MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP DEMAM TIFOID

 

50

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

DEMAM TIFOID

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Demam tifoid banyak ditemukan di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini erat kaitannya dengan kualitas higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Di Indonesia bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari telaah kasus di rumah sakit besar di Indonesia, tersangka demam tifoid menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka kematian antara  0.6–5%  (KMK,  2006).  Selain  tingkat  insiden  yang  tinggi, demam tifoid terkait dengan berbagai aspek permasalahan lain, misalnya:   akurasi   diagnosis,   resistensi   antibiotik   dan   masih rendahnya cakupan vaksinasi demam tifoid.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan demam tifoid

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

1. Demam turun naik terutama sore dan malam hari dengan pola intermiten dan kenaikan suhu step-ladder. Demam tinggi dapatterjadi terus menerus (demam kontinu) hingga minggu kedua.

2. Sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan di area frontal

3. Gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan meteorismus atau diare, mual, muntah, nyeri abdomen dan BAB berdarah

4. Gejala penyerta lain, seperti nyeri otot dan pegal-pegal, batuk, anoreksia, insomnia

5. Pada demam tifoid berat, dapat dijumpai penurunan kesadaran atau kejang.

 

Faktor Risiko

1. Higiene personal yang kurang baik, terutama jarang mencuci tangan.

2. Higiene makanan dan minuman yang kurang baik, misalnya makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi, sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia, makanan yang tercemar debu atau sampah atau dihinggapi lalat.

3. Sanitasi lingkungan yang kurang baik.

4. Adanya outbreak demam tifoid di sekitar tempat tinggal sehari-hari.

5. Adanya carrier tifoid di sekitar pasien.

6. Kondisi imunodefisiensi.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum biasanya tampak sakit sedang atau sakit berat.

2. Kesadaran: dapat compos mentis atau penurunan kesadaran (mulai dari yang ringan, seperti apatis, somnolen, hingga yang berat misalnya delirium atau koma)

3. Demam, suhu > 37,5oC.

4. Dapat ditemukan bradikardia relatif, yaitu penurunan frekuensi nadi sebanyak 8 denyut per menit setiap kenaikan suhu 1oC.

5. Ikterus

6. Pemeriksaan mulut: typhoid tongue, tremor lidah, halitosis

7. Pemeriksaan abdomen: nyeri (terutama regio epigastrik), hepatosplenomegali

8. Delirium pada kasus yang berat

 

Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut

1. Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran seperti berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi somnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain syndrome).

2. Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol.

3. Nyeri perut dengan tanda-tanda akut abdomen

 

Pemeriksaan Penunjang

1.  Darah perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis

Dapat menunjukkan: leukopenia / leukositosis / jumlah leukosit normal, limfositosis relatif, monositosis, trombositopenia (biasanya ringan), anemia.

2. Serologi

a. IgM antigen O9 Salmonella thypi (Tubex-TF)®

·  Hanya dapat mendeteksi antibody IgM Salmonella typhi

·  Dapat dilakukan pada 4-5 hari pertama demam

b. Enzyme Immunoassay test (Typhidot®)

·  Dapat mendeteksi IgM dan IgG Salmonella typhi

·  Dapat dilakukan pada 4-5 hari pertama demam

c. Tes Widal tidak direkomendasi

·  Dilakukan setelah demam berlangsung 7 hari.

·  Interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O minimal 1/320 atau terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5 – 7 hari.

·  Hasil pemeriksaan Widal positif palsu sering terjadi oleh karena reaksi silang dengan non-typhoidal Salmonella, enterobacteriaceae, daerah endemis infeksi dengue dan malaria, riwayat imunisasi tifoid dan preparat antigen komersial yang bervariasi dan standaridisasi kurang baik. Oleh karena itu, pemeriksaan Widal tidak direkomendasi jika hanya dari 1 kali pemeriksaan serum akut karena terjadinya positif palsu tinggi yang dapat mengakibatkan over-diagnosis dan over-treatment. 3. Kultur Salmonella typhi (gold standard)

Dapat dilakukan pada spesimen:

a. Darah : Pada minggu pertama sampai akhir minggu ke-2 sakit, saat demam tinggi

b. Feses : Pada minggu kedua sakit

c. Urin: Pada minggu kedua atau ketiga sakit

d. Cairan empedu : Pada stadium lanjut penyakit, untuk mendeteksi carriertyphoid 4. Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi klinis, misalnya: SGOT/SGPT, kadar lipase dan amilase

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Suspek demam tifoid (Suspect case)

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam, gangguan saluran cerna dan petanda gangguan kesadaran. Diagnosis suspek tifoid hanya dibuat pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

 

Demam tifoid klinis (Probable case)

Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.

