|
50 Dinkes Kab Defgh |
DEMAM
TIFOID |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Demam tifoid banyak ditemukan di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan.
Penyakit ini erat kaitannya dengan kualitas higiene pribadi dan sanitasi
lingkungan yang kurang baik. Di Indonesia bersifat endemik dan merupakan
masalah kesehatan masyarakat. Dari telaah kasus di rumah sakit besar di
Indonesia, tersangka demam tifoid menunjukkan kecenderungan meningkat dari
tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka
kematian antara 0.6–5% (KMK,
2006). Selain tingkat
insiden yang tinggi, demam tifoid terkait dengan
berbagai aspek permasalahan lain, misalnya:
akurasi diagnosis, resistensi antibiotik dan
masih rendahnya cakupan vaksinasi demam tifoid. |
|||||||||||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan demam
tifoid |
|||||||||||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
|||||||||||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan 1.
Demam turun naik terutama sore dan malam hari dengan pola intermiten dan
kenaikan suhu step-ladder. Demam tinggi dapatterjadi terus menerus
(demam kontinu) hingga minggu kedua. 2.
Sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan di area frontal 3.
Gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan meteorismus atau diare, mual,
muntah, nyeri abdomen dan BAB berdarah 4.
Gejala penyerta lain, seperti nyeri otot dan pegal-pegal, batuk, anoreksia,
insomnia 5.
Pada demam tifoid berat, dapat dijumpai penurunan kesadaran atau kejang. Faktor Risiko 1.
Higiene personal yang kurang baik, terutama jarang mencuci tangan. 2.
Higiene makanan dan minuman yang kurang baik, misalnya makanan yang dicuci
dengan air yang terkontaminasi, sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia,
makanan yang tercemar debu atau sampah atau dihinggapi lalat. 3.
Sanitasi lingkungan yang kurang baik. 4.
Adanya outbreak demam tifoid di sekitar tempat tinggal sehari-hari. 5.
Adanya carrier tifoid di sekitar pasien. 6.
Kondisi imunodefisiensi. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan
Fisik 1.
Keadaan umum biasanya tampak sakit sedang atau sakit berat. 2.
Kesadaran: dapat compos mentis atau penurunan kesadaran (mulai dari
yang ringan, seperti apatis, somnolen, hingga yang berat misalnya delirium
atau koma) 3.
Demam, suhu > 37,5oC. 4.
Dapat ditemukan bradikardia relatif, yaitu penurunan frekuensi nadi sebanyak
8 denyut per menit setiap kenaikan suhu 1oC. 5.
Ikterus 6.
Pemeriksaan mulut: typhoid tongue, tremor lidah, halitosis 7.
Pemeriksaan abdomen: nyeri (terutama regio epigastrik), hepatosplenomegali 8.
Delirium pada kasus yang berat Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut 1.
Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran
seperti berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi somnolen dan koma
atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain syndrome). 2.
Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol. 3.
Nyeri perut dengan tanda-tanda akut abdomen Pemeriksaan Penunjang 1. Darah
perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis Dapat
menunjukkan: leukopenia / leukositosis / jumlah leukosit normal, limfositosis
relatif, monositosis, trombositopenia (biasanya ringan), anemia. 2.
Serologi a. IgM antigen
O9 Salmonella thypi (Tubex-TF)® · Hanya
dapat mendeteksi antibody IgM Salmonella typhi · Dapat
dilakukan pada 4-5 hari pertama demam b. Enzyme
Immunoassay test (Typhidot®) · Dapat
mendeteksi IgM dan IgG Salmonella typhi · Dapat
dilakukan pada 4-5 hari pertama demam c. Tes Widal
tidak direkomendasi · Dilakukan
setelah demam berlangsung 7 hari. · Interpretasi
hasil positif bila titer aglutinin O minimal 1/320 atau terdapat kenaikan
titer hingga 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5 – 7 hari. · Hasil
pemeriksaan Widal positif palsu sering terjadi oleh karena reaksi silang
dengan non-typhoidal Salmonella, enterobacteriaceae, daerah
endemis infeksi dengue dan malaria, riwayat imunisasi tifoid dan preparat
antigen komersial yang bervariasi dan standaridisasi kurang baik. Oleh karena
itu, pemeriksaan Widal tidak direkomendasi jika hanya dari 1 kali pemeriksaan
serum akut karena terjadinya positif palsu tinggi yang dapat mengakibatkan over-diagnosis
dan over-treatment. 3. Kultur Salmonella typhi (gold standard) Dapat
dilakukan pada spesimen: a. Darah : Pada minggu pertama sampai akhir minggu ke-2 sakit, saat demam
tinggi b. Feses : Pada minggu kedua sakit c. Urin: Pada minggu kedua atau ketiga sakit d. Cairan empedu : Pada stadium lanjut penyakit,
untuk mendeteksi carriertyphoid 4. Pemeriksaan penunjang lain sesuai
indikasi klinis, misalnya: SGOT/SGPT, kadar lipase dan amilase Penegakan Diagnosis (Assessment) Suspek demam tifoid (Suspect case) Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan
gejala demam, gangguan saluran cerna dan petanda gangguan kesadaran.
Diagnosis suspek tifoid hanya dibuat pada fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama. Demam tifoid klinis (Probable case) Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran
laboratorium yang menunjukkan tifoid. Diagnosis Banding Demam berdarah dengue, Malaria, Leptospirosis,
infeksi saluran kemih, Hepatitis A, sepsis, Tuberkulosis milier, endokarditis
infektif, demam rematik akut, abses dalam, demam yang berhubungan dengan
infeksi HIV. Komplikasi Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam.
Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi usus, sepsis, ensefalopati, dan
infeksi organ lain. 1. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati) Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas
tinggi yang disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai
dari delirium sampai koma. 2. Syok septik Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta
gejala-gejala toksemia yang berat. Selain itu, terdapat gejala gangguan
hemodinamik seperti tekanan darah turun, nadi halus dan cepat, keringat
dingin dan akral dingin. 3. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)
Komplikasi perdarahan ditandai denganhematoschezia.
Dapat juga diketahui dengan pemeriksaan feses (occult blood test).
Komplikasi ini ditandai dengan gejala akut abdomen dan peritonitis. Pada foto
polos abdomen 3 posisi dan pemeriksaan klinis bedah didapatkan gas bebas
dalam rongga perut. 4. Hepatitis tifosa Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan
tes fungsi hati. 5. Pankreatitis tifosa Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan
enzim lipase dan amilase. Tanda ini dapat dibantu dengan USG atau CT Scan. 6. Pneumonia Didapatkan tanda pneumonia yang diagnosisnya dibantu
dengan foto polos toraks Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan: a. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan
mobilisasi b. Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat
diberikan secara oral maupun parenteral. c. Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup
kalori dan protein, rendah serat. d. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas e. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah,
nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien 2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam
(antipiretik) dan mengurangi keluhan gastrointestinal. 3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik.
Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin
atau Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau
Trimetroprim-sulfametoxazole (Kotrimoksazol). 4. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama
dinilai tidak efektif, dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih
antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson, Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan
untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang). Tabel Antibiotik dan dosis penggunan untuk tifoid
|
|||||||||||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
|||||||||||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment