MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, October 1, 2026

SOP PENANGANAN PERITONITIS


 

SOP PENANGANAN PERITONITIS

A. IDENTITAS DOKUMEN

KomponenKeterangan
Nama Fasilitas Kesehatan................................................
Judul SOPPenanganan Peritonitis
No. Dokumen................................................
No. Revisi................................................
Tanggal Terbit................................................
Halaman................................................
Unit/PoliRuang Tindakan / UGD / Pelayanan Klinis
Disusun oleh................................................
Diperiksa oleh................................................
Disahkan olehKepala Fasilitas Kesehatan

B. KATA KUNCI SEO

Kata Kunci Utama

  • SOP peritonitis

  • SOP penanganan peritonitis

  • SOP peritonitis Puskesmas

  • SOP peritonitis FKTP

  • penatalaksanaan peritonitis

Kata Kunci Turunan

  • gejala peritonitis

  • tanda peritonitis

  • peritonitis akut

  • peritonitis generalisata

  • peritonitis lokal

  • nyeri perut akut

  • abdomen akut

  • SOP rujukan peritonitis

  • SOP kegawatdaruratan peritonitis

  • infeksi rongga peritoneum


1. PENGERTIAN

Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun kondisi lain, dan sering berkaitan dengan proses intraabdomen seperti perforasi saluran cerna, apendisitis, divertikulitis, kebocoran organ, atau kontaminasi rongga peritoneum.

Peritonitis dapat bersifat:

  1. Primer, yaitu infeksi peritoneum tanpa adanya sumber intraabdomen yang jelas, misalnya pada kondisi tertentu seperti asites yang terinfeksi.

  2. Sekunder, yaitu akibat proses patologis intraabdomen, misalnya perforasi atau kebocoran organ.

  3. Tersier, yaitu infeksi peritoneum yang menetap atau berulang setelah penanganan infeksi intraabdomen sebelumnya.

Peritonitis dapat berkembang menjadi sepsis, syok, kegagalan organ, dan kematian, sehingga pasien dengan kecurigaan peritonitis memerlukan penilaian segera dan sering kali membutuhkan rujukan ke rumah sakit.


2. TUJUAN

2.1 Tujuan Umum

Menjadi pedoman bagi tenaga kesehatan dalam melakukan identifikasi dini, penilaian kegawatan, stabilisasi awal, monitoring, dan rujukan pasien dengan dugaan peritonitis secara cepat, aman, dan terstandar.

2.2 Tujuan Khusus

  1. Mengenali tanda dan gejala peritonitis.

  2. Mengidentifikasi kondisi yang berpotensi mengancam jiwa.

  3. Menilai kemungkinan sepsis dan syok.

  4. Melakukan stabilisasi awal sesuai kewenangan fasilitas.

  5. Mengidentifikasi kemungkinan penyebab.

  6. Mencegah keterlambatan rujukan.

  7. Mendokumentasikan pemeriksaan dan tindakan.

  8. Memastikan kesinambungan pelayanan di fasilitas rujukan.


3. KEBIJAKAN

  1. Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangan klinis.

  2. Pasien dengan dugaan peritonitis harus mendapatkan penilaian klinis segera.

  3. Prioritas awal adalah penilaian ABCDE, status hemodinamik, dan tanda sepsis.

  4. Pasien dengan kecurigaan peritonitis akut, terutama akibat kemungkinan perforasi atau sumber infeksi intraabdomen, harus mendapatkan konsultasi dan/atau rujukan segera.

  5. Antibiotik diberikan berdasarkan indikasi klinis, kewenangan tenaga medis, formularium, dan protokol fasilitas.

  6. Tindakan definitif terhadap sumber infeksi dapat berupa tindakan bedah atau intervensi lain sesuai penyebab dan harus dilakukan di fasilitas yang memiliki kemampuan tersebut.

  7. Pemeriksaan penunjang tidak boleh menyebabkan keterlambatan resusitasi atau rujukan pasien yang tidak stabil.

  8. Semua tindakan dan respons pasien wajib didokumentasikan.


4. PETUGAS

  • Dokter.

  • Perawat.

  • Petugas laboratorium bila tersedia.

  • Petugas farmasi.

  • Petugas ambulans/rujukan.

  • Tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan.


5. INDIKASI

SOP ini digunakan pada pasien dengan kecurigaan:

  • Peritonitis.

  • Nyeri abdomen akut dengan tanda iritasi peritoneum.

  • Abdomen akut.

  • Dugaan perforasi organ intraabdomen.

  • Infeksi intraabdomen dengan kondisi umum memburuk.

  • Nyeri perut disertai demam dan tanda inflamasi.

  • Nyeri abdomen disertai tanda sepsis.


6. PENYEBAB YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN

Penyebab peritonitis dapat meliputi:

  1. Perforasi apendisitis.

  2. Perforasi ulkus peptikum.

  3. Perforasi usus.

  4. Divertikulitis dengan komplikasi.

  5. Kebocoran saluran gastrointestinal.

  6. Infeksi intraabdomen.

  7. Kebocoran empedu atau cairan gastrointestinal.

  8. Komplikasi pascaoperasi.

  9. Infeksi peritoneum pada pasien dengan asites.

  10. Trauma abdomen.

  11. Kondisi ginekologis tertentu.

  12. Penyebab lain sesuai hasil evaluasi klinis.


7. ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara cepat dan terarah.

7.1 Keluhan Utama

Tanyakan:

  • Lokasi nyeri perut.

  • Awal munculnya nyeri.

  • Lama nyeri.

  • Perkembangan nyeri.

  • Apakah nyeri semakin berat?

  • Apakah nyeri menyebar?

  • Apakah nyeri bertambah saat bergerak atau batuk?

7.2 Gejala Penyerta

Tanyakan:

  • Demam.

  • Mual.

  • Muntah.

  • Tidak dapat makan/minum.

  • Perut kembung.

  • Tidak dapat BAB.

  • Tidak dapat buang gas.

  • Diare.

  • Konstipasi.

  • Penurunan kesadaran.

  • Lemas.

  • Sesak.

  • Berkurangnya produksi urine.

7.3 Riwayat Penyakit

Tanyakan:

  • Riwayat penyakit lambung.

  • Riwayat apendisitis.

  • Riwayat penyakit usus.

  • Riwayat divertikulitis.

  • Riwayat penyakit hati.

  • Riwayat asites.

  • Riwayat operasi abdomen.

  • Riwayat trauma abdomen.

  • Riwayat penyakit kronis.

  • Riwayat infeksi sebelumnya.

7.4 Riwayat Obat

Identifikasi:

  • Obat antiinflamasi/NSAID.

  • Kortikosteroid.

  • Antikoagulan.

  • Antibiotik yang baru digunakan.

  • Obat lain yang relevan.


8. PEMERIKSAAN FISIK

8.1 Pemeriksaan Umum

Nilai:

  • Kondisi umum.

  • Kesadaran.

  • Tanda dehidrasi.

  • Warna kulit.

  • Suhu.

  • Tanda hipoperfusi.

8.2 Tanda Vital

Ukur:

  • Tekanan darah.

  • Nadi.

  • Frekuensi napas.

  • Suhu.

  • Saturasi oksigen bila tersedia.

8.3 Pemeriksaan Abdomen

Lakukan secara sistematis:

  1. Inspeksi.

  2. Auskultasi bila diperlukan.

  3. Palpasi.

  4. Penilaian tanda iritasi peritoneum sesuai kompetensi klinis.

Temuan yang dapat mendukung kecurigaan antara lain:

  • Nyeri tekan.

  • Nyeri yang menyeluruh atau terlokalisasi.

  • Defans muskular.

  • Abdomen kaku.

  • Nyeri yang bertambah dengan pergerakan.

  • Distensi abdomen.

  • Perubahan bising usus.

Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan kondisi pasien.


9. TANDA BAHAYA

Pasien memerlukan penanganan segera apabila ditemukan:

  • Nyeri abdomen berat.

  • Abdomen kaku atau tanda iritasi peritoneum.

  • Penurunan tekanan darah.

  • Takikardia.

  • Napas cepat.

  • Penurunan kesadaran.

  • Tanda hipoperfusi.

  • Demam atau hipotermia disertai kondisi umum memburuk.

  • Oliguria.

  • Muntah terus-menerus.

  • Distensi abdomen berat.

  • Dugaan perforasi organ.

  • Tanda sepsis atau syok.


10. PENILAIAN SEPSIS

Pada pasien dengan infeksi atau dugaan infeksi, lakukan penilaian terhadap kemungkinan disfungsi organ.

Perhatikan:

  • Gangguan kesadaran.

  • Hipotensi.

  • Takipnea.

  • Hipoksemia.

  • Oliguria.

  • Gangguan perfusi.

  • Kondisi umum yang memburuk.

Bila tersedia, pemeriksaan laboratorium dapat membantu penilaian, tetapi jangan menunda resusitasi atau rujukan hanya karena menunggu hasil pemeriksaan.


11. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Sesuai kemampuan fasilitas, pemeriksaan dapat meliputi:

  • Darah lengkap.

  • Hemoglobin.

  • Leukosit.

  • Trombosit.

  • Elektrolit.

  • Ureum dan kreatinin.

  • Glukosa darah.

  • Pemeriksaan fungsi hati sesuai indikasi.

  • CRP atau pemeriksaan inflamasi lainnya bila tersedia.

  • Laktat bila tersedia dan sesuai indikasi.

  • Pemeriksaan urine.

  • Pemeriksaan kehamilan pada pasien yang berpotensi hamil sesuai indikasi.

  • Pemeriksaan radiologi sesuai fasilitas.

Di rumah sakit, pemeriksaan seperti CT abdomen atau modalitas pencitraan lain dapat digunakan sesuai kondisi dan kecurigaan diagnosis.


12. PENATALAKSANAAN AWAL

12.1 Penilaian ABCDE

A – Airway

Pastikan jalan napas adekuat.

B – Breathing

Nilai:

  • Frekuensi napas.

  • Saturasi oksigen.

  • Tanda distress pernapasan.

Berikan oksigen bila terdapat indikasi klinis sesuai protokol fasilitas.

C – Circulation

Nilai:

  • Tekanan darah.

  • Nadi.

  • Perfusi perifer.

  • Status cairan.

Pada pasien dengan gangguan sirkulasi, lakukan resusitasi cairan sesuai kondisi klinis dan protokol fasilitas.

D – Disability

Nilai:

  • Kesadaran.

  • Status neurologis.

  • Tanda hipoperfusi otak.

E – Exposure

Lakukan pemeriksaan menyeluruh yang relevan dengan tetap menjaga privasi dan kenyamanan pasien.


13. AKSES INTRAVENA DAN RESUSITASI

Pada pasien yang membutuhkan stabilisasi:

  1. Siapkan akses intravena sesuai kompetensi.

  2. Berikan cairan intravena sesuai kondisi klinis.

  3. Pantau respons terhadap terapi.

  4. Evaluasi tekanan darah, nadi, kesadaran, perfusi, dan produksi urine.

  5. Hindari pemberian cairan secara berlebihan tanpa evaluasi respons dan kondisi klinis.

Pada pasien yang mengalami syok atau sepsis, penatalaksanaan harus mengikuti protokol kegawatdaruratan dan sepsis yang berlaku.


14. TERAPI ANTIMIKROBA

Pada dugaan infeksi intraabdomen yang memerlukan antibiotik, dokter menentukan pilihan terapi berdasarkan:

  • Sumber infeksi yang dicurigai.

  • Tingkat keparahan.

  • Faktor risiko resistensi.

  • Alergi obat.

  • Fungsi ginjal dan hati.

  • Pola resistensi lokal bila tersedia.

  • Formularium fasilitas.

  • Pedoman klinis yang berlaku.

Pada kondisi yang memerlukan source control, antibiotik tidak menggantikan tindakan definitif terhadap sumber infeksi.


15. SOURCE CONTROL

Peritonitis akibat sumber intraabdomen seperti perforasi atau kebocoran organ dapat memerlukan source control.

Source control dapat berupa:

  • Tindakan pembedahan.

  • Drainase.

  • Intervensi radiologi.

  • Tindakan lain sesuai penyebab.

FKTP umumnya tidak melakukan tindakan definitif tersebut sehingga pasien dengan dugaan peritonitis memerlukan rujukan ke fasilitas yang memiliki kemampuan bedah dan perawatan lanjutan.


16. NYERI DAN GEJALA PENYERTA

Penanganan nyeri dilakukan secara tepat sesuai kondisi pasien dan kewenangan klinis.

Perlu diperhatikan:

  • Pilihan analgesik.

  • Kondisi hemodinamik.

  • Fungsi ginjal dan hati.

  • Riwayat alergi.

  • Kemungkinan penyebab nyeri.

  • Risiko penggunaan NSAID pada pasien tertentu.

Pemberian analgesik yang tepat tidak boleh menjadi alasan untuk menunda evaluasi kegawatan atau rujukan.


17. MAKAN DAN MINUM

Pada pasien dengan dugaan abdomen akut yang mungkin memerlukan tindakan bedah, status makan/minum ditentukan berdasarkan penilaian dokter dan rencana rujukan.

Pasien dapat dianjurkan untuk tidak makan/minum sementara apabila terdapat kemungkinan tindakan emergensi dan hal tersebut sesuai dengan instruksi klinis tenaga kesehatan.


18. KRITERIA RUJUKAN SEGERA

Rujuk segera ke rumah sakit apabila:

  1. Terdapat tanda iritasi peritoneum.

  2. Diduga terjadi perforasi organ.

  3. Nyeri abdomen berat atau progresif.

  4. Abdomen kaku.

  5. Terdapat tanda sepsis.

  6. Terdapat syok atau gangguan hemodinamik.

  7. Penurunan kesadaran.

  8. Muntah terus-menerus.

  9. Distensi abdomen berat.

  10. Tidak dapat mempertahankan kondisi melalui pelayanan FKTP.

  11. Memerlukan pemeriksaan pencitraan atau tindakan bedah.

  12. Memerlukan observasi intensif.

  13. Terdapat kondisi lain yang menurut dokter membutuhkan penanganan rumah sakit.


19. PEMANTAUAN SEBELUM RUJUKAN

Pantau:

  • Tekanan darah.

  • Nadi.

  • Frekuensi napas.

  • Saturasi oksigen.

  • Suhu.

  • Kesadaran.

  • Nyeri.

  • Tanda hipoperfusi.

  • Respons terhadap terapi.

  • Muntah dan kondisi abdomen.

  • Produksi urine bila dapat dinilai.

Perubahan kondisi harus segera didokumentasikan dan dikomunikasikan kepada fasilitas penerima.


20. EDUKASI PASIEN DAN KELUARGA

Jelaskan bahwa:

  1. Peritonitis dapat merupakan kondisi serius.

  2. Penyebabnya perlu ditentukan secara cepat.

  3. Sebagian kasus memerlukan pemeriksaan dan tindakan di rumah sakit.

  4. Rujukan tidak boleh ditunda bila terdapat tanda kegawatan.

  5. Keluarga harus memberikan informasi mengenai penyakit dan obat yang sedang digunakan.

  6. Pasien tidak dianjurkan melakukan pengobatan sendiri untuk menutupi gejala.

  7. Setelah pulang atau mendapatkan terapi, pasien harus segera kembali bila nyeri bertambah, demam, muntah berulang, lemas berat, atau terjadi penurunan kesadaran.


21. KOMPLIKASI

Komplikasi peritonitis dapat meliputi:

  • Sepsis.

  • Syok septik.

  • Abses intraabdomen.

  • Ileus.

  • Gangguan elektrolit.

  • Gagal ginjal akut.

  • Kegagalan organ multipel.

  • Perlengketan intraabdomen.

  • Peritonitis berulang.

  • Kematian.


22. DOKUMENTASI

Dokumentasikan:

  1. Identitas pasien.

  2. Waktu kedatangan.

  3. Keluhan utama.

  4. Riwayat penyakit.

  5. Riwayat operasi/trauma.

  6. Riwayat penggunaan obat.

  7. Hasil pemeriksaan fisik.

  8. Tanda vital.

  9. Status kesadaran.

  10. Hasil pemeriksaan abdomen.

  11. Hasil pemeriksaan penunjang.

  12. Diagnosis kerja.

  13. Terapi yang diberikan.

  14. Respons terhadap terapi.

  15. Alasan rujukan.

  16. Fasilitas tujuan.

  17. Kondisi pasien sebelum transfer.

  18. Petugas pendamping.

  19. Waktu keberangkatan.

  20. Serah terima pasien.


23. INDIKATOR MUTU

Contoh indikator:

No.IndikatorTarget
1Pasien dugaan peritonitis dilakukan penilaian ABCDE100%
2Tanda vital terdokumentasi100%
3Pemeriksaan abdomen terdokumentasi≥95%
4Tanda bahaya/sepsis dinilai≥95%
5Pasien dengan indikasi rujukan mendapatkan rujukan sesuai kondisi100%
6Kondisi pasien sebelum rujukan terdokumentasi100%
7Serah terima pasien kepada fasilitas penerima terdokumentasi100%

Target dapat disesuaikan dengan indikator mutu internal fasilitas.


24. UNIT TERKAIT

  • Poli umum.

  • Ruang tindakan/UGD.

  • Laboratorium.

  • Farmasi.

  • Unit rujukan.

  • Ambulans.

  • Rumah sakit rujukan.

  • Dokter spesialis bedah.

  • Dokter spesialis penyakit dalam sesuai penyebab.


25. DOKUMEN TERKAIT

  • Rekam medis.

  • Formulir triase.

  • Formulir observasi.

  • Formulir rujukan.

  • SOP kegawatdaruratan.

  • SOP penanganan sepsis.

  • SOP penggunaan ambulans.

  • SOP komunikasi efektif.

  • SOP serah terima pasien.

  • Daftar obat/formularium fasilitas.


26. ALUR SINGKAT SOP

Pasien datang dengan nyeri abdomen akut
↓
Triase
↓
Penilaian ABCDE + tanda vital
↓
Anamnesis dan pemeriksaan abdomen
↓
Identifikasi tanda iritasi peritoneum/sepsis
↓
Stabilisasi awal sesuai kondisi
↓
Pemeriksaan penunjang bila tersedia dan tidak menunda rujukan
↓
Tentukan diagnosis kerja dan tingkat kegawatan
↓
Peritonitis/abdomen akut yang memerlukan fasilitas lebih tinggi?
↓
Ya → Rujuk segera ke rumah sakit
↓
Monitoring selama menunggu dan transportasi
↓
Serah terima pasien
↓
Dokumentasi lengkap


27. CHECKLIST PENANGANAN

☐ Identitas pasien diverifikasi
☐ Keluhan nyeri abdomen dikaji
☐ Riwayat penyakit dan operasi ditanyakan
☐ Riwayat obat ditanyakan
☐ Tanda vital diperiksa
☐ Kesadaran dinilai
☐ Pemeriksaan abdomen dilakukan
☐ Tanda iritasi peritoneum dinilai
☐ Tanda sepsis dinilai
☐ Status hemodinamik dinilai
☐ Akses intravena dipertimbangkan sesuai kondisi
☐ Resusitasi dilakukan bila diperlukan
☐ Pemeriksaan penunjang dilakukan bila tersedia
☐ Terapi sesuai indikasi diberikan
☐ Kriteria rujukan dinilai
☐ Fasilitas rujukan dihubungi sesuai sistem rujukan
☐ Kondisi pasien sebelum transfer didokumentasikan
☐ Surat rujukan dibuat
☐ Serah terima dilakukan
☐ Rekam medis dilengkapi


28. CATATAN KESELAMATAN PASIEN

  1. Peritonitis dapat berkembang menjadi sepsis dan syok.

  2. Pasien dengan abdomen akut dan tanda iritasi peritoneum memerlukan evaluasi segera.

  3. Jangan menunda rujukan untuk pemeriksaan yang tidak tersedia atau tidak mengubah keputusan rujukan.

  4. Stabilisasi dan persiapan rujukan dilakukan secara bersamaan.

  5. Antibiotik tidak menggantikan source control pada infeksi intraabdomen yang memerlukannya.

  6. Hindari pengobatan sendiri yang dapat menunda diagnosis.

  7. Selama transportasi, pasien harus dipantau sesuai tingkat kegawatan.

  8. Semua perubahan kondisi harus disampaikan kepada fasilitas penerima.


29. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN

No.Isi PerubahanTanggalMulai Berlaku
1Dokumen awal........................
2Revisi........................
3Revisi........................

30. REFERENSI

Referensi klinis yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan dan pembaruan SOP antara lain:

  1. World Society of Emergency Surgery (WSES) – pedoman mengenai acute abdomen/intra-abdominal infection.

  2. Surviving Sepsis Campaign – pedoman penanganan sepsis dan syok septik.

  3. Pedoman nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang berlaku.

  4. Pedoman antibiotik dan formularium fasilitas kesehatan yang berlaku.

  5. Protokol kegawatdaruratan dan sistem rujukan fasilitas kesehatan.

Catatan: Referensi harus diperbarui secara berkala mengikuti pedoman nasional dan internasional terbaru serta kebijakan fasilitas.


31. SEO BLOG

Judul SEO

SOP Peritonitis: Penanganan, Tanda Bahaya, Stabilisasi dan Rujukan Pasien

Meta Description

SOP peritonitis lengkap untuk Puskesmas dan FKTP meliputi pengertian, gejala, pemeriksaan abdomen, penilaian sepsis, stabilisasi awal, terapi, kriteria rujukan dan dokumentasi.

Slug

sop-peritonitis-penanganan-dan-rujukan

Keyword Utama

SOP peritonitis

Keyword Pendukung

SOP penanganan peritonitis, peritonitis akut, gejala peritonitis, tanda peritonitis, peritonitis generalisata, abdomen akut, SOP Puskesmas peritonitis, SOP FKTP peritonitis, SOP rujukan peritonitis, penatalaksanaan peritonitis.

POSTINGAN POPULER