|
|
HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR
NON KETOTIK |
|
||||||||||||||||||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/UKP/ /16 |
|||||||||||||||||||||||||
|
No. Revisi : |
||||||||||||||||||||||||||
|
Tanggal Terbit :4 April 2016 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Halaman :1/4 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Puskesmas . |
|
. |
||||||||||||||||||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : A91 Abnormal
result invetigation NOS No. ICD-10 : R73.9 Hyperglycaemia
unspecified Tingkat Kemampuan 3B Masalah Kesehatan Hiperglikemik Hiperosmolar
Non Ketotik (HHNK) merupakan komplikasi akut pada DM tipe 2 berupa
peningkatan kadar gula darah yang sangat tinggi (>600 mg/dl-1200 mg/dl)
dan ditemukan tanda-tanda dehidrasi tanpa disertai gejala asidosis. HHNK
biasanya terjadi pada orang tua dengan DM, yang mempunyai penyakit penyerta
dengan asupan makanan yang kurang. Faktor pencetus serangan antara lain:
infeksi, ketidakpatuhan dalam pengobatan, DM tidak terdiagnosis, dan penyakit
penyerta lainnya. |
|||||||||||||||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
|||||||||||||||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan
Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas |
|||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1.
Lemah
2.
Gangguan
penglihatan 3.
Mual
dan muntah 4.
Keluhan
saraf seperti letargi, disorientasi, hemiparesis, kejang atau koma. Secara klinis HHNK sulit
dibedakan dengan ketoasidosis diabetik terutama bila hasil laboratorium
seperti kadar gula darah, keton, dan keseimbangan asam basa belum ada
hasilnya. Untuk menilai kondisi
tersebut maka dapat digunakan acuan, sebagai berikut: 1.
Sering
ditemukan pada usia lanjut, yaitu usia lebih dari 60 tahun, semakin muda
semakin berkurang, dan belum pernah ditemukan pada anak. 2.
Hampir
separuh pasien tidak mempunyai riwayat DM atau diabetes tanpa pengobatan
insulin. 3.
Mempunyai
penyakit dasar lain. Ditemukan 85% pasien HHNK mengidap penyakit ginjal atau
kardiovaskular, pernah ditemukan pada penyakit akromegali, tirotoksikosis,
dan penyakit Cushing. 4.
Sering
disebabkan obat-obatan antara lain Tiazid, Furosemid, Manitol, Digitalis,
Reserpin, Steroid, Klorpromazin, Hidralazin, Dilantin, Simetidin, dan
Haloperidol (neuroleptik). 5.
Mempunyai
faktor pencetus, misalnya penyakit kardiovaskular, aritmia, perdarahan,
gangguan keseimbangan cairan, pankreatitis, koma hepatik, dan operasi. Dari anamnesis keluarga
biasanya faktor penyebab pasien datang ke rumah sakit adalah poliuria,
polidipsia, penurunan berat badan, dan penurunan kesadaran. Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Fisik 1.
Pasien
apatis sampai koma 2.
Tanda-tanda
dehidrasi berat seperti: turgor buruk, mukosa bibir kering, mata cekung,
perabaan ekstremitas yang dingin, denyut nadi cepat dan lemah. 3.
Kelainan
neurologis berupa kejang umum, lokal, maupun mioklonik, dapat juga terjadi
hemiparesis yang bersifat reversible dengan koreksi defisit cairan 4.
2/4 5.
Tidak
ada bau aseton yang tercium dari pernapasan 6.
Tdak
ada pernapasan Kussmaul. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaaan kadar gula
darah Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis Secara klinis dapat
didiagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kadar gula
darah sewaktu Diagnosis Banding Ketoasidosis Diabetik
(KAD), Ensefalopati uremikum, Ensefalopati karena infeksi Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Penanganan kegawatdaruratan
yang diberikan untuk mempertahankan pasien tidak mengalami dehidrasi lebih
lama. Proses rujukan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang
lebih lanjut. Pertolongan pertama
dilayanan tingkat pertama adalah: 1.
Memastikan
jalan nafas lancar dan membantu pernafasan dengan suplementasi oksigen 2.
Memasang
akses infus intravena dan melakukan hidrasi cairan NaCl 0.9 % dengan target
TD sistole > 90 atau produksi urin >0.5 ml/kgbb/jam 3.
Memasang
kateter urin untuk pemantauan cairan 4.
Dapat
diberikan insulin rapid acting bolus intravena atau subkutan sebesar
180 mikrounit/kgBB Komplikasi Oklusi vakular, Infark
miokard, Low-flow syndrome, DIC, Rabdomiolisis Konseling dan Edukasi
3/4 Rencana Tindak Lanjut Pemeriksaan tanda vital dan
gula darah perjam Kriteria Rujukan Pasien harus dirujuk ke
layanan sekunder (spesialis penyakit dalam) setelah mendapat terapi rehidrasi
cairan. Peralatan Laboratorium untuk
pemeriksaan glukosa darah Prognosis Prognosis biasanya buruk, sebenarnya
kematian pasien bukan disebabkan oleh sindrom hiperosmolar sendiri tetapi
oleh penyakit yang mendasari atau menyertainya. |
|||||||||||||||||||||||||
|
6.
Bagan Alir |
|
|||||||||||||||||||||||||
7.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
|||||||||||||||||||||||||
|
8.
Rekaman Historis Perubahan |
|
|||||||||||||||||||||||||
4/4


No comments:
Post a Comment