napas.
- Saturasi oksigen.
- Berat badan dan IMT.
- Auskultasi jantung dan paru.
C. Pemeriksaan Penunjang
Elektrokardiografi (EKG)
Dapat ditemukan:
- Normal.
- Gelombang Q patologis lama.
- Depresi segmen ST saat serangan.
- Inversi gelombang T.
Pemeriksaan Laboratorium
- Gula darah.
- Profil lipid.
- Fungsi ginjal.
- Hemoglobin.
Pemeriksaan Lanjutan (bila tersedia)
- Treadmill test.
- Echocardiography.
- CT Coronary Angiography.
- Koroner angiografi.
D. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
-
Nyeri dada khas angina:
- Rasa tertekan atau tertindih.
- Dipicu aktivitas atau stres.
- Hilang dengan istirahat atau nitrat.
- Faktor risiko penyakit jantung koroner.
- Hasil pemeriksaan EKG dan penunjang lainnya.
Klasifikasi Angina Berdasarkan CCS (Canadian Cardiovascular Society)
Kelas I
Aktivitas biasa tidak menyebabkan angina.
Kelas II
Aktivitas berat menyebabkan angina.
Kelas III
Aktivitas ringan memicu angina.
Kelas IV
Angina saat istirahat atau aktivitas sangat ringan.
Tata Laksana
A. Edukasi
Memberikan edukasi mengenai:
- Penyakit jantung koroner.
- Faktor risiko.
- Kepatuhan pengobatan.
- Diet sehat jantung.
- Aktivitas fisik sesuai kondisi.
- Berhenti merokok.
B. Terapi Non Farmakologis
Modifikasi Gaya Hidup
- Berhenti merokok.
- Diet rendah lemak jenuh.
- Mengurangi konsumsi garam.
- Menjaga berat badan ideal.
- Aktivitas fisik teratur.
- Mengendalikan stres.
C. Terapi Farmakologis
Serangan Nyeri Dada
Nitrogliserin sublingual sesuai indikasi klinis.
Pencegahan Jangka Panjang
Dapat diberikan sesuai evaluasi dokter:
- Antiplatelet (misalnya aspirin).
- Statin.
- Beta blocker.
- Calcium channel blocker.
- ACE inhibitor atau ARB bila diperlukan.
Pemilihan terapi disesuaikan dengan kondisi pasien, komorbiditas, dan pedoman klinis terkini.
Monitoring dan Evaluasi
Dilakukan pemantauan:
- Frekuensi serangan angina.
- Tekanan darah.
- Denyut nadi.
- Kepatuhan pengobatan.
- Profil lipid.
- Gula darah.
- Toleransi aktivitas.
Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut apabila:
- Diagnosis belum pasti.
- Angina memburuk.
- Angina tidak membaik dengan terapi.
- Diduga sindrom koroner akut.
- Terdapat gagal jantung.
- Terdapat aritmia.
- Membutuhkan pemeriksaan angiografi koroner.
- Membutuhkan tindakan revaskularisasi.
Komplikasi
Apabila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi:
- Infark miokard akut.
- Gagal jantung.
- Aritmia.
- Syok kardiogenik.
- Kematian mendadak.
Indikator Mutu Pelayanan
- Ketepatan diagnosis angina pectoris stabil ≥ 95%.
- Kepatuhan pemeriksaan EKG ≥ 90%.
- Kepatuhan terapi sesuai pedoman ≥ 90%.
- Edukasi faktor risiko dilakukan pada 100% pasien.
- Ketepatan rujukan kasus risiko tinggi ≥ 100%.
Referensi Terbaru
- European Society of Cardiology Guidelines for Chronic Coronary Syndromes.
- American Heart Association Chronic Coronary Disease Guideline.
- American College of Cardiology Guideline for Chronic Coronary Disease.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Pedoman Penyakit Jantung Koroner.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Penyakit Jantung Koroner.
Meta Description SEO:
SOP Angina Pectoris Stabil terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, diagnosis, klasifikasi CCS, tata laksana, terapi, monitoring, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai pedoman kardiologi terkini.

No comments:
Post a Comment