|
47 Dinkes Kab Defgh |
GASTRITIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Gastritis adalah proses
inflamasi pada lapisan
mukosa dan submukosa lambung
sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau
bahan iritan lain. Proses inflamasi dapat bersifat akut, kronis, difus, atau
lokal. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaanpasien dengan
gastritis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien
datang ke dokter karena rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut
bagian atas. Keluhan mereda atau memburuk bila diikuti dengan makan, mual,
muntah dan kembung. Faktor risiko a. Pola
makan yang tidak baik: waktu makan terlambat, jenis makanan pedas, porsi
makan yang besar b. Sering
minum kopi dan teh c. Infeksi
bakteri atau parasit d. Pengunaan
obat analgetik dan steroid e. Usia
lanjut f. Alkoholisme
g. Stress
h. Penyakit
lainnya, seperti: penyakit refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS, Chron
disease . Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)
Pemeriksaan
Fisik Pemeriksaan Fisik Patognomonis 1.
Nyeri tekan epigastrium dan bising usus meningkat. 2.
Bila terjadi proses inflamasi berat, dapat ditemukan pendarahan saluran cerna
berupa hematemesis dan melena. 3.
Biasanya pada pasien dengan gastritis kronis, konjungtiva tampak anemis. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan, kecuali pada gastritis kronis
dengan melakukan pemeriksaan: 1.
Darah rutin. 2.
Untuk mengetahui infeksi Helicobacter pylori: pemeriksaanUreabreath
test dan feses. 3. Rontgen
dengan barium enema. 4.
Endoskopi Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis
Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Untuk diagnosis definitif dilakukan pemeriksaan penunjang. Diagnosis
Banding a. Kolesistitis
b. Kolelitiasis
c. Chron
disease d. Kanker
lambung e. Gastroenteritis
f. Limfoma
g. Ulkus
peptikum h. Sarkoidosis
i. GERD
Komplikasi a. Pendarahan
saluran cerna bagian atas b. Ulkus
peptikum c. Perforasi
lambung d. Anemia
. Penatalaksanaan
Terapi
diberikan per oral dengan obat, antara lain: H2 Bloker 2x/hari (Ranitidin 150
mg/kali, Famotidin 20 mg/kali, Simetidin 400-800mg/kali), PPI 2x/hari
(Omeprazol 20 mg/kali, Lansoprazol 30 mg/kali), serta Antasida dosis 3 x
500-1000 mg/hari. Konseling dan
Edukasi Menginformasikan
kepada pasien untuk menghindari pemicu terjadinya keluhan, antara lain dengan
makan tepat waktu, makan sering dengan porsi kecil dan hindari dari makanan
yang meningkatkan asam lambung atau perut kembung seperti kopi, teh, makanan
pedas dan kol. Kriteria
Rujukan 1. Bila 5 hari
pengobatan belum ada perbaikan. 2. Terjadi
komplikasi. 3. terdapat
alarm symptoms |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment