|
|
PNEUMONIA ASPIRASI |
|
|||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/PU.VII/UKP/ /16 |
||||||||||
|
No. Revisi : |
|||||||||||
|
Tanggal Terbit :4 April 2016 |
|||||||||||
|
Halaman :1/3 |
|||||||||||
|
Puskesmas . |
|
............ |
|||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : R99 Respiratory
disease other No. ICD-10 : J69.0 Pneumonitis
due to food and vomit Tingkat Kemampuan 3B Masalah Kesehatan Pneumonia aspirasi (Aspiration
pneumonia) adalah pneumonia yang disebabkan oleh terbawanya bahan yang
ada diorofaring pada saat respirasi ke saluran napas bawah dan dapat
menimbulkan kerusakan parenkim paru. Secara spesifik, pneumonia aspirasi
didefinisikan dengan ditemukannya bukti radiografi berupa penambahan
infiltrat di paru pada pasien dengan faktor risiko aspirasi orofaring. |
||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan
Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas |
||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||
|
5.
Prosedur |
Petugas
Melakukan
Anamnesis (Subjective) Kejadian aspiration
pneumonia biasanya tidak dapat diketahui waktu terjadinya dan paling
sering pada orang tua. Keluhannya berupa : 1.
Batuk
2.
Takipnea
3.
Tanda-tanda
dari pneumonia Faktor Risiko: 1.
Pasien
dengan disfagi neurologis. 2.
Pasien
dengan irupsi dari gastroesophageal junction. 3.
Terdapat
abnormalitas anatomis dari traktus aerodigestifus atas. Petugas
Melakukan Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan fisik serupa
pada pneumonia umumnya. Temuan pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas
lesi di paru. · Inspeksi : dapat terlihat
bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas · Palpasi : fremitus dapat
mengeras pada bagian yang sakit · Perkusi : redup di bagian
yang sakit · Auskultasi : terdengar
suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah
halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi. Pemeriksaan Penunjang 1.
Foto
toraks 2.
Pemeriksaan
laboratorium darah lengkap Petugas
Melakukan Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Diagnosis Banding :- Aspiration pneumonitis: - Petugas
Melakukan Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Pemberian
oksigen 2.
Pemberian
cairan dan kalori yang cukup (bila cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai
berat badan, peningkatan suhu dan derajat dehidrasi. 3.
Pemberian
antibiotik tergantung pada kondisi : 3.1.
2/3 3.2.
Pasien
dalam perawatan di rumah sakit : levofloksasin (500 mg/hari)atau piperasilin
tazobaktam (3, 375 gr/6 jam) atau seftazidim (2 gr/8 jam) 3.3.
Penyakit
periodontal berat, dahak yang busuk atau alkoholisme : piperasilin-tazobaktam
(3, 375 gr/6 jam) atau imipenem (500 mg/8 jam sampai 1 gr/6 jam) atau
kombinasi dua obat : levofloksasin (500 mg/hari) atau siprofloksasin (400
mg/12 jam) atau seftriakson (1-2 gr/hari) ditambah klindamisin (600 mg/8 jam)
atau metronidazol (500 mg/8jam) Kriteria Rujukan Penilaian status keparahan
serupa dengan pneumonia biasa. Peralatan Tabung oksigen beserta
nasal kanul atau masker Prognosis Prognosis pada umumnya bonam.
|
||||||||||
|
6.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
||||||||||
|
7.
Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||

No comments:
Post a Comment