|
70 Dinkes Kab Defgh |
VAGINITIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Vaginitis adalah
peradangan pada vagina yang ditandai dengan adanya pruritus, keputihan,
dispareunia, dan disuria . Bagi setiap wanita selain masalah keputihan,
adapun masalah sering dihadapi adalah vaginitis dan vulvitis. Vulvitis adalah
suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita),sedangkan
vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Gejala yang
paling sering ditemukan
adalah keluarnya cairan
abnormal dari vagina, dikatakan
abnormal jika jumlahnya sangat banyak serta baunya menyengat atau disertai
gatal-gatal dan nyeri. Penyebab vaginitis: 1. Vaginosis
bakterialis (bakteri Gardnerella Vaginalis adalah bakteri anaerob yang
bertanggungjawab atas terjadinya infeksi vagina yang non-spesifik, insidennya
terjadi sekitar 23,6%). 2. Trikomonas
(kasusnya berkisar antara 5,1-20%). 3. Kandida(vaginal
kandidiasis, merupakan penyebab tersering peradangan pada vagina yang terjadi
pada wanita hamil, insidennya berkisar antara 15-42%). |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan vaginitis |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
E. Prosedur |
Hasil
Anamnesis(Subjective) Keluhan Bau adalah
keluhan yang paling sering dijumpai. Gejala klinis
: 1. Bau
2. Gatal
(pruritus) 3. Keputihan
4. Dispareunia
5. Disuria
Faktor Risiko 1. Pemakai
AKDR 2. Penggunaan
handuk bersamaan 3. Imunosupresi
4. Diabetes
melitus 5. Perubahan
hormonal (misal : kehamilan) 6. Penggunaan
terapi antibiotik spektrum luas 7. Obesitas.
Hasil
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan
Fisik Pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya iritasi,eritema atau edema pada
vulva dan vagina. Mungkin serviks juga dapat tampak eritematous. Pemeriksaan
Penunjang 1. Pemeriksaan
mikroskopik cairan atau sekret vagina. 2. Pemeriksaan
pH cairan vagina. 3. Pemeriksaan uji whiff: Jika positif berarti mengeluarkan
mengeluarkan bau seperti anyir (amis) pada waktu ditambahkan larutan KOH. Penegakan Diagnostik(Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang. Tabel. Kriteria Diagnostik Vaginitis
Vaginitis harus dicari penyebabnya, dengan menilai perbedaan tanda dan
gejala dari masing-masing penyebab, dapat pula dengan menilai secara
mikroskopik cairan vagina. Diagnosis
Banding Vaginosis
bakterialis, Vaginosis trikomonas, Vulvovaginitis kandida Komplikasi : -
Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
1. Menjaga
kebersihan diri terutama daerah vagina 2. Hindari
pemakaian handuk secara bersamaan 3. Hindari pemakaian sabun untuk membersihkan daerah vagina yang dapat
menggeser jumlah flora normal dan dapat merubah kondisi pH daerah kewanitaan
tersebut. 4. Jaga berat badan ideal 5. Farmakologis: a. Tatalaksana vaginosis bakterialis ·
Metronidazol 500 mg peroral 2 x
sehari selama 7 hari ·
Metronidazol pervagina 2 x sehari
selama 5 hari ·
Krim klindamisin 2% pervagina 1 x
sehari selama 7 hari b. Tatalaksana vaginosis trikomonas ·
Metronidazol 2 g peroral (dosis
tunggal) ·
Pasangan seks pasien sebaiknya juga
diobati c. Tatalaksana vulvovaginitis kandida ·
Flukonazol 150 mg peroral (dosis
tunggal) Konseling dan Edukasi Memberikan informasi kepada pasien, dan (pasangan seks) suami, mengenai
faktor risiko dan penyebab dari penyakit vaginitis ini sehingga pasien dan
suami dapat menghindari faktor risikonya. Dan jika seorang wanita terkena
penyakit ini maka diinformasikan pula pentingnya pasangan seks (suami) untuk
dilakukan juga pemeriksaan dan terapi guna pengobatan secara keseluruhan
antara suami-istri dan mencegah terjadinya kondisi yang berulang. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum, KIA, Klinik IMS |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment