MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP PNEUMONIA ASPIRASI

 


PNEUMONIA ASPIRASI

http://dinkes.ciamiskab.go.id/wp-content/uploads/2015/11/lambangbarupkm-324x235.jpg

SOP

No. Dokumen   :

SOP/PU.VII/UKP/     /16

No. Revisi         :

Tanggal Terbit  :4 April 2016

Halaman           :1/3

Puskesmas

.

 

............

1.      Pengertian

No. ICPC-2 : R99 Respiratory disease other

No. ICD-10 : J69.0 Pneumonitis due to food and vomit

Tingkat Kemampuan 3B

Masalah Kesehatan

Pneumonia aspirasi (Aspiration pneumonia) adalah pneumonia yang disebabkan oleh terbawanya bahan yang ada diorofaring pada saat respirasi ke saluran napas bawah dan dapat menimbulkan kerusakan parenkim paru. Secara spesifik, pneumonia aspirasi didefinisikan dengan ditemukannya bukti radiografi berupa penambahan infiltrat di paru pada pasien dengan faktor risiko aspirasi orofaring.

2.      Tujuan

Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur

3.      Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas

4.      Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5.      Prosedur

Petugas Melakukan Anamnesis (Subjective)

Kejadian aspiration pneumonia biasanya tidak dapat diketahui waktu terjadinya dan paling sering pada orang tua. Keluhannya berupa :

1.    Batuk

2.    Takipnea

3.    Tanda-tanda dari pneumonia

 

Faktor Risiko:

1.    Pasien dengan disfagi neurologis.

2.    Pasien dengan irupsi dari gastroesophageal junction.

3.    Terdapat abnormalitas anatomis dari traktus aerodigestifus atas.

 

Petugas Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan fisik serupa pada pneumonia umumnya. Temuan pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas lesi di paru.

·       Inspeksi : dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas

·       Palpasi : fremitus dapat mengeras pada bagian yang sakit

·       Perkusi : redup di bagian yang sakit

·       Auskultasi : terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.

 

Pemeriksaan Penunjang

1.    Foto toraks

2.    Pemeriksaan laboratorium darah lengkap

 

Petugas Melakukan Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang.

 

Diagnosis Banding :-

Aspiration pneumonitis: -

 

Petugas Melakukan Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.    Pemberian oksigen

2.    Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai berat badan, peningkatan suhu dan derajat dehidrasi.

3.    Pemberian antibiotik tergantung pada kondisi :

3.1.

2/3

 
Pneumonia komunitas : levofloksasin (500 mg/hari) atau seftriakson (1-2 gr/hari)

3.2. Pasien dalam perawatan di rumah sakit : levofloksasin (500 mg/hari)atau piperasilin tazobaktam (3, 375 gr/6 jam) atau seftazidim (2 gr/8 jam)

3.3. Penyakit periodontal berat, dahak yang busuk atau alkoholisme : piperasilin-tazobaktam (3, 375 gr/6 jam) atau imipenem (500 mg/8 jam sampai 1 gr/6 jam) atau kombinasi dua obat : levofloksasin (500 mg/hari) atau siprofloksasin (400 mg/12 jam) atau seftriakson (1-2 gr/hari) ditambah klindamisin (600 mg/8 jam) atau metronidazol (500 mg/8jam)

 

Kriteria Rujukan

Penilaian status keparahan serupa dengan pneumonia biasa.

 

Peralatan

Tabung oksigen beserta nasal kanul atau masker

 

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam.

6.      Unit Terkait

Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi

7.      Rekaman Historis Perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment