MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP PITIRIASIS VERSIKOLOR

 

121

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

PITIRIASIS VERSIKOLOR

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Pitiriasis versikoloratau Tinea versikolor adalah penyakit infeksi pada superfisial kulit dan berlangsung kronis yang disebabkan oleh jamur Malassezia furfur. Prevalensi penyakit ini tinggi pada daerah tropis yang bersuhu hangat dan lembab.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan Pitiriasis versikolor

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

Pasien pada umumnya datang berobat karena tampak bercak putih pada   kulitnya.   Keluhan   gatal   ringan   muncul   terutama   saat berkeringat, namun sebagian besar pasien asimptomatik.

 

Faktor Risiko

1.  Sering dijumpai pada dewasa muda (kelenjar sebasea lebih aktif bekerja).

2.  Cuaca yang panas dan lembab.

3.  Tubuh yang berkeringat.

4.  Imunodefisiensi

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

 

Tanda patognomonis

Lesi berupa makula hipopigmentasi atau berwarna-warni, berskuama halus, berbentuk bulat atau tidak beraturan dengan batas tegas atau tidak  tegas.  Skuama  biasanya  tipis  seperti  sisik  dan  kadangkala hanya dapat tampak dengan menggores kulit (finger nail sign).

 

Predileksi di bagian atas dada, lengan, leher, perut, kaki, ketiak, lipat paha,  muka  dan  kepala.  Penyakit  ini  terutama  ditemukan  pada daerah yang tertutup pakaian dan bersifat lembab.

             

Pemeriksaan Penunjang

1.  Pemeriksaan lampu Wood menampakkan pendaran (fluoresensi)

kuning keemasan pada lesi yang bersisik.

2.  Pemeriksaan  mikroskopis  sediaan  kerokan  skuama  lesi  dengan KOH. Pemeriksaan ini akan tampak campuran hifa pendek dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok (spaghetti and meatball appearance).

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

 

Diagnosis Banding

Vitiligo, Dermatitis seboroik, Pitiriasis alba, Morbus hansen, Eritrasma

 

Komplikasi

Jarang terjadi.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1.  Pasien disarankan untuk  tidak  menggunakan  pakaian  yang lembab  dan  tidak  berbagi  penggunaan  barang  pribadi  dengan orang lain.

2.  Pengobatan terhadap keluhannya dengan:

a.  Pengobatan topikal

• Suspensi  selenium  sulfida  1,8%,  dalam  bentuk  shampo yang digunakan 2-3 kali seminggu. Obat ini digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi.

• Derivat azol topikal, antara lain mikonazol dan klotrimazol.

b.  Pengobatan sistemik diberikan apabila penyakit ini terdapat

pada daerah yang luas atau jika penggunaan obat topikal tidak berhasil. Obat tersebut, yaitu:

   Ketokonazol per oral dengan dosis 1x200 mg sehari selama10 hari, atau

   Itrakonazol per oral dengan dosis 1 x 200 mg sehari selama5-7  hari  (pada  kasus  kambuhan  atau  tidak  responsif dengan terapi lainnya).

 

Konseling dan Edukasi

Edukasi pasien dan keluarga bahwa pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten, karena angka kekambuhan tinggi    50%  pasien).  Infeksi  jamur  dapat  dibunuh  dengan  cepat tetapi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan pigmentasi ke normal.  Untuk pencegahan, diusahakan agar pakaian tidak lembab dan tidak berbagi dengan orang lain untuk penggunaan barang pribadi.

 

Kriteria Rujukan

Sebagian besar kasus tidak memerlukan rujukan.

 

Peralatan

1.  Lup

2.  Peralatan laboratorium untuk pemeriksaan KOH

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam.

F. Diagram Alir

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment

Popular Posts