 

Diagnosis Banding

Demam berdarah dengue, Malaria, Leptospirosis, infeksi saluran kemih, Hepatitis A, sepsis, Tuberkulosis milier, endokarditis infektif, demam rematik akut, abses dalam, demam yang berhubungan dengan infeksi HIV.

 

 

Komplikasi

Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi usus, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ lain.

1. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati)

Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari delirium sampai koma.

2. Syok septik

Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala toksemia yang berat. Selain itu, terdapat gejala gangguan hemodinamik seperti tekanan darah turun, nadi halus dan cepat, keringat dingin dan akral dingin.

3. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)

Komplikasi perdarahan ditandai denganhematoschezia. Dapat juga diketahui dengan pemeriksaan feses (occult blood test). Komplikasi ini ditandai dengan gejala akut abdomen dan peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan pemeriksaan klinis bedah didapatkan gas bebas dalam rongga perut.

4. Hepatitis tifosa

Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.

5. Pankreatitis tifosa

Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan amilase. Tanda ini dapat dibantu dengan USG atau CT Scan.

6. Pneumonia

Didapatkan tanda pneumonia yang diagnosisnya dibantu dengan foto polos toraks

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan:

a. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi

b. Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan secara oral maupun parenteral.

c. Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan protein, rendah serat.

d. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas

e. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien

2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi keluhan gastrointestinal.

3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau Trimetroprim-sulfametoxazole (Kotrimoksazol).

4. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson, Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).

 

Tabel Antibiotik dan dosis penggunan untuk tifoid

ANTIBIOTIKA

DOSIS

KETERANGAN

Kloramfeni-kol

Dewasa: 4x500 mg selama 10 hari

Anak 100 mg/kgBB/hari, per oral atau intravena, dibagi 4 dosis, selama 10-14 hari

Merupakan obat yang sering digunakan dan telah lama dikenal efektif untuk tifoid

Murah dan dapat diberikan peroral serta sensitivitas masih tinggi

Pemberian PO/IV

Tidak diberikan bila lekosit <2000/mm3

Seftriakson

Dewasa: 2-4gr/hari selama 3-5 hari

Anak: 80 mg/kgBB/hari, IM atau IV, dosis tunggal selama 5 hari

Cepat menurunkan suhu, lama pemberian pendek dan dapat dosis tunggal serta cukup aman untuk anak.

Pemberian PO/IV

 

 

 

Ampisilin & Amoksisilin

 

 

 

 

 

Kotrimok-sazole (TMP-SMX)

 

 

 

Kuinolon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sefiksim

 

 

 

Thiamfenikol

 

 

 

 

 

 

Dewasa: (1.5-2) gr/hr selama 7-10 hari

Anak: 100 mg/kgbb/hari per oral atau intravena, dibagi 3 dosis, selama 10 hari.

 Dewasa: 2x(160-800) selama 7-10 hari

Anak: Kotrimoksazol 4-6 mg/kgBB/hari, per oral, dibagi 2 dosis, selama 10 hari.

Ciprofloxacin 2x500 mg selama 1 minggu

Ofloxacin 2x(200-400) selama 1 minggu

 

 

 

 

 

 

 

Anak: 20 mg/kgBB/hari, per oral, dibagi menjadi 2 dosis, selama 10 hari

Dewasa: 4x500 mg/hari

Anak: 50 mg/kgbb/hari selama 5-7 hari bebas panas

 

 

Aman untuk penderita hamil

Sering dikombinasi dengan kloramfenikol pada pasien kritis

Tidak mahal

Pemberian PO/IV 

Tidak mahal

Pemberian per oral

 

 

 

 

Pefloxacin dan Fleroxacin lebih cepat menurunkan suhu

Efektif mencegah relaps dan kanker

Pemberian peroral

Pemberian pada anak tidak dianjurkan karena efek samping pada pertumbuhan tulang

Aman untuk anak

Efektif

Pemberian per oral

 

Dapat dipakai untuk anak dan dewasa

Dilaporkan cukup sensitif pada beberapa daerah

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment